
Hari di mana Rava dan Dinda akan mengunjungi panti di mana dulu Luna di besarkan pun tiba. Dinda pun mengajukan cuti dari pekerjaannya, rasanya setelah sekian lama bekerja ia butuh refreshing, mungkin dengan bepergian ke panti akan menghilangkan kepenakatannya, mengingat nanti di sana akan bertemu dengan anak-anak kecil yang lucu.
"Kalau kau merasa lelah tidur saja, nanti aku akan membangunkanmu kalau sudah sampai?"ucap Rava yang kala itu sedang mengemudikan mobilnya.
"Apakah perjalanannya memakan waktu yang lama"tanya Dinda
"Mungkin sekitar dua jam."ucap Rava
Dinda hanya menganggukan kepalanya, lalu bersender pada kursi mobilnya, lama-lama ia pun terlelap.
********
Dua jam kemudian, mereka telah sampai di tempat tujuan, Rava membangunkan Dinda memberi tahu bahwa sudah sampai.
"Wah pemandanganannya sangat indah..."ucap Dinda sambil merenggangkan tangannga yang kala itu tengah melihat banyaknya pepohonan,
"Kau suka...."tanya Rava sambil menurunkan beberapa barang bawaan mereka yang hendak di berikan di panti.
Saat Dinda hendak menjawab terlihat wanita paruh baya menghampiri mereka.
"Eh ada nak Rava mari masuk.... dan ini....?"tanya Bu Rosidah selaku pengurus panti sambil menunjuk Dinda.
Menyadari kebingungan Bu Rosidah Rava pun menjawab pertanyaannya.
"Dia istriku bu..."ucap Rava sambil mencium punggung telapak tangan Bu Rosidah.
"Oh nak Rava sudah menikah lagi..."Ucap Bu Rosidah
"Iya enam bulan yang lalu, maaf tidak mengundang ibu, acaranya hanya di hadiri keluarga saja.."ucap Rava menutupi segalanya, jelas sekali padahal acara tersebut di gelar secara meriah.
"Tidak apa-apa nak , ibu senang akhirnya nak Rava bisa mengikhlaskan Luna. Oh ya mari masuk.." ajak Bu Rosidah.
Lalu Dinda dan Bu Rosidah saling mengenalkan diri.
*****
Setelah mengistirahatkan dirinya dengan duduk di ruang tamu panti tersebut, Bu Rosidah pun mengajak Rava dan Dinda untuk berkeliling di panti tersebut.
Saat sedang mengobrol terdengar suara tangis bayi menangis dengan kencang, Dinda yang kala itu juga mendengar akhirnya berusaha mencari suara tersebut. Tampak seorang bayi yang menangis dengan kencang di gendongan seorang pengasuh panti itu.
"Bisakah saya menggendongnya.."ucap Dinda
"Silakan Nona.."sahut sang pengasuh panti sambil menyerahkan bayi itu pada Dinda.
Dinda berusaha meredakan tangis bayi itu, tidak lama bayi itu berhenti menangis, justru tersenyum pada Dinda.
Interaksi Dinda tidak luput dari pengamatan Rava dan Bu Rosidah .
"Kau pintar memilih istri nak Rava, ibu lihat dia begitu dewasa juga cekatan dalam mengurus bayi, kau lihat dalam sekejap bayi itu bisa tersenyum bahagia di gendongan istrimu. Dia akan menjadi ibu yang hebat untuk anakmu kelak, ibu yakin itu. Jaga Dia jangan sakiti dia, "ucap Bu Rosidah pada Rava
"Iya bu.."sahut Rava sambil mengamati Dinda.
Benar kata Bu Rosidah, dia sangat dewasa. Tapi untuk anak, aku... aku masih merasa trauma.
******
Saat ini Rava dan Dinda duduk di taman belakang panti tetsebut, Rava memang membangun panti tersebut menjadi lebih baik dari sebelumnya.
"Kau tau tempat ini adalah tempat favorit Luna dulu, kami sering menghabiskan waktu di sini ketika sedang berada di panti"ucap Rava setelah menyesap teh nya.
"Dia begitu bahagia jika aku mengajak kesini, selalu tersenyum .."lanjutnya.
