Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Mau dirimu


__ADS_3

Hari terus berlalu tanpa terasa pernikahan Rava dan Dinda telah memasuki bulan ke sepuluh. Namun sampai detik ini pun tidak ada ungkapan cinta Rava untuk Dinda, meski perlakuan Rava memang sudah berubah, hanya saja masih ada yang kurang bagi Dinda. Ia tergolong perempuan yang masih membutuhkan kepastian.


Pulul delapan malam Rava baru pulang dari kantornya, melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, begitu sampai di ruang tamu ia mengedarkan pandangannya namun tidak menemukn sosok siapapun di sana.


Kemudian Rava beranjak naik ke kamarnya.


Ceklek pintu terbuka, ekor matanya bergerak mencari istrinya ,namun ia tidak menemukannya. Rava menghela nafasnya ia meletakkan tas beserta jasnya, kemudian ia melonggarkan dasinya. Ia mendudukan dirinya di sofa, memijat keningnya yang terasa pening akibat pekerjaan yang membludak hari ini.


Tidak lama itu pintu kamar mandi terbuka, Dinda keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya, Rava segera menengok ke arah pintu.


Keduanya sama-sama terkejut, Rava menelan salivanya dengan kasar melihat istrinya kini di depannya yang nampak seksi belum lagi harum shampo dan sabun yang Dinda pakai menyeruak di indra penciumannya menggoda, apalagi melihat rambut Dinda yang basah.


"Kau sudah pulang.."tanya Dinda sambil berlalu ke lemari mengambil pakainnya.


"Oh iya barusan.."Rava menjawab dengan sedikit salah tingkah.


"Kalau begitu mandilah, aku akan menyiapakan pakaian gantimu Kak."perintah Dinda.


Rava menuruti perintah Dinda masuk ke dalam kamar mandi, namun tidak lama ia kembali membuka pintunya.


Dinda yang sedang mengganti pakainnya tidak menyadari kehadiran Rava di belakangnya, Ia terkejut saat sepasang tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.


"Kak Rava kau mengaggetkanku saja.."seru Dinda mencebik kesal.


"Maaf.."Rava membenamkan kepalnya pada ceruk leher sang istri.

__ADS_1


"Kenapa tidak jadi mandi.. apa ada yang ketinggalan.."tanya Dinda.


Rava menggeleng, "Tidak..."


"Aku fikir sebaiknya nanti saja mandinya, nanti juga aku harus mandi lagi"serunya sambil mengecup mesra cengkuk leher sang istri.


Kulit Dinda merasa meremang menerima sentuhan lembut Rava, "emangnya kau mau apa.."ucap Dinda sambil berusaha melepas kedua tangan Rava.


"Mau dirimu.."seru Rava


Dinda yang mengerti arah pembicaraan Rava pun paham apa yang kini suaminya itu inginkan, "tapi Aku_..."


Belum sempat Dinda meneruskan ucapannya Rava sudah membalikkan tubuh Dinda menghadap dirinya, lalu ia mulai mencium bibir sang istri.


"Kak Rava aku..."ucap Dinda saat ciuman iru terlepas.


Entah apa yang terjadi Dinda tidak dapat menolak keinginan sang suami, Rava tidak henti-hentinya ******* bibir Dinda, kemudian ciuman itu turun ke leher jenjang sang istri. Dinda menggigit bibirnya sekuat tenaga ia tidak ingin mengeluarkan suara-suara aneh yang menurut dirinya memalukan.


"Jangan di tahan.."seru Rava yang mengerti jika Dinda saat ini tengah menahan desahannya.


Rava menggiring Dinda menuju tempat tidur dengan pangutan bibir yang tidak terlepas. Bersamaan dengan itu tangannya dengan terampil melepas satu persatu pakaian dirinya dan istrinya. Kini keduanya sudah sama-sama tidak memakai pakain sehelai benangpun. Dengan malam yang penuh bintang keduanya kembali terbang menuju puncak nirwana kenikmatan, peluh membanjiri aktivitas keduanya. Sampai pada akhirnya Rava tumbang lalu mengecup kening sang istri, "Terimakasih.."tuturnya dengan lembut lalu membaringkan dirinya di sebelah Dinda yang ternyata wanit itu suda terlelap.


****


Hari ini Dinda tidak ada jadwal praktik di rumah sakit, makanya ia sedang memasak di dapur . Ia berniat untuk pergi ke kantor Rava mengantar makan siang untuknya.

__ADS_1


Setelah semua beres juga ia telah rapi dan siap. Ia segera berangkat ke kantor Rava. Rasanya ia memang sudah sangat lama tidak ke kantor Rava. Nanti sampai di sana ia ingin jalan-jalan di kantor suaminya.


Tidak terasa ia kini sudah sampai di lobi kantor Rava, setelah membayar ongkos taksinya ia segera masuk ke dalam kantor Rava.


Sampailah di depan meja Livia sekretaris Rava.


"Hay kak Livia kak Ravanya ada.."tanya Dinda pada Livia


"Eh nona Dinda, ada di dalam tapi sedang ada.."ucap Livia tidak di hiaraukan oleh Dinda.


Dinda langsung berjalan saat sampai depan pintu ruangan Rava langkahnya terhenti kala ia mendengar sesuatu yang menyakitinya.


"Kau bilang dulu kau sangat mencintainya, meski ia telah tiada kau akan tetap setia padanya, nyatanya saat ini kau sudah menikah bukan, jadi katakan apa yang membuatmu menikahinya"ucap seseorang


"Ku akui aku memang mencintai Luna, juga menyayanginya meski ia telah tiada.. Memang pernikahanku kali ini terjadi karena kesalahphaman. tapi.."


Brak.. suara pintu di buka juga rantang bekal makan siang yang Dinda bawa untuk Rava telah jatuh ke lantai.


"Dinda.."ucap Rava


"Kau pembohong..." ucap Dinda setelah itu berlalu pergi ke luar..


.


.

__ADS_1


.


bersambung..


__ADS_2