
Malam ini keluarga Alan dan keluarga Vriska tengah makan malam bersama di sebuah restoran yang sudah di boking khusus untuk mereka. Selain makan malam pertemuan kali ini juga akan membicarakan rencana pernikahan Alan dan Vriska.
Alan terlihat begitu tampan dengan memakai kemeja berwarna putih, sedangkan Vriska wanita itu terlihat modis dalam berpakaian, ia selalu bisa memadukan penampilannya agar sesempurna mungkin, mengingat memang pekerjaannya seorang model.
Alan dan Vriska duduk bersampingan mereka tampak diam dengan pikiran masing-masing sambil makan, entah apa yang Alan pikirkan ia hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Alan kau kenapa..? apa makanannya tidak sesuai dengan seleramu.."tanya Merlin yang sedari tadi memerhatikan putranya itu,.
Semua orang memandang ke arah Alan, tidak terkecuali keluarga Vriska. "tidak kok ma.."sahut Alan ia berusaha memakan makananya.
Aku harus apa? rencana pernikahanku sudah di depan mata, tapi aku merasa tidak bahagia. Tidak, aku harus segera mengambil keputusan meskipun ini mungkin akan menyakiti semuanya, desah Alan dalam hati.
Kedua keluarga itu tengah membicarakan pernikahan Alan dan Vriska, namun dari tadi Alan hanya diam dan acuh, sementara Vriska terlihat begitu antusias.
"Bagaimana Alan kau setuju bukan.."tanya Om Danu selaku papa dari Vriska.
Alan gelagapan karena sedari tadi ia tidak mendengarkan apa yang mereka semua bicarakan. "Aku tidak tau.."ucapan itulah yang keluar dari mulutnya.
"Jadi dari tadi kau tidak mendengarkan apa yang kami bicarakan, nak Om Danu bilang pernikahan mu dan Vriska akan di laksanakan bulan depan, kau setuju bukan.."jelas Brawijaya.
Aku harus segera mengmbil keputusan, ini tidak baik untuk di teruskan,lirihnya dalam hati.
"Pa Ma, Om , Tante, Vriska..."ucap Alan sambil mengamati wajah semuanya "saya minta maaf, saya tidak bisa menikah dengan Vriska."ucap Alan, meski ada rasa takut tidak di pungkiri ia pun merasa lega.
Semuanya tampak kaget "Alan kau jangan bercanda, ini tidak mungkin.."sahut Vriska dengan kaget.
"Apa-apaan ini Pak Brawijaya putra anda kenapa bisa mengambil keputusan secara pihak.."sahut Om Danu dengan geram dan emosi.
"Sabar pa, semua bisa di bicarakan dengan baik-baik.."ucap Lita sambil mengelus lengan suaminya.
"Tenang Pak Danu, Alan pasti hanya bercanda iya kan nak.."tanya Brawijaya lagi.
__ADS_1
Alan menggeleng kuat "Tidak pa, aku bercanda aku tidak bisa menikah dengan Vriska.."
"Katakan alasannya Alan, kau sudah bertunangan selama itu, lalu kenapa kau tiba-tiba membatalkannya"tanya Lita
"Karena aku tidak mencintainya, aku tidak akan bisa menjalani rumah tangga dengan wanita yang tidak aku cintai.."sahut Alan dengan tegas. Ia sudah merasa benar mengambil keputusan ini, jadi apapun akan ia hadapi.
Vriska melihat ke arah Alan air matanya menetes, ia merasa terluka. "Lalu kau anggap kebersamaan kita selama ini apa Alan.."
"Pengenalan, aku ingin mengenal kau lebih jauh, selama ini aku berusaha untuk mencintaimu tapi aku tidak bisa. Tidak ada tanda-tanda cinta muncul di hatiku untukmu"sahut Alan.
"kenapa? apa yang kurang dariku,... Apa kau karena mencintai Dinda, ingat Alan dia bahkan sudah bahagia dengan suaminya.."teriak Vriska.
"Jangan membawa nama Dinda di sini, aku sudah tidak mencintainya.."ucap Alan dengan tegas menatap tajam Vriska.
"Lalu siapa yang kau cintai, jika memang kau tidak mencintaiku..Tidak mungkin jika ada wanita lain di hatimu ..."tanya Vriska
Semuanya meras tegang, begitupun Alan ia bingung harus menjawab apa, namun tiba-tiba seorang wanita datang.
"Tidak masalah Disty, lagian makan malam ini juga sudah selesai.."ucap Om Danu.
"Padahal aku baru tiba.."ucap Disty
"Katakan padaku siapa wanita yang kau cintai Alan.."teriak Vriska.
Disty tampak bingung apa yang terjadi, "baiklah akan ku katakan siapa wanita itu.."
Semua tampak tegang dan bersiap menyiapkan hati mereka untuk mendengar kenyataan yang ada, Alan berjalan menghampiri Disty semuanya menatap heran ke arah Alan. "Dia wanita yang aku cintai.."ucap Alan sambil menggenggam tangan Disty.
"Apa..."ucap semuanya dengan serentak mereka tampak kaget, tidak terkecuali dengan Vriska.
"lepaskan aku Alan, apa yang kau lakukan aku tidak mengerti.."ucap Disty berusaha melepas genggaman tangan Alan.
__ADS_1
Vriska berjalan ke arah Disty dan Alan.
Plak..
plak..
Ie manampar wajah Alan dan Disty, ia menggelengkan kepalanya dengan kuat sambil menangis "ini bagaimana mungkin, kalian menusukku dari belakang..."Vriska menghamlus air matanya "Aku bahkan sudah menganggapmu seperti kakakku sendiri, tapi inikah balasanmu padaku Disty, kau bahkan tidak ingat apa yang orang tuaku perbuat padamu, kalian mengkhianatiku"
"Vriska ini salah paham aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Alan, aku akan jelaskan semuanya,"ucap Disty berusaha menjelaskan pada Vriska.
"Diam.. aku tidak butuh penjelasan dari seorang pengkhianat seperti dirimu"bentak Vriska
"Ini salahku kenapa kau harus marah padanya"ucap Alan pada Vriska.
"Kau begitu mencintainya hingga kau membelanya mati-matian, hebat sekali. Tapi lihat saja apa yang akan aku lakukan pada keluargamu Alan. Dan kau...."tunjuk Vriska pada Disty "Malam ini juga aku memecatmu, aku tidak membutuhkan asisten seperti dirimu. Kau pengkhianat, kau tega menyakitiku"teriak Vriska
Disty tampak kaget mendengar kata ia di pecat,"Vriska ku mohon dengarkan penjelasanaku dulu, aku..."
"Diam kalian semuanya..."teriak Brawijaya membuat semua menengok ke arah Brawijaya. "Alan kau...."ucap Brawijaya sambil memegangi dadanya ia meringis kesakitan.
"Papa ...."ucap Merlin memapah Brawijaya sebelum kemudian ia jatuh tak sadarkan diri.
.
.
.
πππ Jangan lupa komen,like, dan vote nya yaπππ
ππTerimakasih.. Selamat Membacaπππ
__ADS_1
Bersambung..