Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Apa dia rewel


__ADS_3

Sudah satu minggu Dinda pindah ke Paris tanpa sepengetahuan Rava, namun Dinda tetap pamit pada orang tua Rava. Setiap berangkat dan pergi ke kantor Rava merasa heran setiap melewati rumah Dinda, kenapa rumah itu terasa sepi. Bahkan sudah berhari-hari ia juga tak melihat Dinda. Melihat pos satpam yang hendak menutup gerbang setelah mobil Vano masuk ke dalam, rava yang kebetulan baru pulang dari kantor turun dan menghampiri pak satpam tersebut.


"Pak." ucap Rava


"Eh den Rava, ada apa den?"tanya satpam tersebut


"Em kok rumah ini sudah berhari-hari kelihatan sepi. Memangnya orangnya pada kemana ya pak" tanya Rava


"Lho den Rava gak tau apa. Kalau Tuan dan Nyonya pindah ke paris"ucapnya


"Oh ada kenapa kok pindah? Lalu Dinda nya ada pak?" tanya Rava kembali


"Ya ada urusan bisnis gitulah den mereka mau lama di sana. Dan Non Dinda juga ikut pindah den."jelasnya. Membuat Rava terkejut


"Oh begitu ya.. ya sudah pak saya permisi" pamit Rava sebelum akhir ia kembali ke mobil.


*******


Dinda pindah ke Paris , rumah kami berdekatan bukan tapi kenapa ia tak pamit padaku, bahkan sekedar menghubungiku atau minimal bisakan ia pamit lewat chat padaku. Ku fikir ia sedang sibuk dengan kuliahnya. Kenapa aku sangat kecewa ia pergi tanpa memberitahuku. Aku juga rasanya sangat marah.. ah brengsekk.... Dia bilang kita sahabat tapi hal seperti ini saja dia tak mau bicara padaku. Tunggu... ku fikir semenjak pernikahanku bahkan ia tak pernah dekat padaku ia terus menghindar dariku, jangan-jangan ia ikut pindah ke Paris karena memang untuk menghindariku, tapi kenapa? hemm sudahlah lupakan... oke mungkin memanh ia sudah tak mau mengenalku lagi. Mari kita lupakan persahabatn kita Dinda.


Rava memasuki rumahnya dengan lesu seperti ada beban berat yang menimpanya.


"Va masuk rumah kok main nylonong aja bukannya ucap salam"tegur mama Imel


Rava menghembuksan nafasnya.

__ADS_1


"Maaf ma Rava lupa. Mah.. apa Mama tau Dinda pindah ke Paris?" tanya Rava


"Oh ya tentua taulah sayang. Memangnya kenapa? kemarin waktu mau berangkat juga mereka pamit kok sama Mama dan Papa." ucap Imel dan Rava hanya menganggukan kepalanya sebelum ia berlalu pergi ke kamarnya. Terlihat Luna sudah terlelap, entahlah semenjak hamil Luna menjadi gampang lelah , seringkali Rava pulang kerja mendapati Luna sudah tidur.. Rava berjalan mendekati Luna yang terlelap. Ia duduk di samping istrinya menyibakan rambut yang menutupi dahi istrinya kemudia membelainya sebelum akhirnya mendaratkan kecupan singkat di dahi istrinya.


Luna menggeliat merasa terusik kemudian membuka matanya.


"Em kau sudah pulang sayang." tanya Luna sambil mencoba duduk


"kenapa bangun. Apa aku menggangu istirahatmu?" ucap Rava


Luna tersenyum "em tidak. Kau baru pulang . Mandilah setelah itu makan, aku akan siapin air hangat untumu"ucap Luna


"tidak perlu sayang. Aku bisa sendiri.. kau tetaplah di sini." sahut Rava sebelum beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Luna bangun mempersiapkan baju Rava.


"Apa hari ini dia rewel"tanya Rava


"tidak , hanya saja seharian ini ia mengajak maminya tidur terus" ucap Luna


"tidak masalah kau memang harus banyak istirahat kan" sahut Rava


"Heem sih.. Em apa ada yang fikirkan sayang kau terlihat letih sekali" tanya Luna


"tidak ada . Aku hanya heran dengan kepindahan Dinda," jawab Rava

__ADS_1


"lha Dinda pindah kemana." tanya Luna


"ke Paris.. mereka sudah berangkat dari seminggu yang lalu. Tapi Dinda tak pamit padaku. Entahlah aku tidak tau dengannya.. Aku merasa ia slalu mengindariku. Mungkin saja ia memang sengaja tak pamitan padaku. Padahal satu hari sebelum ia pergi, aku bertemu dan ngobrol dengannya, tapi bahkan tak menyinggung tentang kepindahannya itu." jelas Rava


"Mungkin saja itu mendadak." ucap Luna mencoba menenangkan Rava


"sudahlah biarkan saja. itu sudah kemauan dia. lebih baik sekarang kita turun dan makan malam" ucap Rava sambil mengajak Luna keluar dair kamarnya..


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2