Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Sungguh ingin


__ADS_3

Seperti janjinya kemarin pada Hendrik sang kakak ipar jika mulai hari ini ia akan kembali beraktivitas di kantornya. Pagi ini Rava telah sampai di ruangannya, para karyawan merasa senang bisa melihat atasannya itu bangkit lagi. Tentu rumor kepergian Dinda telah menyebar di area kantor Rava ini, saat itu Dinda pergi dalam keadaan menangis, lalu melihat Rava berusaha mengejarnya, sejak saat itu pula Rava tidak masuk ke dalam kantornya.


Kini Rava tengah menyibukkan dirinya dengan setumpuk berkas yang harus ia kerjakan, sesaat kemudian Aldo masuk ke ruangan Rava sambil tersenyum kala melihat semangat atasan sekaligus sahabatnya itu.


"Aku senang kau bisa kembali seperti dulu lagi"Ucap Aldo yang kin tengah berada di depan meja Rava.


Rava melirik Aldo "maaf kemarin aku memberi beban pekerjaan banyak padamu,"ucapnya


"Tidak masalah itu merupakan tugasku,"sahut Aldo


"Al, apa ada kabar tentang Dinda dari anak buahmu"tanya Rava


Aldo menggeleng "Belum ada perkembangan apapun, maaf. Tapi percayalah jika Dinda nanti pasti akan ketemu,"kata Aldo dengan nada menyesal sampai detik ini ia belum bisa memberikan informasi apapun tentang keberadaan Dinda. Dinda pergi bagaikan hilang di telan bumi.


"Aku menyesal Al, telah banyak menanamkan luka padanya. Andai aku cepat menyadari perasaanku, tentu kejadian ini tidak akan pernah terjadi, Dinda akan tetap berada di sisiku bukan"ucap Rava dengan gemetar.


"Aku akan membantumu, percayalah jika Dinda pasti akan kembali padamu. Jadikan semua yang terjadi sebagai pelajaran"tutur Aldo dengan lembut.


"Tentu, jika nanti saat itu tiba , aku tidak akan pernah melepaskannya, akan menjaganya dengan sepenuh hatiku"sahut Rava.


********


Dinda merebahkan diri di tempat tidurnya, menerawang ke langit-langit dalam kamarnya, saat ini ia tengah sendiri berada di apartemen Indah. Indah dan Sava hari ini menginap di tempat neneknya.


Kepala Dinda tiba-tiba berdenyut pusing, akhir-akhir ini ia sering merasa lelah juga mudah lemas. Namun ia mencoba biasa menepis segala yang ia rasa. Sudah sebulan ia pergi meninggalkan Rava, terkadang ada perasaan rindu yang mendalam.


"Apa kabar kak Rava? Apa kau baik-baik saja, setelah kepergianku.


Apa kau mencariku?

__ADS_1


Apa kau juga merindukanku?",lirih Dinda dalam hati


******


Pagi ini Rava terbangun dari tidurnya langsung berlari ke kamar mandi lalu memuntahkan segala isi perutnya, ia merasa amat mual. Mungkin karena semalam ia lembur juga akhir-akhir ini makannya tidak teratur, jadi lambungnya bermasalah fikirnya.


Setelah membersihkan mukanya, ia kembali ke kamar, namun tidak lama rasa mual itu datang lagi, ia pun pergi ke kamar mandi lagi. Hingga akhirnya ia merasa amat lemas. Akhirnya ia memutuskan untuk istirahat sebentar.


Pukul sembilan Rava telah berada di kantornya, para karyawan yang melihat kondisi atasannya yang datang dalam keadaan itu pada berbisik-bisik.


Saat melewati meja kerja Livia, sama halnya dengan yang lainnya mereka juga heran melihat kondisi Rava yang pucat, mungkinkah Rava tengah sakit pikirnya.


"Kenapa denganmu tuan? Apa kau sakit?"tanya Aldo setelah berada di ruangan Rava.


"Tidak, aku hanya kurang istirahat saja"sahut Rava dengan lemah.


"Tapi muka anda tampak pucat, perlukah saya panggilkan dokter"tanya Aldo


Aldo pun tampak mengerti karena sebulan sudah mereka tak bertemu, mungkin Rava memang sangat merindukan istrinya itu.


"Sabarlah tuan, kita akan kembali mencari nona Dinda lagi"kata Aldo


"Benarkah? aku harap aku akan segera bertemu dengannya. Oh ya Al tolong belikan aku kentang goreng, jangan lupa minumannya jus mangga jangan di kasih gula aku suka rasa asam."ucap Rava


"Tapi tuan kau belum sarapan bukan"tanya Aldo, Rava pun mengangguk.


"Sudah ku katakan jangan panggil aku tuan. Cepatlah pergi belikan yang aku minta, aku sungguh ingin memakannya sekarang. Jangan banyak bertanya"ucapnya dengan nada tinggi.


Aldo terlunjak kaget ia fikir ini seperti bukan Rava yang ia kenal, kali ini Rava terlihat sensistif. Tanpa membantah Aldo pun pergi menuruti keinginan Rava.

__ADS_1


*****


Saat Papa Dicky tengah berkutat dengan pekerjaannya, pintu ruang kerjanya terbuka , tampak sosok Vano masuk lalu duduk di hadapan papanya itu.


"Pa, bagaimana apa ada kabar dari Dinda"tanya Vano


"Tidak ada, Dinda bahkan tidak menghubungi papa sama sekali. Papa harap dia baik-baik saja, papa kasian dengan mamamu yang sampai detik ini tidak nafsu makan sama sekali, ia hanya selalu murung di kamar"tutur Papa Dicky


Vano mengepalkan tangannya "Semua karena pria brengsek itu"ucap Vano dengan emosi


"Jangan terlalu menyalahkan Rava nak, semua telah terjadi. Rava pun saat ini sama halnya dengan kita terpukulnya. Sejatinya sebuah rumah tangga pasti akan ada masalah, mungkin saat ini rumah tangga adikmu sedang di uji. Percayalah semua akan baik-baik saja. Papa yakin itu"tutur Papa Dicky.


Vano tampak berpikir sejenak "Baiklah kalau begitu, aku pun akan mencoba mencari Dinda kembali. Oh ya pa, aku dan Alisa sepakat untuk menunda pernikahan kami sampai Dinda di temukan"ucapnya


"Kenapa nak?"tanya papa Dicky heran


"Ini sudah keputusan kami berdua pa"jelas Vano


"Baiklah , terserah kalian saja."sahut papa Dicky.


.


.


.


bersambung..


hayo bagaimana dengan part ini?

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan cara Vote, Like, dan Komen. Terimakasih..


😊Selamat membaca😚


__ADS_2