
Seminggu belakangan ini nafsu makan Vriska begitu meningkat, saat Alan pulang kantor Vriska pasti minta di belikan berbagai makanan.
Anehnya meski makan begitu banyak Vriska kerap sekali merasa letih dan lemes pada tubuhnya.
"Aku lelah sekali.."serunya sambil membaringkan dirinya di tempat tidur.
Alan yang tengah bersandar di tempat tidur sambil memegang laptopnya memicingkan matanya mendengar keluhan sang istri, "memangnya apa yang kau lakukan di rumah? sehingga kau bisa kelelahan y"tanyanya,
Vriska memiringkan tubuhnya menatap wajah sang suami, "Tidak ada, hanya makan tidur"sahutnya sambil terkekeh.
Alan melanjutkan pekerjaannya, tidak menganggapi ucapan sang istri, apapun itu biarlah asal istrinya itu bahagia pikirnya.
"ayo tidur, kau tidak lelah apa bekerja terus, uangmu sudah banyak mau buat apa coba"tanya Vriska
Alan hanya melirik sebentar ke arah Vriska, "Tidurlah dulu, masih ada beberapa file yang harus ku kerjakan."serunya.
Vriska mendumel kesal akan jawaban sang suami, ia langsung membalikan tubuhnya memunggungi Alan. "tidur saja dengan berkas dan laptopmu, jangan memelukku"
Alan pun terkekeh mendengar jawaban sang istri, "He sayang aku mendengarnya,"
Vriska tidak mengindahkan apa kata suami ia langsung bangkit dari tidurnya, "mau ke mana?"tanya Alan
"Tidur.."
"Tidur di mana? ini sudah di kamar kau tinggal tidur saja bukan kenapa harus berdiri"tanya Alan lagi.
"Aku tidak mau mengganggumu yang gila kerja, jadi aku akan tidur di kamar sebelah"serunya sambil berlalu melangkahkan kakinya. Saat baru saja membuka pintu kamar untuk keluar, pintunya langsung di tutup kembali oleh Alan, Alan dengan sigap langsung membopong sang istri, entah bagaimana Alan sudah sampai di depan sang istri.
"Hei apa yang kau lakukan, cepat turunkan biarkan aku keluar"teriak Vriska
"Diamlah, ayo tidur"Alan langsung membaringkan Vriska dan dirinya, lalu ia menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
Vriska langsung terdiam, Alan langsung melingkarkan tangannya memeluk sang istri, "begini bukan yang kau inginkan, mana mungkin kau bisa tidur tanpa pelukanku"ucapnya
"Mana ku tahu"sahutnya sambil membaringkan dirinya ingin membelakangi Alan, namun Alan mencegahnya "tidak baik tidur membelakangi suami"seru Alan.
Dengan rasa dongkol Vriska pun mengikuti apa kata suami, pandangan mereka bertemu. "Kenapa? aku tampan ya.."tanya Alan
Vriska menghela nafasnya akan tingkat kepedean sang suami, "iya saja lah biar senang"
Alan terkekeh lalu mendekatkan wajahnya pada sang istri tanpa aba-aba ia mencium bibir san istri. Vriska membulatkan matanya.
"Apa yang akan kau lakukan"tanya Vriska sambil terengah-engah saat Alan sudah melepaskan ciumannya.
"Ya apalagi.."Sahut Alan sambil mengedipkan sebelah matanya, jika sudah begitu Vriska sudah tau pasti ujungnya.
πππ
Pagi harinya Vriska di kejutkan akan adanya flek di ****** ********, ia mengerutkan keningnya lalu menghela nafasnya, "Pasti bentar lagi aku datang bulan"serunya kemudian ia bergegas turun ke bawah menyiapkan sarapan sang suami.
__ADS_1
Vriska melirik ke arah ranjang di mana Alan masih tertidur lelap dalam gulungan selimutnya yang menutupi tubuh polosnya.
ππ
"Apa yang akan kau lakukan hari ini sayang"tanya Alan di sela-sela makannya.
"Aku akan mengunjungi Pantai Asuhan Pelita, hari ini aku harus kesana"sahut Vriska
Alan mengerutkan keningnya, "Apa kau baik-baik saja?"tanya Alan
"Aku baik-baik saja, hanya merasa sedikit lemas"seru Vriska
"Kalau begitu ayo kita ke dokter aku takut terjadi sesuatu padamu, nanti biar urusan panti aku bisa menyuruh Iva untuk mengurusnya"kata Alan
Vriska menggelengkan kepalanya, "tidak mau aku sudah berjanji akan kesana sendiri, lagian sekretarismu itu banyak pekerjaan,"
"Tapi aku khawatir padamu, kalau begitu setidaknya ayo kita ke dokter priksakan dirimu, wajahmu terlihat pucat. Masalahnya aku tidak bisa mengantarmu , hari ini aku ada meeting yang harus ku hadiri"jelas Alan penuh dengan nada khawatir.
"jangan cemas, aku baikz-baik saja. Aku juga merasa bosen bolak-bolik harus ke rumah sakit. Namun hasilnya tetap sama, aku akan selalu pulang dalam keadaan kecewa"ucapnya
Alan menghela nafasnya, "Baiklah, kalau begitu pergilah dengan sopir. Aku tidak mengijinkanmu mengendarai mobil sendiri"ucapnya sambil meletakkan garpu dan sendoknya menandakan ia telah selesai sarapan.