Mendapati senyum bahagia di wajah Rava kala menceritakan soal Luna, Dinda hanya tersenyum getir.
__ADS_1
"apa kau begitu mencintainya sampai saat ini?"tanya Dinda akhirnya.
"Entahlah.... aku tidak tau rasa hatiku"sahut Rava.
Dinda menghebuskan nafasnya menandakan ia kecewa dengan jawab Rava.
"Sampai kapan...?"tanya Dinda seketika membuat Rava menolehkan kepalanya pada Dinda.
"Maksudnya...."sahut Rava dengan terkejut mendapati muka Dinda yang menatap dengan sendu.
"Sampai kapan aku harus menunggu. Menunggu kau bisa ikhlas dengan kepergian Luna kak. Kau itu harus sadar Luna sudah tiada, aku ini istrimu saat ini. Kenapa kau tak bisa menjaga perasaanku. Di manapun kau berada kau selalu menyebut Luna. Enam bulan pernikahan kita kau tetap sama, selalu Luna dan Luna, aku bosan mendengarnya. Bisakah kau mengertikan posisiku kak. Ikhlaskan dia, mari kita bina rumah tangga yang semestinya. Sungguh aku hampir merasa lelah.."Ucap Dinda dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku, jangan menangis. Aku akan mencobanya. Tolong bantu aku."sahut Rava sambil membawa Dinda ke dalam pelukannya. Lalu tangis Dinda pun pecah.
*******
Hari sudah menjelang sore Rava dan Dinda pun memutuskan untuk pulang, setelah berpamitan pada seluruh penghuni panti. Rava melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, Dinda tidak tidur namun hanya menatap jalanan dengan pandangan kosong. Rava pun tidak mengajak Dinda berbicara, karena Rava tau Dinda masih marah padanya. Terdengar petir menggelegar sepertinya mau turun hujan.
Dan benar saja rintik-rintik hujan mulai turun membasahi jalanan. Rava tetap melanjutkan perjalanannya dengan hati-hati. Namun tiba-tina mobilnya berhenti tidak bisa di jalankan.
"Sial, kenapa lagi...?"ucap Rava
"Aku akan turun, sepertinya mobilnya mengalam kerusakan aku akan mengeceknya. Kau tetaplah di sini jangan turun, hujannya lumayan deras." lanjut Rava sebelum keluar
"Baiklah..."sahut Dinda
Rava pun mengecek mobilnya mendapati ban mobilnya kempes, melihat sekelilingnya tidak menemukan orang juga bengkel terdekat tidak ada. Akhirnya ia memutuskan untuk menggantinya sendiri.
Ah sial sekali, ini mungkin karma aku telah membuat istriku menangis tadi. ucapnya
******
Saat sedang mengganti ban mobilnya, tiba-tiba Rava tidak mendapati air hujan yang menetes membasahi dirinya. Ia pun mendangak ke atas melihat Dinda sedang memayungi dirinya.
"Kenapa turun, aku sudah bilang jangan turun. Masuklah hujannya dan anginya begitu kencang"ucap Rava dengan keras
"Aku tidak mau..."sahut Dinda tak kalah keras kepalanya.
"Kenapa kau begitu keras kepala. Masuklah nanti kau bisa sakit" ucap Rava lagi
"Aku bilang tidak mau. Aku akan menemanimu di sini ." jawab Dinda
"Aku tidak apa-apa, .... ahh terserah lah. Sungguh lelah berdebat denganmu..." decak Rava
"Aku bahkan tidak mengajaknya berdebat..."ucap Dinda dengan sinis.
"Ah beres selesai,"ucap Rava sambil berdiri lalu menyimpan alat-alatnya kembali.
"Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanannya, em kita cari penginapan saja." ucap Rava lalu mengambil baju ganti yang berada dalam jok mobil. Dan menggandeng tangan Dinda untuk mencari penginapan .
Setelah mendapat penginapan di dekat situ, akhirnya Rava menyuruh Dinda untuk membersihkan diri. Ia pun memesankan teh hangat untuknya.
Lima belas menit berlalu Dinda selesai membersihkan diri, keluat dengan kemejanya Rava. Meski terlihat kedodoran namun ia tetal cantik.
Mendapati muka Dinda yang pucat, Rava tampak khawatir lalu memegang kening Dinda.
