
Pukul sembilan malam Alan baru sampai di rumahnya, ia masuk ke kamarnya kemudian berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lima belas menit kemudian telah selesai dan keluar memakai piyama tidurnya.
Alan merebahkan diri di kamarnya matanya menatap langit-langit kamarnya, pikirannya berkelana ke mana-mana. Kemudian ia mengingat sesuatu.
"Kertas itu di mana ya...?"Alan langsung bangkit mencari kertas yang ia ambil dari Vriska tadi siang.
"Aku sungguh penasaran, aku merasa ada sesuatu jika memang itu hanya kontrak kerja sama biasa tidak mungkin Vriska memandangnya dengan sendu"sambungnya.
Alan memasuki kamar mandi lagi, mengambil kertas itu di saku celananya. Setelah menemukannya ia keluar dari situ, kemudian ia mendudukan dirinya di sofa yang berada di kamarnya.
Dengan rasa tidak sabar ia membuka kertas itu, keningnya mengkerut saat pertama membuka ia di suguhkan tulisan yang berlogo rumah sakit.
"Kenapa ada gambar logo rumah sakit..."ucap Alan lalu melanjutkan bacanya.
"Hasil tas laboratorium atas nama Vriska Danu Permana"sambung Alan lalu ia terus melanjutkan bacanya hingga sampai bawah.
Deg....hingga ke bawah di situ di terangkan jika pasien atas nama Vriska menderita penyakit Autonium.
Alan terlonjak kaget rasanya jantungnya ingin lepas "Aautonium lupus, jadi selama ini dia sakit..." Alan berusaha menghela nafasnya.
"Aku tidak mengerti ini penyakit apa, aku harus mencari tau". Alan pun mengambil laptopnya kemudian ia mencari sendiri arti penyakit itu.
Saat sudah menemukannya, "Ya Tuhan malang nasibmu Vriska, kenapa semua harus terjadi padamu, inikah jawaban yang selama ini aku cari-cari" Mata Alan tampak berkaca-kaca.
Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu di ketuk dari luar. "Alan, turunlah nak mama sudah menyiapkan makan malam untukmu..."ucap Mama Merlyn di balik pintu.
Alan menghapus air matanya yang hampir mengalir "iya ma.."sahutnya
πππππ
Alan berjalan sepanjang lorong rumah sakit dengan langkah gontai, ya dia habis menemui dokter yang menangani penyakit Vriska. Tadinya ia berfikir barangkali apa yang ia lihat itu salah, ia juga ingin sedetailnya penyakit itu.
Kata-kata dokter itu terus terngiang-ngiang di kepala. "Awalnya pasien yang menderita penyakit ini akan merasakan kram pada kaki, tangan. Nafsu makan yang tidak jelas, rambut yang rontok, terkadang juga bisa merasa nyeri di bagian perutnya. Jika tidak segera di tangani penyakit ini bisa menyebabkan kelumpuhan.." Alan langsung teringat beberapa kali Vriska merasakan gejala-gejala itu.
"Tuan ada satu hal yang perlu anda tau, penyakit ini bisa membuat pasien mengalami. kesulitan mempunyai keturunan, karena ini mempengaruhi kesuburan pasien"sambung dokter itu.
Alan tersadar dari lamunannya, sungguh ia masih sangat terkejut dengan segala kenyataan yang ia dengar, jika ia saja yang mendengar merasa hancur bagaimana dengan Vriska. Mengapa wanita itu terlihat biasa saja, ia terihat baik-baik saja. Ia mampu menyembunyikan segala rasa sakitnya di balik senyumannya, meski Alan tau dalam hati ia merasa terpuruk.
__ADS_1
Alan bersyukur bisa mengambil kertas itu dari tangan Vriska hingga ia tau segalanya saat ini, ia mengerti apa yang membuat Vriska menjauhi dan menolaknya selama ini. Alan menghela nafasnya.