Vriska mengangguk mengerti, "Aku berangkat dulu ya"pamitnya sambil mencium kening sang istri.
πππ
Setelah kepergian Alan, Vriska pun mulai bersiap untuk pergi ke Panti. Saat akan keluar dari kamarnya Vriska merasakan perutnya begitu melilit dan sakit.
Untuk beberapa menit kemudian, rasa sakit itu hilang. Vriska menghela nafasnya lega, ia pun keluar kamarnya dan mulai menuruni tangga. Vriska juga berpamitan pada Bi Ningsih. Saat sampai di depan ia sudah di tunggu sang sopir pribadi yang beberapa bulan ini Alan kerjakan.
Vriska menyuruh sopir untuk mengantarkannya ke supermarket terlebih dahulu. Saat sudah sampai di supermarket Vriska belanja kebutuh pokok anak-anak panti.
Sesekali Vriska akan mendorong trolinya, "Nyonya biar saya saja,"ucap Pak Andi sang sopir Vriska.
Vriska menganggukan kepalanya, setelah di rasa beres Vriska membawa belanjaan itu begitu ke kasir. Ada beberapa kantong dan kardus belanjaan.
Kemudian mereka membawanya ke parkiran lalu menata belanjaannya ke bagasi mobil.
Lalu Pak Andi kembali melajukan mobilnya ke alamat tujuan, saat di tengah jalan Vriska kembali merasakan sakit pada perutnya, namun ia tetap menahannya. Pak Andi yang menyadari itu segera bertanya, "Nyonya anda terlihat kesakitan, apa tidak sebaiknya kita mampir ke rumah sakit dahulu"
Vriska menggelengkan kepalanya, "tidak perlu Pak, langsung saja aku baik-baik saja jangan cemas"
"Tapi Nyonya.._"
"Sudahlah Pa turuti apa kataku"ucap Vriska tanpa mau di bantah.
Rasa sakit itu kembali hilang, tidak lama itu mereka sudah tiba di panti.
Semua menyambut dengan gembira kedatang Vriska yang membawa begitu banyak barang keperluan panti.
__ADS_1
"Selamat datang Nona Vriska"sapa Ibu Siti
"Terimakasih Ibu"sahutnya.
Vriska segera di persilahkan duduk, sementara Pak Andi mengeluarkan barang-barang bawaan Vriska.
Vriska mengobrol, saat itu ia melihat seorang bayi yang begitu cantik dan mungil kira-kira bayi itu mungkin baru berumur enam bulanan.
"Siapa namanya bu..?"tanya Vriska.
"Sifa Nona.."
"Namannya cantik, aku ingin menggendongnya bolehkah"ucapnya
Ibu siti pun mempersilahkannya, Vriska mulai berdiri menggendong dan menimangnya. Ia merasa amat bahagia.
Lima belas menit kemudian Vriska kembali merasakan sakit pada perutnya, kali ini rasa sakitnya begitu kencang, "Aduh..."
"Ada apa Nona..?"tanya Bi siti.
"Bu tolong pegang Sifa sebentar, perutku sangat sakit"ucapnya sambil menyerahkan sifa ke gendongan Ibu Siti.
Vriska merasakan perutnya sangat sakit ia meringis menahan sakit, lalu ia mulai merasakan ada yang mengalir dari pangkal pahanya.
"Nona kenapa ada darah mengalir dari pangkal pahanya,..."ucap Bu Siti
Vriska mulai meringis, "Aduh... to.. tolong panggil sopirku. Ini sangat sakit.."
Orang pantai pun memanggil sopri Vriska, lalau ada yang membantu memapah Vriska, saat itu tidak lama sopirnya, "Nyonya anda kenapa?"tanya Pak Andi, ia melihat wajah majikannya itu sudah pucat pasi menahan rasa sakit,
Tidak menunggu lama, Pak Andi segera membawa majikannya itu ke rumah sakit terdekat. Dalam perjalanan ia menghubungi Alan.
πππ
Ponsel yang Alan letakkan di meja meeting bergetar memperlihatkan nama Pak Andi di layarnya. Alan mengerti jika sopirnya itu tengah berada bersama istrinya, jika tiba-tiba sopirnya itu menghubungi pasti ada hal penting, entah kenapa Alan mempunyai firasat yang buruk.
Tanpa berfikir panjang Alan segera mengangkat panggilan itu.
"Tuan, mohon anda segera menyusul saya ke rumah sakit XX, Nyonya Vriska mengalami pendarahan saya sedang membawanya menuju rumah sakit Tuan"ucap Pak Andi di balik telpon.
"Apa...rumah sakit.. pendarahan..."Alan terlonjak kaget, begitupun semua orang yang tengah berada di ruang meeting langsung menatap ke arah Alan.
Alan segera menyadari hal itu ia menutup telponnya, "Iva tolong kau handle semua, aku harus segera pergi"ucapnya pada sekretarsinya itu, lalu ia berlalu pergi dengan terburu-buru,
Sepanjang jalan Alan terus mengklakson mobil-mobil yang menghalangi jalannya, raut mukanya berubah menjadi sangat cemas memikirkan keadaan dirinya. Tadi pagi ia sudah menyadari keadaan istrinya, ia masiy berharap semua baik-baik saja..
πππ
πππSiap-siap di omeli readers ππ,, aku mau ngumpet lahππ
__ADS_1
ππTapi tetap jangan lupa tekan like, komen, dan vote pake hadiahnya yaππππ
bersambung...