
Author Pov
Setelah membuka pintu kamar hotel Rava langsung membaringkan Dinda di tempat tidur, tanpa berfikir panjang Rava segera pergi ke kamar mandi guna membersihkan bajunya dari muntahan Dinda.
Merasa mual dengan baut muntahan dari Dinda, Rava menyalakan shower lalu mengguyur tubuhnya masih mengenakan pakaian lengkap.
30 menit berlalu ia keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Ia tersadar bahwa ia tidak membawa baju ganti, lalu ia berniat menghubungi Aldo, namun sialnya hp nya tidak ada kemana jatuhkah.. Ah sial rasanya ia begitu sial.
Lalu ia mencoba mencari hp Dinda juga tidak ada. Begitu juga dengan telpon yang ada di hotel ini tidak juga bisa anehnya tidak ada jaringan. Katanya hotel berkelas bagaimana mungkin telepon bisa eror lalu gimana nasibku ini.
Rava duduk di pinggir ranjang terus berfikir mencari jalan keluar. Entah mengapa tiba-tiba ia berjalan mendekat ke arah pintu saat ia akan menarik gagang pintu.
Terlihat pintu di dorong dengan sangat kuat, mungkin bisa jadi di dobrak.
"Damn.. it.. apa yang kau lakukan pada adikku.." Ucap Vano dengan emosi yang menggebu .
Belom juga Rava menjawab tiba-tiba Imel datang langsung menampar Rava...
plakk.... "Memalukan apa yang kau lakukan di sini, kau benar-benar membuat kami malu" ucap Imel tak kalah emosi
"Ma,pa.. tante om, Vano aku bisa jelasin semuanya.. aku tidak melakukan apa-apa sama Dinda.." bela Rava merasa memang benar
"Kau lihat penampilanmu . Kau bahkan hanya menggunakan handuk saja. Aku telah memberi kepercayaan lada kau karena sahabat Dinda, tapi dalam sekejap kau menghancurkan kepercayaanku." ucap Vano menatap Rava dengan tajam.
Mendengar suara ribut-ribuk Dinda pun membuka matanya kemudian bangun, lalu berjalan ke arah mereka.
"Mama gak mau tau Rava, pokoknya kamu harus tanggung jawab. Jangan buat malu keluarga. Apalagi merusak persahabatan kami dan orang tua Dinda. Mama minta kau harus nikahi Dinda.." ucap Imel
"Ma itu tidak mungkin. Aku bahkan tidak berbuat apa-apa kenapa aku harus bertanggung jawab" ucap Rava
__ADS_1
"Ma tadi Dinda mabuk lalu aku bingung harus membawanya kemana sedangkan tante dan om masih di sini aku juga tidak mungkin mengantar Dinda pada om dan tante aku fikir itu akan membuat mereka malu" jelas Rava
"Ma pa. Ada apa" ucap Dinda
"Sayang sebaiknya kita pulang dulu ya.." Ucap Dewi yang tidak mau memperkeruh suasana Dinda pun hanya menganggukan kepalanya, karena memang ia masih merasa pusing.
"Dewi kita bisa bicarakan ini baik-baik" ucap Imel
"tidak Imel, aku akan membawa Dinda pulang dulu" ucap Dewi
*****
Setelah memakai pakaian lengkap Rava segera pulang ke rumah .
Setelah sampai di kediaman Nugraha. Mereka semua duduk di ruang keluarga, terlihat papa Adi memandang tajam putranya.
"Kau masih bertanya ada apa?" sahut Adi sambil menggelengkan kepalanya. "Papa kecewa sama kamu Va..."imbuhnya
"Pa, Rava kan sudah jelaskan apa yang terjadi sebenarnya kenapa papa masih tidak percaya. Aku tidak melakukan apapun pada Dinda pa ma percayalah.." tutur Rava penuh harap
"Peracaya.. Semua orang hanya percaya dengan apa yang mereka lihat Rava. Papa sungguh tidak habis fikir denganmu. Papa sungguh kecewa padamu. Papa malu sama keluarga Om Dicky. Entah apa yang mereka fikirkan tentang keluarga kita" tutu Adi dengan nada kecewa
Rasanya pembelaan Rava tidak berguna bahkan sejak tadi mama Imel hanya mendiamkannya tidak mau bicara, sekalipun bicara pasti menyuruh Rava menikah dengan Dinda.
Ya tuhan bagaimana mungkin aku menikahi Dinda, aku bahkan tidak melakukan apa-apa. Dan juga Dinda mempunyai kekasih, aku tidak mungkin bukan merebut Dinda darinya. Tapi bagaimana aku tidak mungkin membuat orang tuaku kecewa. ucap Rava frustasi
"Ma pa aku mau tanya, bagaiman kalian bisa tau kalau aku dan Dinda ada di kamar hotel tadi."tanya Rava, meski suasana lagi tegang tetap ia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Apa kau tidak berfikir sebelumnya Rava, Kau lihat ini. kau tau bukan tadi itu pestanya Vano tentu akan banyak wartawan yang meliput di sana. Ada salah satu wartawan yang memotretmu, kau tau bukan sekarang fotomu dan Dinda sudah tersebar kemana-mana." ucap Adi sambil menunjukk sebuah foto Rava yang merangkul Dinda sampai ketika Rava membuka kamar hotel tersebut.
__ADS_1
"Pa kita bisa membungkam mereka bukan supaya mereka menghapus foto-foto itu." ucap Rava
"Tidak segampang itu Rava, foto itu sudah terlanjur tersebar kemana-mana. Jalan satu-satunya hanya kau harus menikahi Dinda" ucap Adi tegas
"pa itu tidak mungkin... aku.." ucap Rava terhenti
"Mama kecewa padamu. Sekarang terserah kau mau menikahi Dinda apa tidak . Kau sudah membuat kami malu. Sampai kau tidak mau menikahi Dinda jangan harap mama mau berbicara padamu. Anggap saja kau tidak punya mama"ucap Imel dengan emosi lalu pergi
."Ma Rava minta maaf ma.. Rava tidak mungkin menikahi Dinda. Rav tidak mencintainya ma.." ucap Rava yang masih mengejar mamanya sampai mamanya berhenti tepat di depan kamarnya.
"Terserah kamu.. anggap saja mama mati" ucap Imel setelah itu masuk ke dalam kamar
Rava mengusap wajahnya dengan kasar..
Aku harus gimana, aku harus menemui Dinda besok..
.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1