"Kenapa kau tak jujur saja padaku,"ucapnya
ππππ
"Vriska kau yakin dengan keputusanmu..?"Tanya Lita sembari melihat putrinya yang tengah beberes memasukan baju-bajunya ke dalam koper.
"Tentu ma, aku ingin sembuh.."sahutnya sambil memandang mamanya sejenak.
"Tapi nak, bukankah berobat di sini juga bisa.."tanya Lita
"Aku sudah mencobanya tapi tidak ada perubahan, aku ingin sembuh setidaknya demi mama dan papa.."ucap Vriska
"Tidak demi Alan...."tanya Lita
"Alan..."Vriska langsung teringat Alan,
"Kenapa kau tidak jujur saja padanya nak.."ucap Lita
Vriska menggeleng "Vriska tidak mau ma.."serunya sambil menutup kopernya.
Vriska menggeleng "Tidak ma lebih cepat lebih baik. Aku kesana dengan asistenku ma, mama tenang saja aku akan baik-baik saja.."
"Baiklah, lusa mama dan papa akan menyusulmu, kau harus semangat kau pasti sembuh"seru Lita sambil memeluk putrinya.
"Tentu ma.."sahut Vriska sambil tersenyum manis.
Vriska melepas pelukan dari mamanya "Ya sudah ma aku berangkat"pamit Vriska
Lita mengangguk "ayo mama antar keluar"Lita mengambil alih koper putrinya dan menyeretnya keluar.
Sampai di depan pintu di situ sudah ada asisten Vriska yang bernama Lana sudah menunggu, tidak lupa mobil Vriska yang akan di kendarai oleh sopir keluarganya untuk mengantar Vriska .
"Aku berangkat ma, doakan aku.."pamitnya
"Iya sayang hati-hati.."seru Lita
__ADS_1
Kemudian Vriska memasuki mobilnya dan berlalu pergi.
ππππ
Alan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak memikirkan keselamatannya yang ia pikirkan ia harus cepat sampai di rumah Vriska.
Dua puluh menit kemudian Alan telah samlai di depan rumah Vriska, setelah di bukakan pagar oleh security Alan memasuki mobilnya menunu halaman rumah Vriska.
Ia turun dengan tergesa-gesa, sampai di depan pintu ia memencet bel rumah Vriska. Tidak lama pintu di buka oleh Mamanya Vriska.
"Eh nak Alan, ayo masuk nak.."ucap Lita
"Tante, apa Vriskanya ada. Aku bertemu dengannya bisakah.."tanya Alan
Lita terlonjak kaget ia bingung harus apa jujue atau bohong, tapi ia tidak tega Alan seperti tengah memohon padanya, matanya tampak sendu.
"Ada perlu apa nak Alan.."tanya Lita
"Ada sesuatu yang ingin ku katakan padanya.."sahut Alan
Lita menghela nafasnya sejenak "Alan, Vriska sedang dalam perjalanan menuju bandara"ucap Lita akhirnya ia memilih jujur
"Apa ...."Alan tercengang kaget.
"Dia..."ucapan Lita terpotong, kala melihat Alan langsung berlari meninggalkannya menunu mobilnya. Lita hanya geleng-geleng kepala melihat kepanikan Alan.
Alan terus menambah kecepatan mobilnya sesekali ia akan mengklakson mobil yang tampak menghalangi jalannya. Dalam hatinya ia terus berdoa semoga masih belum terlambat.
Penampilan Alan sudah tampak kacau kemejanya sudah kusut, dasinya sudah tidak beraturan, jas nya sudah tidak pakai, tadi pagi ia berniat untuk ke kantor tapi entah mengapa langkahnya justru membawanya ke rumah sakit di mana Vriska melakukan medical check up.
Kini Alan tengah sampai di loby Bandara Soekarno-Hatta, keluar dari mobil ia mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari Vriska.
πππ
ππkira-kira Alan bakal berhasil mencegah Vriska gak yaππ
ππSelamat membaca, jangan lupa like, komen dan Votenya..ππ
__ADS_1
bersambung..