
😊Jangan lupa tinggalkan jejak Vote,Like,dan Komen😊
_Selamat membaca_
******
*Aku hanya janji lain
yang tak bisa kau pertahankan*
...^^^anonim***^^^...
Dinda terduduk lemah di ranjangnya dengan tangan yang menggenggam test pack, di situ terlihat jelas hasilnya dua garis merah, ia positif hamil. Tadi pagi ia baru teringat lama tidak datang bulan, akhirnya ia iseng-iseng membeli test pack lalu memakainya. Ia tidak merasa mual atau ingin apapun saat ini, tidak seperti kebanyakn ibu hamil lainnya.
Mendadak ia menjadi bingung, apalagi mengingat kondisi rumah tangganya yang sedang kacau. Di situ sisi ia bahagia saat ini ada janin dalam perutnya, namun di sisi lain ia merasa takut, takut jika suatu hari ia bertemu lagi dengan Rava, ia akan menyuruhnya untuk mengugurkan bayinya. Mengingat Rava tak menginginkan dirinya, apalagi Rava juga pernah bilang jika ia belum menginginkan anak. Tapi apapun yang terjadi nanti ia akan hadapi.
"Bagaimana hasilnya?"tanya Indah yang baru masuk di kamar Dinda. Dinda pun memberikan test pack itu, lalu indah mengambilnya dan melihatnya, seketika senyum merekah di wajahnya.
"Selamat, wah kau akan menjadi seorang ibu, aku ikut bahagia."seru Indah sambil memeluk Dinda, namun Dinda tetap tidak bergeming "Kenapa denganmu apa kau tidak bahagia dengan kehamilanmu"sambungnya
Dinda menggeleng "Bukan itu, aku tentu bahagia dengan kehadiran anak ini. Hanya saja jika aku hamil aku tidak akan bisa bercerai dengan Kak Rava"
Indah tersenyum sinis "Apa yang kau fikirkan, kenapa harus bercerai, apa kau tidak berfikir bagaimana dengan anakmu jika kau bercerai dengan suamimu, kau tidak kasihan dengannya bahkan ia pun belum lahir ke dunia ini. Tidak terfikirkankah dirimu, mungkin saja kehadiran dirinya itu akan mengubah permasalahan rumah tanggamu ini. Kenapa kau tidak memberi kesempatan pada suamimu untuk menjelaskan apa yang terjadi, mungkin saja semua yang terjadi hanya salah paham. Saat ini Tuhan sudah menunjukkan jalan agar kau tidak bercerai dengan suamimu, dengan adanya anak yang kau kandung saat ini"Jelas Indah penuh penekanan, sunggu Indah benci dengan kata perceraian.
Dinda mendongak menatap Indah "Kau tidak mengerti Indah, aku sudah tau semuanya tidak perlu penjelasan apapun"
"Aku mengerti, aku sangat mengerti Dinda, sebagai seorang sahabat aku ingin yang terbaik untukmu. Jangan korbankan anakmu demi keegoisanmu. Lihatlah Sava dia tumbuh tidak dengan kasih sayang ayahnya, kau tau aku hampir tiap hari menangis, aku sakit hati kala ia bertanya di mana ayahnya. Kau pun tau aku bercerai dengan ayahnya karena apa, aku di khianati dengan sahabatku sendiri aku tau saat itu posisiku baru melahirkan Sava. Tolong pikirkanlah anak yang ada dalam kandunganmu"jelas Indah.
__ADS_1
******
Seperti pagi sebelumnya Rava bangun tidur kembali merasakan mual lalu memuntahkan segala isi perutnya, sungguh ia merasa seperti di aduk-aduk perutnya.
Pagi itu Aldo juga sudah tiba di kediaman Rava untuk menjemput atasannya itu, nyatanya sudah hampir jam setengah sembilan atasannya itu baru siap untuk berangkat ke kantor.
Sepanjang perjalanan Rava hanya terdiam ia hanya tengah berfikir ada apakah dengan dirinya, belakangan ini ia merasa aneh, mungkinkah ia menyidap penyakit yang berbahaya, pikirnya.
Saat tiba di kantornya Rava segera masuk ke dalam di ikuti Aldo.
"Al, bolehkah aku minta tolong"ucap Rava setelah duduk di kursinya.
"Tentu, apa tuan"sahut Aldo
"Belikan aku sarapan"perintah Rava, saat Aldo ingin bertanya menu apa Rava kembali berkata "Kau lihat tadi di perempatan lampu merah sebelum gedung mall itu ada penjual bakso bukan, tolong belikan aku bakso di sana"sambungnya.
Rava tampak menatap tajam Aldo "Tapi aku ingin makan bakso yang di sana, cepat belikan tidak pakai lama, jangan banyak membantah dan bicara, akhir-akhir ini kau seperti perempuan banyak bicara aku jadi kesel sekali padamu". Tidak mau memperpanjang masalah Aldo pun menuruti keinginan Rava.
