Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Dalam bahaya


__ADS_3

Seperti rencana kemarin hari ini Rava, Aldo serta Alan akan berangkat ke Surabaya bersama. Setelah menempuh perjalanan yang panjang mereka tiba di sebuah hotel. Mereka hanya memesan satu kamar saja. Setelah beristirahat sebentar, Aldo pun ijin turun untuk memesan makanan serta menelpon istrinya.


"Bagaimana, apa sudah ada kabar dari Dinda"tanya Alan sambil membenarkan posisi duduknya.


"Belum, aku hampir putus asa mencarinya, apa kau tau Dinda justru mengirimkan surat gugatan cerai padaku"seru Rava dengan rasa kecewanya.


Alan tampak kaget "Benarkah, aku tidak percaya jika ia mampu memberikan gugatan padamu,"


"Percaya atau tidak itu hak mu, tapi aku tidak akan mau menandatangi surat itu. Oh ya lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, kapan kau akan menikah,"ucap Rava


Alan tampak tersenyum "Aku masih bimbang akan perasaanku pada Vriska, aku tidak yakin jika aku mencintainya. Jujur aku justru mencintai wanita lain, aku bingung harus bagaimana saat ini. Aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku tapi aku juga tidak ingin mengorbankan perasaanku begitu saja"tutur Alan dengan sendu.


Rava mengernyit "Siapa wanita lain itu, jangan bilang jika itu istriku, kau sedang menunggu status istriku ya"cecar Rava dengan kesal.


"Oh ya ampun, kau masih saja cemburu lalu berfikir seenakmu saja. Ini tidak ada hubungannya dengan Dinda. Aku sudah ikhlas, perasaanku pada istrimu saat ini murni hanya seorang sahabat."Jelas Alan "em tapi jika kau memang benar akan menceraikannya aku juga mau kok nerima jandanya.."sambung Alan dengan tawa meledak merasa puas bisa meledek Rava.


"Kau mau mati ya.."teriak Rava


Perdebatan mereka pun terhenti dengan kehadiran Aldo yang membawa makanan.


"Kapan kita akan ke lokasi"tanya Alan di sela-sela makannya.


"Rencananya besok tuan"Jawab Aldo

__ADS_1


Alan pun tampak mengangguk mengerti.


**********


"Kita apakan orang ini tuan"tanya Aldo, saat ini mereka tengah berada di lokasi untuk mengecek proyek kerja sama dengan Alan.


Tidak lama dengan tingkat kepintaran Rava dan Alan, akhirnya mereka bisa menemukan penyusup yang mengkhianati mereka "Masukan dia ke penjara"perintah Rava


"Betul, lakukan seperti itu Aldo, aku tidak suka seorang pengkhianat"sahut Alan dengan penuh penekanan menatap tajam seorang pria yang tengah di cengkram erat oleh Aldo.


"Ampuni saya tuan, jika saya di penjara bagaimana dengan anak dan istri saya.."ucap pria itu dengan gemetar.


"Itu bukan urusanku, kau tidak berfikir bukan sebelumnya saat melakukan kelicikan yang kau buat, kau tidak berfikir akibatnya bukan"Ucap Alan


"Katakan siapa yang menyuruhmu"teriak Rava dengan kencang,


"Saya di suruh oleh R..."ucap pria itu terbata,


Sebelum akhirnya sebuah tembakan melayang di perut pria itu, hingga pria itu jatuh tersungkur. Membuat semua yang berada di situ terlunjak kaget, entah dari mana peluru itu datangnya. Aldo melihat seorang pria misterius memakai pakaian serba hitam, ia berusaha lari mengejarnya namun tidak bisa pria itu benar-benar ahli menghilangkan jejaknya.


Sementara itu Alan dan Rava berusaha membawa pria yang tertembak tadi ke rumah sakit, Rava berharap semoga karyawannya itu dapat tertolong sehingga ia bis tau siapa dalang di balik semuanya.


*******

__ADS_1


Sementara itu saat ini Dinda tengah berjalan di lorong rumah sakit, ia habis memeriksakan kandungannya, dokter bilang kandungannya sehat, usianya sudah menginjak delapan minggu.


Sepanjang perjalanan ia tersenyum bahagia sambil mengelus perutnya, namun tidak lama ia memperlihatkan wajah sendunya.


"Maafkan mommy sayang, maaf karena membuatmu jauh dari Daddymu, maaf tidak bisa membuatmu dekat dengannya,. Maaf karena mommy memutuskan untuk memberi Daddymu gugatan. Mommy takut sayang, jika harus bertemu dan kembali pada Daddymu. Apalagi dengan kehadiranmu yang tidak ia inginkan, mami takut ia akan menyuruh untuk menghilangkan. Apapun yang terjadi mommy akan melindungimu,"ucap Dinda, pikirannya teringat akan ucapan Rava saat dulu, ia pernah berkata belum ingin mempunyai anak.


Sementara itu dari jauh nampak seorang pria tercekat kaget melihat kehadiran Dinda yang tengah berada di rumah sakit itu,


"Nona Dinda, aku yakin itu nona Dinda"ucap Aldo merasa bahagia bisa menemukan istri atasannya itu.


Aldo berusaha mencari handphonenya namun tidak ada "Sial, handphoneku pasti terjatuh, bagaiman aku menghubungi Tuan Rava" gumam Aldo, sambil terus mengawasi Dinda.


Melihat Dinda beranjak pergi akhirnya Aldo memutuskan untuk mengikutinya, ia sengaja tidak langsung menemui Dinda, ia ingin tau di mana Dinda tinggal.


Aldo melihat Dinda masuk ke dalam gedung apartemen dekat rumah sakit tadi ia berada, lalu ia tersenyum dan mengedarkan pandangannya, sekilas ia melihat tatapan tajam seseorang, ia mengamati pria itu tadi yang ia kejar, lalu apa hubungannya dia di sini, siapa yang ingin dia incar.


"Oh ya ampun, tidak mungkin. Nona Dinda dalam bahaya, pria itu pasti mengincar Nona Dinda, aku harus melakukan sesuatu"ucap Aldo


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2