Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Aku belum puas melihatnya


__ADS_3

Karena rasanya begitu lelah malam ini Dinda memutuskan untuk masa nasi goreng saja, apalagi bahan makanan di kulkas sudah habis. Besok weekend rencananya ia akan belanja besok .


Setelah nasi goreng tersaji di piring , Rava pun menghampiri Dinda yang saat ini sedang menyajikan makanannya. Ya memang hanya nasi goreng biasa dengan perpaduan telor mata sapi. Mengingat Rava memang alergi seafood ia tidak pernah memasak segala jenis seafood.


Rava melihat bentuk nasi goreng tersebut ia menelan ludahnya, warnanya kenapa bisa sampai hampir mendekati hitam.


"Aku hanya masak nasi goreng kalau mau makanlah."ucap Dinda datar


Rava pun duduk mengambil sendok juga garpu lalu ia memakannya, lalu membulatkan matanya, sungguh rasanya ia begitu enek dan ingin memuntahkan makanannya.


"Kenapa? tidak enak ya kalau gitu tidak usah di makan."ucap Dinda


"Jangan aku akan memakannya." sahut Rava


Rava pun berusaha menelan makanannya meski ia harus di bantu dengan air putih. Melihat Rava yang memakan dengan terburu-buru Dinda pun berfikir segitu enakah masakannya.


Lalu ia pun ikut makan mencicipi masakannya, begitu sampai di mulut ia langsung menyemburkan makanannya begitu saja. Sontak hal itu mendapat perhatian dari Rava. Dengan sigap Rava berdiri menyodorkan minum untuk Dinda. Dinda pun menerimanya .


"Jangan di makan nasi gorengnya, ini tidak layak untuk di makan. Kenapa rasanya begitu manis. Aku bahkan hanya menambahkan setengah botol kecap."ucap Dinda


Rava yang mendengar penuturan Dinda langsung kaget.


Pantes rasanya begitu manis, aku seperti bukan makan nasi goreng, tapi aku seperti sedang memakan kecap. setengah botol untuk dua porsi nasi goreng saja .


******


Setelah drama nasi goreng, saat ini Dinda kembali ke kamar untuk istirahat. Berbeda dengan Rava yang memilih untuk ke ruang kerjanya. Selama menikah hidup satu atap pun satu kamar dengan Dinda, setiap waktu menjelang tidur Rava kebanyakan menghabiskan waktunya di ruang kerjanya.


Terkadang ia ketiduran di situ, kadang juga ia akan kembali ke kamarnya setelah Dinda benar-benar terlelap.

__ADS_1


Ketika ia tengah mendudukan pantatnya di kursi ruang kerjanya, ia teringat sesuatu lalu ia segera kembali ke kamarnya.


Setelah sampai kamar ia mendapati Dinda sedang duduk bersandar di kasurnya.


"Kau belum tidur. Aku hanya mau bilang tadi mama menelpon menyuruhmu untuk pulang ke rumahnya besok. Mama bilang sudah berusaha menelpon mu tapi ponselmu tidak aktif."ucap Rava dengan datar


"Hanya aku yang di suruh pulang... Lalu Kak Rava...?"tanya Dinda menatap Rava


"Aku besok ingin berkunjung ke makam Luna, kau duluan saja ke sana, kalau nanti sempat aku akan menyusulmu."ucap Rava .


"Baiklah, "sahut Dinda dengan senyum kecutnya sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya memunggungi Rava yang masih berdiri di samping temlat tidur.


Karena merasa lelah Rava pun memutuskan untuk istirahat. Tidak lama setelah itu keduanya terlelap.


******


Hari menjelang pagi kedua insan masih menikmati waktu istirahatnya. Memang hari ini weekend jadi rasanya keduanya masih ingin bermalas-malasan.


Menyadari Dinda hampir membuka matanya Rava pu kembali berpura-pura tidur.


"Jam berapa ini? " ucap Dinda lalu matanya beralih ke tangan Rava yang tengah memeluknya dengan begitu erat. Ia pun tersenyum segera menyingkirkan tangan Rava dari tubuhnya.


Lalu ia bangun segera ke kamar mandi,.. Setelah melihat Dinda sudah berlalu ke kamar mandi Rava pun membuka matanya namun masih dalam posisi tiduran.


Tiga puluh menit kemudian pintu kamar mandi terbuka, Rava pun berpura-pura untuk memejamkan matanya.


Dinda keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya, ia lupa tidak membawa baju gantinya. Mendapati Rava masih terlelap ia akhirnya mengganti pakaianya di kamar saja, dengan segera ia memakai pakaiannya.


"Kenapa begitu cepat, aku bahkan belom puas melihatnya..?"Sontak suara tersebut mengagetkan Dinda, lalu ia menengok mendapati Rava sudah terbangun sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kau sudah bangun, sejak kapan..?"tanya Dinda


"Em sejak kau masuk ke kamar mandi."sahut Rava dengan entengnya.


"Jadi dari tadi kau hanya berpura-pura tidur, dasar mesum. Kau mencari kesempatan."ucap Dinda sambil mengambil bantal lalu melemparkan ke Raa, dengan sigap Rava pu langsung menangkapnya.


"Kenapa, aku tidak mencari kesempatan. Kau saja yang ceroboh, biasanya juga kau ganti baju di kamar mandi. Lagian em apa salahnya kita kan suami istri"sahut Rava


"Cih giliran hal seperti itu saja bawa-bawa ikatan suami istri." ucap Dinda lalu beralih keluar kamarnya. Rava pun hanya terdiam memikirkan ucapan Dinda.


*******


"Mobilmu sudah jadi bukan, aku akan berangkat ke makam Luna terlebih dahulu, setelah itu akan aku usahakan ke rumah mamamu."ucap Rava


Dinda hanya menganggukan kepalanya. Setelah itu Rava meninggalkan Dinda yang saat ini sedang menikmati segelas susu dan rotinya.


Dia begitu mencintai Luna, meski Luna sudah tiada ia terus mengingatnya, kenapa aku rasanya begitu iri. lirih Dinda dalam hati


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2