Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Rasa khawatir


__ADS_3

Saat ini Rava tengah sampai di rumahnya, menelisik setiap sudut rumahnya berharap menemukan keberadaan Dinda di sana.


Setelah tadi berusaha mengejar Dinda namun ia kehilangan jejaknya. Ia pun memutuskan untuk pulang berharap sampainya ia di sana Dinda sudah berada di rumah.


Tidak menemukan Dinda di sana lalu ia berusaha menghubungi nomor handphone Dinda, terdengar suara operator menjawab, berarti nomornya tidak aktif.


Ia meremas rambutnya secara kasar, lalu ia mengingat ucapan Dinda tadi pagi jika ia akan mampir ke rumah mamanya. Seketika ia berniat datang ke rumah mama mertuanya, tapi ia berfikir kembali jika ia datang lalu tidak menemukan Dinda di sana pasti akan menjadi makin runyam. Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon saja.


"Hallo..."suara Rava setelah telphon tersambung.


"........."


"Mama lagi apa ?"tanya Rava


"Mama sehat, oh ya nak kau dan Dinda tidak jadi datang kemari ya."ucap mama Dewi di seberang sana, membuat Rava terkejut itu berarti Dinda tidak berada di sana. Lalu kemanakah ia, seketika pikirannya kacau.


"Ohh aku dan Dinda lelah ma, ia juga sudah tidur, tidak apa-apa kan ma"sahut Rava akhirnya ia memutuskan untuk berbohong..


"Oh ya udah tidak apa-apa. Mama fikir kenapa, firasat mama tidak enak" desah mama Dewi

__ADS_1


Setelah telphone di tutup, mengusap wajahnya dengan kasar, memikirkan keberadaan Dinda saat ini. Jika ke rumah mama Dewi tidak, juga tidak mungkin Dinda ke rumah Mama Imel. Lalu di mana ia saat ini.


Sungguh ia menyesal telah mengingkari janjinya pada Dinda. Melihat kejadian di cafe tadi tentu Dinda pasti akan marah dan berfikir macam-macam. Padahal jika di fikir hubungan mereka baru saja membaik. Ia pun bangkit membawa kunci mobilnya, memutuskan untuk mencari Dinda.


Berputar-putar di jalan tidak juga menemukan keberadaan Dinda membuat ia bertambah frustasi, rasa khawatir perasaan bersalah menjadi satu. Ah ia menyesal selama ini ia kurang mendekati Dinda, ia tidak tau di mana Dinda biasanya bermain atau bepergian. Berbulan-bulan tinggal bersamanya mereka bisa di katakan layaknya orang asing yang tinggal di atap yang sama, namun dengan ikatan pernikahan.


____


Saat ini Dinda sedang berada di kamar Alisa berdua dengan Alisa. Dengan Alisa yang membrondong banyak pertanyaan, tentu dengan kedatangan Dinda yang di malam hari dengan wajahnya sembab mata bengkak menimbulkan banyak pertanyaan di benak Alisa.


Sejujurnya Dinda bingung harus pergi ke mana, tidak mungkin ia pulang ke rumah mamanya ataupun rumah mertuanya itu akan menimbulkan kecurigaan juga membuat semuanya bertambah rumit. Pergi dengan Alan juga tidak mungkin, ia juga sadar akan statusnya . Lalu pulang ke rumah, ah ia belum siap menghadapi Rava, rasanya terlalu lelah untuk kembali berdebat dengannya nanti.


"Bagaimana apa kau sudah mau cerita padaku, atau aku akan mengadukan pada kakakmu tentang kondisimu saat ini. Tentu saja kakakmu tidak akan tinggal diam bukan"ucap Alisa setelah melihat keadaan Dinda cukup tenang.


"Ah aku melihat Kak Rava berdua dengan seorang wanita di cafe tadi"akhirnya ia memutuskan untuk bercerita.


"Lalu kau menghampiri keduanya, dan kau menggampar wanitanya gitu ya.."tebak Alisa


"Bodoh tentu saja tidak, aku langsung pergi dari sana.."sangkal Dinda

__ADS_1


"Kau yang bodoh, seharusnya kau jangan pergi. Jika aku jadi kau aku akan menghampiri keduanya lalu melakukan yang aku sebutkan tadi, meski nanti kita pergi dalam keadaan menangis akan ada kepuasan diri karena telah membalas perbuatan mereka"ucap Alisa dengan semangat menggebu-gebu.


"Ah ya ampun, kau ternyata begitu bar-bar bagaimana mungkin kakak ku begitu mencintaimu"sahut Dinda


"Ya karena ia sudah terpikat olehku. Kenapa tadi kau tidak menanyakan langsung pada kak Rava bisa jadi yang kau lihat tadi klaeñnya atau temannya gitu. Kau malah pergi ke sini dengan mantanmu, hubungan kalian begitu rumnyam."ucap Alisa kembali


"Aku belum siap bertemu kak Rava, aku menenangkan diri dulu. Dan soal Alan, ah entahlah aku tidak tau dengannya, setiap aku selalu butuh seseorang ia selalu ada begitu, ini bukan hanya sekali namun terjadi berkali-kali"ucap Dinda


"Ku rasa ia masih mencintaimu. Dan ia juga selalu memantau dirimu"tebak Alisa


"Mungkin hanya kebetulan. Sudahlah aku lelah ijinkan aku tidur. "ucap Dinda


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2