Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Apa kau marah


__ADS_3

Satu bulan sudah setelah meninggalnya Luna, duka masih menyelimuti keluarga Nugraha. Vinda dan suami juga pulang mendengar meninggalnya Luna sang istri adiknya.


Hampir tiap hari Rava hanya menghabiskan waktunya di kamarnya, ia sering memandangi foto Luna. Penyesalan dan perasaan bersalah masih selalu menghantuinya. Seandainya ia tak mengijinkan Luna untuk ke kantor Rava tentu kecelakaan itu tak akan terjadi, dan Luna masih ada di sisinya. Namun nasi sudah menjadi bubur apa yang bisa ia lakukan saat ini.


Sungguh ia tak menyangka pelukan yang wakti itu adalah pelukan yang terakhir pantas saja ia rasanya begitu enggan meninggalkan Luna .


Orang tau Rava juga Vinda sudah mencoba membujuk Rava untuk segera mengikhlaskan kepergiaan Luna. Namun tak ada jawaban apa-apa, Rava hanya berdiam diri selama sebulan ini. Papa Adi pun terpaksa harus kembali ke kantor lagi menggantikan Rava, banyak pekerjaan terbengkalai.


Polisi sudah menyelidiki kejadian kecelakaan yang menimpa Luna. Tidak ada yang aneh kecelakaan tersebut memang murni kecelakaan tidak ada yang merencanakan.


****


"Sayang, boleh mama masuk" tanya Imel di balik pintu kamar Rava, namun tak ada jawaban dari si pemilik kamar. Akhirnya Imel masuk saja untung pintunya tidak di kunci.


Imel berjalan menghampiri Rava yang saat ini sedang duduk bersandar memeluk foto Luna tatapannya terlihat kosong.


"Rava, makan ya nak dari kemarin-kemarin kamu tidak makan nak. Mama takut kamu jatuh sakit." ucap Imel mencoba membujuk Rava


"tidak Ma, Rava tidak lapar"sahutnya dengan lemah


imel membelai rambut Rava "sampai kapan kamu mau seperti ini nak. Perjalanan hidupmu masih panjang nak. Ikhlaskan Luna, biarkan ia pergi dengan tenang."


"Kenapa ini harus terjadi ma, sungguh berat semua ini buat Rava ma. Kenapa secepat ini Tuhan mengambil Luna dari Rava ma. Seandainya waktu itu Rava tidak mengijinkan Luna pergi tentu Luna masih adakan di sisi Rava ma"ucapnya sambil terisak memeluk Imel


"Kita tidak boleh menyalahkan takdir nak, kau tau setiap manusia sudah punya takdir masing-masing. Takdir hidup Luna memang hanya sampai di sini menemanimu, saat ini kau harus memberbaiki hidupmu ikhlaskan Luna juga anakmu biarkan mereka bahagia di sana. Tentu Luna akan sedih jika melihatmu seperti ini. Mama mohon makanlah nak, mama suapin ya" ucap Imel


"tidak perlu biarlah nanti Rava makan sendiri. Tinggalkan aku sendiri ma, aku masih butuh waktu" sahut Rava

__ADS_1


Imel pu mencoba mengerti lalu keluar dari kamar Rava.


*****


"pah apa yang harus kita lakukan pah, sudah sebulan Luna tiada tapi keadaan Rava tidak berubah sama sekali. Mama khawatir pah." ucap Imel setelah duduk di sebelah suaminya . Di ruang keluarga di situ juga ada Vinda beserta suaminya.


"Mah, Rava masih berduka. Kita harus bersabar mah, pelan-pelan Rava pasti bisa menerima keadaan ini. Mama tau sendiri kematian Luna secara tiba-tiba bahkan Rava tidak sempat berbicara sepatah katapun." ucap Vinda


"iya, apa yang di bilang Vinda benar." sahut Satria suami Vinda


"iya ma, yang sabar ya kita harus banyak doa bantu Rava supaya cepat ikhlasin Luna dan bisa memulai hidup baru"ucap Adi .


Meski berat sebisa mungkin mereka harus menerima takdir yang sadah di gariskan tuhan.


******


Berdeda dengan suasana Rava yang masih di liputi duka. Di sebuah kampus ternama di Negeri Prancis seorang gadis tengah berjalan keluar dengan senyum terpancar kebahagiaannya, ia tengah menempuh pendidikan demi mendapatkan gelar sarjana seorang dokter. Meski ia berasal dari kelauraga bisnis tapi tak masalah bagi Dinda untuk menjejakkan keinginannya sebagai dokter.


sampai di rumah ia mendapati mamanya yang tengah duduk di ruang kelurga sambil menonton televisi.


"Ma, Dinda seneng sebentar lagi cita-cita Dinda bakal terwujud." ucap Dinda sambil memeluk mamanya


"Mama juga ikut seneng sayang. Em bagaimana apa anak mama yang cantik ini sudah punya calon apa belom" tanya Dewi membalas pelukan anaknya


"calon apa ma" tanya Dinda dengan polosnya,


" calon apa suami sayang."sahut Dewi

__ADS_1


"Ma Dinda belom mikirin itu ma." ucap Dinda


"Apa sampai detik ini kau masih mencintai Rava,?" tanya Dewi


"tidak ma, aku sudah tidak punya perasaan apa-apa sama kak Rava. Ma Dinda istirahat dulu ya" jawab Dinda sebelum beranjak pergi ke kamarnya..


****


Brukkk... Dinda melempar tas selempanya dan langsung tidura menatap langit-langit kamarnya. Sambil memikirkan sesuatu.


*Apa kabar kak Rava? Apa kau bahagia? tentu saja ia bahagia Dinda kenapa kau begitu bodoh, jelas ia menikah dengan orang yang di cintai.


Apa kak Rava masih mengingat Dinda? Bagaimana dengan kepergianku apa kak Rava mencari Dinda? dasar bodoh kau fikir kau ini siapa Dinda tentu saja ia tak peduli.


Tuhan dosakah aku mencintai suami orang, aku sudah berusaha menghapus rasa cinta ini, aku sudah pergi jauh darinya, memutus komunikasi dengannya. Tapi kenapa rasa ini bukannya hilang justru semakin tumbuh , Rinduku padanya terasa berat. Hati dan pikiranku bertolak belakang..


Entah sudah hampir satu bilang ini aku sering bermimpi tentangnya.. semoga kau bahagia..


Bagaimana aku bisa melupakannya.. Kak Rava aku merindukanmu, Apa kau marah padaku jika suatu saat nanti kita bertemu. Maaf aku pergi tanpa pamit*....


setelah pergulatan dengan pikirannya Dinda tertidur...


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2