"Kau tidak demam kan, apa kau pusing kenapa wajahnya begitu pucat, katakan kau tidak apa-apakan" ucap Rava dengan khawatir
Dinda mengerutkan keningnya, melihat kepanikan Rava.
"Aku tidak papa, kau yang kenapa?"ucap Dinda
__ADS_1
"syukurlah, eh sini aku bantu keringkan rambutmu"ucap Rava mengambil handuk dari tangan Dinda lalu mengeringkan rambutnya.
"Aku bisa sendiri, kau mandilah "ucap Dinda
"Sebentar, biar kering dulu" sahut Rava. Dinda pun hanya menurut saja membiarkan Rava mengeringkan rambutnya.
"Sudah selesai, aku mandi dulu. Minumlah teh mu sebelum tidur"ucap Rava sebelum beranjak ke kamar mandi.
*******
Rava keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap , mendapati Dinda sedang tidur dengan selimut yang bergelung di badannya, dan berkali-kali membolak-balikkan badannya.
Rava merangkak naik ke tempat tidur, menyusul Dinda untuk tidur.
"Kau kenapa...?"tanya Rava mendapati Dinda seperti gelisah.
"Aku sungguh kedinginan, "ucap Dinda dengan bibir bergetar.
"Bagaimana bisa dingin, bahkan AC juga di matikan, lalu kau sudah memakai selimut begitu tebal. Kau sudah minum teh hangatnya bukan.."sahut Rava
"Aku bilang dingin, kau tidak lihat cuaca di luar hujan begitu deras anginnya juga begitu kencang."ucap Dinda dengan ketus
Rasanya Rava ingin tertawa melihat Dinda berbicara.
"Hah.. sudah ku bilang jangan turun. Kau malah turun hujan-hujanan, kau memang keras kepala. Tidurlah, aku akan memelukmu? bagaimana apa sudah merasa hangat.."tanya Rava sembari memeluk Dinda.
"tidak ini begitu dingin, kenapa begini...?"ucap Dinda dengan bibir bergetar.
"Aku harus bagaimana, kau tau ini hanya penginapan sederhana tidak ada penghangat ruangan di sini. "Rava terus berfikir mencari jalan keluar.
Melihat bibir Dinda yang terus bergetar menandakan hawa dingin masih melanda. Rava pun menciumnya dengan lembut, Dinda yang sedang merasakan dingin hanya diam dan melototkan matanya. Untuk kesekian kalinya ia merasakan Rava menciumnya. Tangan Rava pun sudah bergelya kemana-mana. Merasa tidak mendapatkan respon, ia menghentikan semuanya lalu mendekap erat Dinda.
"Tidurlah, aku tau kau belum siap. Aku tidak akan melakukannya sekarang."ucap Rava sambil memeluk Dinda dengan erat serta memberi kecupan di dahi istrinya.
"maafkan aku...."lirih Dinda sambil menyembunyikan kepalanya di dada bidang milik suaminya.
Rava tersenyum "Aku tidak apa-apa. Tidurlah ..."
meski ia menolak namun tetap saja tubuhnya tidak bisa menghianatinya. Ada rasa kecewa saat Rava menghentikan semuanya. Karena rasa gelisah Dinda pun bergerak membalikkan badannya kesana-kesini.
Rava yang kala itu sudah terlelap pun , merasa terusik dengan pergerakan Dinda. Lalu memeluknya dengan erat.
"Diamlah, jangan banyak gerak atau aku tidak bisa menahannya, lalu melakukannya sekarang. Kau brisik sekali.."ucap Rava sambil memejamkan matanya. Sebenarnya tadi Rava belum benar-benar tidur.
Dinda yang mendapatkan ancaman dari Rava pun bergidik takut, apalagi ia merasakan sesuatu yang sudah mengeras di bagian sana. lalu berusaha memejamkan matanya, lambat laun pun ia tertidur.
'oh ya ampun ini sungguh menyiksaku."sungut Rava dalam hati
.
.
.
.
.
.
bersambung...
Aku up dari kemarin malam padahal, tapi tidak kunjung di review. Aku sungguh frustasi, padahal menurutku kata-kataku tidak terlalu vulgar.
__ADS_1