Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Rumah siapa


__ADS_3

Waktu terus berlalu, setelah dua minggu Rava sadar serta menjalankan terapinya, kini Rava telah kembali pulih.


Hari ini Rava telah di ijinkan pulang, senyum bahagia tidak henti ia berikan, apalagi selama masa terapi Dinda sering menemaninya.


Kini Rava dan Dinda beserta Davis telah berada di mobil menuju jalan pulang.


"Kau sudah persiapkan semua kan Al.."tanya Rava


"Sesuai perintah tuan.."jawab Aldo sambil menyetir.


"Hai anak Daddy kau lucu sekali, kenapa kau semakin tampan."ucap Rava sambil mencium baby Davis yang berada dalam gendongan Dinda, seakan mengerti apa yang di ucapkan ayahnya bayi itu tersenyum senang.


Aldo yang melihat pemandangan itu merasa sangat bahagia.


Mobil terus melaju membawa mereka ke rumah, Dinda mengedarkan pandangannya ia seperti mengenali arah jalan pulang ini, ini merupakan arah jalan pulang ke rumah orang tua dan mertuanya, bukan ke rumahnya yang dulu.


"Kak kau bilang kita akan pulang ke rumah kita, tapi kenapa lewat jalan sini, bukankah di depan tadi kita harusnya belok.."ucap Dinda dengan bingung.


Rava mengambil Davis dari gendongan Dinda. "Tenang Aldo tidak mungkin membuat kita salah jalan.." sahut Rava sambil mencium pipi Davis yang tampak gembul.


"Tapi..."


Belum sempat Dinda meneruskan ucapannya, mobil yang mereka tumpangi telah berhenti di sebuah rumah mewah, rumah ini terletak tidak jauh dari rumah orang tua dan mertua Dinda.


"Ini rumah siapa..?"tanya Dinda setelah membuka pintu mobilnya.


"Ayo masuklah.."ajak Rava


"Tapi.."Dinda bingung


"Ayo masuk sayang,.."Kata Rava sambil merangkul tangannya, sedang tangan satunya ia gunakan untuk menggendong Davis. Bayi itu tampak anteng dan nyaman berada dalam gendongan Daddynya.


Dinda pun mengikuti langkah Rava, meski dalam hati masih banyak menimbulkan tanda tanya. Saat sampai di pintu,


"Tolong bukalah sayang , tanganku ku gunakan untuk menggendong Davis kan.."pinta Rava

__ADS_1


Dinda pun mengikuti perintah Rava untuk membuka pintu.


Ceklek.. pintu terbuka..


"Surprise...." seru semuanya, di situ ada Mama Dewi, Mama Imel, Papa Dicky, Papa Adi, Vano dan Alisa, serta Vinda dan Hendrik dan Varen.


"Kalian..."Dinda menutup mulutnya melihat pemandangan yang ada, ruangan tamu itu di hias sedemikian rupa, lalu di situ juga ada sebuah kue ulang tahun dengan lilin berlabel 23 tahun.


"Selamat ulang tahun sayang, selama datang di rumah kita.."ucap Rava sambil tersenyum manis pada Dinda serta memberikan ciumana lembut di dahi Dinda.


"Ulang tahun..? rumah kita..? maksudnya.."tanya Dinda


"Kau lupa ini kan hari ulang tahunmu dan ini memang rumah kita,"seru Rava


"Tapi..."


"tanyakanlah nanti, sekarang ayo tiup lilinnya.."ajak Rava.


Setelah itu Dinda pun berjalan untuk meniup lilinnya,


"Makasih mama, aku akan terus menjadi putri mama"sahut Dinda sambil memeluk mama Imel.


"Selamat ulang tahun, jadilah ibu dan istri yang baik untuk anak dan suamimu.."ucap Mama Dewi


"Akan aku usahakan, terimakasih mama, aku bahagia telah memilik mama seperti dirimu.."sahut Dinda lalu memeluk mamanya. Lalu kembali melepasnya.


"Selamat ulang tahun sayang, putri papa yang manja sudah dewasa, kau sudah menjadi istri juga seorang ibu, papa hanya berharap semoga kebahagiaan akan selalu menyertaimu nak"ucap Papa Dicky.


"Terimakasih papa,"sahut Dinda dengan mata berkaca-kaca, ia sangat menganggumi sikap papanya yang penuh dengan kebijakan, ia tidak pernah menampakkan emosi di depannya.


"Selamat ulang tahun ya Dinda, doa papa semoga ini akan menjadi awal yang bahagia untuk kamu dan Rava"ucap Papa Adi


Setelah itu Vinda dan Hendrik ikut memberikan ucapan selamat pada Dinda.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


Dinda tengah berdiri di balkon kamarnya sambil memperhatikan bintang-bintang yang bertebaran di langit. Lalu ia di kejutkan sebuah tangan yang melingkar di pinganngnya.


"Kenapa belum tidur, angin malam tidak baik untuk tubuh. Ayo tidurlah.."ucap Rava


Dind menghela nafasnya, melepas tangan Rava dari pinggangnya kemudia ia berbalik ke arah Rava "kenapa kita harus pindah, bukankah ini terlalu berlebihan.."tanya Dinda


Rava tersenyum manis pada Dinda, lalu ia merapikan rambut Dinda yang hampir menutupi wajahnya "Ini tidak berlebihan, aku sudah bilang sebelumnya, jika kita akan memulai hidup yang baru bukan. Aku tidak ingin jika kau akan terus teringat perlakuanku dulu pada saat di rumah itu, ku mohon mengertilah, aku tidak mau kehilanganmu lagi"


"Lalu rumah itu kau apakan.."tanya Dinda


"Memangnya kau tidak membaca dokumen yang Aldo berikan waktu itu"tanya balik Rava, Dinda hanya menggeleng.


"Rumah itu aku berikan atas nama Davis, dan rumah ini aku berikan atas nama kamu.."seru Rava


"kenapa begitu.."sahut Dinda


"Karena semua yang ku punya adalah milikmu, ayo masuklah udaranya makin dingin."pinta Rava sambil merangkul Dinda membawanya masuk lalu menutup jendelanya. Dinda pun langsung tiduran, setelahnya Rava ikut merangkak naik ke tempat tidur, karena posisi Dinda membelakanginya, Rava pikir Dinda sudah tidur.


"kenapa..?"tanya Rava saat ia di kejutkan sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya.


"Terimakasih.."ucap Dinda


"untuk..?"Rava membalikan tubuhnya menghadap Dinda lalu tersenyum.


"Untuk kejutannya, aku bahagia dan terharu.."seru Dinda


"Itu adalah hal kecil yang ku lakukan padamua, tidak sebanding dengan apa yang ku perbuat padamu dulu"ucap Rava dengan sendu.


"Kau bilang kau ingin memulai hidup yang baru denganku, jadi lupakanlah soal yang dulu, mari kita buka lembaran yang baru, jangan bahas masalah yang lalu.."ucap Dinda


"Baiklah ayo kita tidur, hari sudah malam.."ucap Rava, sambil membenamkan wajah Dinda ke dalam pelukannya..


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹Jangan lupa komen, like, dan vote yang readersπŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹Selamat membaca.πŸŽ‹πŸŽ‹


__ADS_2