Setelah berhasil mendapatkan pesanan Rava, Aldo pun kembali dan memberikannya pada Rava.
*******
Hari ini Dinda merasa amat bosan berada di apartemen Indah, ia pun keluar mencari udara segar. Beruntungnya kehamilan ini tidak membuatnya repot, ia belum ada niat untuk memeriksakan ke dokter kandungan, ah mungkin nanti.
Ia pergi ke sebuah mall untuk membeli handphone baru, ia melupakan handphone lamanya entah tertinggal di mana mungkin jatuh. Setelah selesai membeli handphone serta mengisinya dengan sim card baru. Dinda berjalan pulang, karena jarak dari mall ke apartemen dekat ia memilih untuk berjalan kaki.
Di tengah jalan ia menghentikan langkahnya, ia merasa ada seseorang yang mengikuti, namun saat ia berbalik tidak ada siapapun. Itu terjadi berulang kali, akhirnya ia pun mempercepat langkahnya, ah ia merasa takut ada apakah gerangan, siapa yang tengah mengincarnya, mungkinkah ia dalam bahaya.
__ADS_1
Dengan rasa gemetar ia masuk ke dalam kamar, lalu mengambil handphonenya. Kali ini ia berniat menghubungi orang tuanya, sungguh ia amat merindukan mereka.
Setelah telephone tersambung ia meneteskan air matanya saat mendengar suara papanya.
"Hallo, dengan siapa ya"_papa Dicky
"Em pa, ini aku Dinda"_Dinda
"Ya ampun akhirnya kau ada kabar nak, kami semua sangat mengkhawatirkanmu, katakan pada papa di mana kau berada, papa akan menjemputmu nak"_papa Dicky
"Tidak, aku belum ingin kembali. Papa tenang saja aku baik-baik saja. Jika nanti aku sudah tenang, aku akan kembali."_Dinda
"Kenapa? papa tau nak kau sedang ada masalah dengan suamimu. Tapi perlukah kau sekejam ini menghukumnya, kau tau ia bahkan nyaris seperti Rava yang tidak papa kenal. Semua masalah bisa di bicarakan baik-baik, pulanglah kasihan suamimu"_papa Dicky
"Aku tidak peduli dengannya pa. Sudah aku tutup dulu telepohonnya, tolong sampaikan salamku pada mama"_Dinda
Setelahnya Dinda mematikan sambungan telephonenya.
****
Rava mengambil bingkai yang berisikan foto Dinda, lalu memeluknya.
"Aku sungguh merindukanmu, maafkan aku yang terus menanamkan luka padamu, aku sungguh tidak tau beberapa tahun lalu kaupun pergi diriku, lalu saat ini kau pergi karena diriku. Sungguh aku menyesal dengan segala perbuatanku. Ku fikir kau hanya seorang gadis manja, nyatanya kau adalah wanita sekaligus istri yang begitu kuat dan mandiri. Maafkan aku, beritahu aku di mana kau berada, aku akan menghampus segala luka yang pernah ku torehakan padamu, lalu menggantinya dengan kebahagiaan. Aku sungguh tidak menyangka jika Luna sekejam itu padamu, Luna bisa meminta permintaan yang konyol bagiku, ah sungguh aku ingin marah padanya, tapi Dinda aku bisa apa, aku tidak bisa memarahinya dia sudah tidak ada di sini, harus dengan apa aku menyampaikan rasa kecewaku padanya. Kenapa ia tidak percaya padaku dengan menyuruhmu pergi dariku dulu. Saat ini aku pastikan di hatiku hanya dirimu, aku telah mengubur dalam-dalam perasaanku pada Luna, aku sudah menyimpanya dengan kenangan masa lalu. Dulu aku hanya berfikir kau pergi karena sudah mau berteman denganku, aku berkali-kali menghubungimu tapi tidak bisa kau telah sengaja mengganti no ponselmu, sesungguh aku dulu merasa kehilangan sosok ceria dirimu, setelah kita di pertemukan lagi aku tidak menyangka kau berubah menjadi sosok yang dewasa, segala hal tingkah ke kanak-kanakan tentangmu juga hilang. Saat itu aku menghindarimu, sejujurnya aku merasa bersalah akan sikap Luna padamu, hanya saja aku tidak bisa menyikapinya dengan benar, aku pun tau saat itu kau telah mempunyai kekasih untuk itu menjauhimu dan bersikap tidak mengenalmu, aku tidak mau kembali menorehkan luka harapan padamu, nyatanya aku mendengar kenyataan dari Alan yang membuat sangat kaget dan shock kau menyimpan rasa cinta yang begitu dalam untukku. Kau tau setelah kau pergi aku menyadari seberapa pentingnya dirimu, ternyata aku juga mencintaimu, ah aku sangat merindukanmu, tolong kembalilah beri aku kesempatan, untuk membuktikan segala ucapanku"ucap Rava meraba foto Dinda lalu membawa ke ranjangnya tidak lama setelah itu ia pun tertidur.
.
.
__ADS_1
bersambung..