
Pagi harinya Vriska terbangun dari tidurnya dengan rasa pusing di kepalanya, ia memijit dahinya. Menengok ke arah samping di lihatnya Alan masih tertidur lelap.
Vriska tahu mungkin Alan lelah, akhir-akhir ini kerjaannya banyak, bahkan Vriska tidak tau saat Alan pulang karena ia sudah tidur. Entah kenapa akhir-akhir ini Vriska merasa cepat lelah , dan malas apa-apa, biasanya meski Alan akan pulang telatpun ia akan menunggu suaminya itu pulang, ia merasa ada yang aneh pada tubuhnya.
Vriska melirik ke arah meja lalu matanya tertuju pada kalender yang berada di sana, kemudian ia bangkit mengambil kalender itu. Matanya membulat saat menyadari ia sudah telat datang bulan seminggu.
"Sepertinya aku sudah telat seminggu, aku harus mencobanya. Muda-mudahan saja Tuhan kali ini aku tidak kecewa.."ucapnya penuh harap.
Lalu Vriska mengambil test pack yang berada di laci, sebelum berlalu ke kamar mandi ia sempat melirik sebentar ke arah suami, berharap suaminya jangan bangun lebih dulu.
πππ
Masih di kamar mandi Vriska mengambil alat tes kehamilan itu, sebelumnya ia sudah berjanji apapun hasilnya ia akan menerima dengan lapang dada.
Menarik nafasnya dalam-dalam, lalu perlahan ia melihat hasil dari test pack itu, ia terkejut sekaligus terharu saat alat itu menunjukan hasil dua garis merah.
Air mata yang sejak tadi ia tahan, akhirnya tumpah juga, Vriska menangis karena bahagia, perlahan ia mulai mengelus perut yang masih terlihat rata saat ini.
"Sayang, akhirnya kamu tumbuh juga di rahim mami nak, sehat-sehat ya. Terimakasih Tuhan. Ini hadiah yang sangat tidak ternilai.."ucapnya di sela-sela tangisnya.
Vriska mengusap air matanya, kemudian ia ingat jika lusa adalah hari ulang tahun suaminya, Vriska berencana akan memberi tahu suaminya saat ulang tahun itu tiba, namun sebelum itu ia ingin memastikan dulu kehamilannya di rumah sakit, sekaligus ia harus memastikan kondisi janinnya sehat, ia tidak ingin kejadian dulu terulang lagi.
tok.. tok..
"Sayang apa kau baik-baik saja, apa kau di dalam, kenapa begitu lama..?"terdengar suara Alan dari balik pintu.
__ADS_1
Vriska buru-buru menyimpan hasil tes kehamilan itu di sakunya, kemudian ia membasuh mukanya agar Alan tidak curiga jika ia habis menangis.
"Vriska, buka pintunya. Jika dalam hitungan ketiga tidak kau buka juga, aku akan dobrak pintunya"teriak Alan dari balik pintu.
"Sayang ku mohon jangan melakukan hal konyol lagi, aku bisa gila tanpamu..."ucapnya lagi..
"Satu.. dua... ti...."
ceklek... pintu terbuka..
"Ada apa sih hubby berisik sekali..?"ucap Vriska pura-pura kesal.
Alan langsung menangkup kedua pipi sang istri dengan kedua tangannya, "Kau baik-baik saja, apa yang terjadi..?"
"Tidak ada apa-apa, aku baik-baik saja.."
"aku habis buang air besar.."ucapnya asal
Alan mengusap wajahnya kasar, "Aku fikir kau mau berbuat hal konyol lagi"desahnya penuh ke khawatiran.
"Tidak, aku sudah berjanji tidak akan berbuat hal seperti itu lagi."tutur Vriska dengan lembut.
πππ
Vriska membuka pintu kamarnya dari luar berniat untuk memanggil suaminya sarapan. Terlihat di sana Alan sedang memakai pakaian kerjanya. Vriska berjalan ke arah Alan lalu mengambil dasinya kemudian memakaikannya.
__ADS_1
"makasih sayang..."ucap Alan dengan senyum manisnya.
Vriska membalasnya dengan senyumnya, setelah di rasa selesai. Entah kenapa Vriska tiba-tiba memeluknya dengan erat.
Alan mengernyit bingung, "Ada apa..?"Alan membelai rambut sang istri yang masih betah memeluknya dengan erat.
"Hanya ingin memelukmu saja,"sahutnya sambil tersenyum. Entah kenapa sejujurnya ia ingin sekali bersikap yang manja pada suaminya itu, namun ia menahannya ia harus memastikan dulu kehamilannya.
"Perlukah aku tidak usah pergi ke kantor..?"tanya Alan
Vriska segera menjauhkan dirinya, "Jangan, pergilah ke kantor."
Alan menganggukan kepalanya, "Baiklah... ayo kita turun sarapan.."
πππ
Vriska tersenyum bahagia sesekali ia pun akan menangis merasa haru saat berjalan melewati koridor rumah sakit, tangannya menggenggam hasil USG. Sungguh ia sangat berterima kasih pada Tuhan atas anugerah yang telah ia berikan.
Berkali-kali ia menciumi kertas hasil USG itu, setelah merasa sedikit puas, ia memasukannya ke dalam tas nya. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk memberikan kejutan itu untuk suaminya nanti, bagaimana reaksi Alan nanti.
Di dalam taksi Vriska meraba perutnya sambil tersenyum senang, "Bantu mami ya sayang, tolong jaga diri baik-baik di dalam,"serunya
ππππ
ππJangan lupa tekan like, komen, beri hadiahππ
__ADS_1
bersambung...