
Vriska mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang sesekali ia akan mengusap air matanya yang menetes, nafasnya tampak tersengal-sengal dadanya terasa sesak.
Tangannya terasa kram, ia menepikan mobilnya ke tepi jalan, kemudian ia menyenderkan kepalanya di gagang stir mobilnya. Ia menangis tersedu-sedu, sesekali ia akan memegang dadanya yang terasa sesak.
Ini sangat menyakitkan Tuhan, aku telah membohongi diriku sendiri. Ingin sekali aku berbuat egois dengan menahan Alan tetap bersamaku, tapi ini tidak akan adil baginya, apapun itu dia harus mendapatkan wanita yang sempurna tidak seperti diriku. Dia pantas bahagia sekalipun tidak bersamaku. Aku tidak akan mampu memberinya kebahagiaan.
Setelah merasa lebih baik Vriska kembali melajukan mobilnya.
πππ
Disty memberanikan diri mengusap lengan Alan, "Alan.. kenapa kau tidak jujur saja padanya jika kaupun mencintainya.."
Alan mendongak melihat ke arah Disty "Aku mencintainya.. tapi aku rasa itu tidak.."
"Kau tidak perlu menyangkal perasaanmu sendiri Alan, semua sudah terlihat jelas. Kejarlah ia dan katakan jika kau mencintainya.."tutur Disty dengan lembut.
Alan terdiam ia masih mencoba mencerna segala perkataan Disty, "Tapi.. bagaimana denganmu.."serunya
Disty mengerutkan keningnya "Aku.."tunjuknya pada diri sendiri, Alan menganggukan kepalanya "Kenapa dengan diriku Alan, aku tidak masalah. Jangan membawa diriku dalam hubunganamu dengannya."sambungnya
__ADS_1
"Maksudnya bagaimana dengan perasaanmu, aku tidak ingin melukai siapapun"serunya
Disty terkekeh "Bukankah dalam hal cinta terluka ataupun melukai adalah hal biasa. Melihat sikapmu saat ini padaku tentu saja aku tidak akan mau menerimamu. Aku menyadari satu hal saat ini, jika perasaanmu padaku hanyalah sebuah perasaan bersalah karena kau telah melukai ku di masa lalu. Aku sudah mengatakannya padamu jika aku sudah melupakan masalah itu, dan aku juga mendengar kau telah mendapatkan karma dari yang kau tanam. Sekarang apakah kau akan membiarkan hal itu terulang lagi, ayo Alan perjuangkanlah cintamu, jangan hiraukan aku. Aku baik-baik saja, jika kau dan Vriska bisa bahagia. Mengapa aku tidak."tutur Disty dengan lembut.
Alan mencerna baik segala apa yang di ucapkan Disty, hingga akhirnya ia menyadari jika semua yang Disty ucapkan benar.
Alan bangkit dari kursi "Terimakasih Disty, sekarang aku tau apa yang harus aku lakukan"
Disty tampak tersenyum lembut "lakukan yang memang harus kau lakukan. Pesanku jangan melakukan kesalahan yang sama dengan mempermainkan perasaan seorang wanita."serunya
"Tentu saja, itu tidak akan pernah aku lakukan"sahut Alan "Disty aku pergi dulu, ada yang harus ku lakukan"sambungnya sambil berlalu pergi.
Disy mengedarkan pandangannya, ia melihat handphonenya untuk melihat jam, waktu masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Disty mengedarkan pandangannya.
"Langitnya sangat cerah ini hari minggu, lebih baik sekarang aku nikmati hari liburku. Wah di depan ada taman, lebih baik aku pergi jalan kesana"seru Disty sambil memasukan kembali handphonenya di tas, tanpa melihat kanan kiri ia menyebrang.
Titt..titttt...
Sebuah mobil mengklakson dirinya, Disty terbelalak kaget. Untungnya sang pemilik mobil segera menginjak rem mobilnya hingga mampu berhenti di hadapan Disty. Disty masih shock ia masih menutup matanya.
__ADS_1
"Apa aku sudah mati..."lirihnya dengan nafas memburu.
"Hai Nona, ayolah jika kau mau mati jangan bunuh diri dengan menabrakan diri di mobilku, jika kau begitu aku bisa masuk penjara, kau tau aku bahkan belum menikah, pacar juga tidak punya, apa kau tidak kasihan dengan nasibku yang single ini.."ucap seorang pria dengan panjang lebar di sebelah Disty.
Aku merasa familiar dengan suara ini seru Disty dalam hati, Ia mendongakkan kepalanya dan terkejut.
"Dokter..."
"Disty.."
Memalukan aku bahkan secara tidak langsung jika aku jomblo, tapi memang aku tidak punya pacar ya seru Dokter Dika sambil menggaruk tengkuknya.
ππππ
πππkira-kira Alan bisa memperjuangkan Vriska gak ya..ππ
ππHappy reading.. jangan lupa like, komen, vote ya readers.. terimakasihππ
bersambung..
__ADS_1