
Alan sedang melakukan meeting dengan kliennya di sebuah restoran di temani oleh sekretarisnya. Sedari tadi pikirannya tidak fokus, hingga akhirnya Iva yang mengambil alih tugasnya. Alan mengedarkan pandangannya ke sekitar pengunjung restoran tersebut, hingga matanya menangkap seseorang wanita yang tengah berbicara dengan seorang pria. Wanita itu tidak asing baginya. Tidak lama pria itu terlihat pamit meninggalkannya.
Hingga akhirnya tepukan di lengan dari Iva menyadarkan akan situasi saat ini.
"Bagaimana Tuan Alan apa anda setuju dengan ide-ide yang kami berikan"tanya Tuan Jack
Alan tampak gelagapan "Em saya setuju, kalian bisa mendiskusikan lagi dengan sekretarisnya. Maaf saya harus permisi sebentar, ingin menemui seseorang"seru Alan
"Baiklah Tuan, saya juga setelah ini akan kembali ke kantor"sahut Tuan Jack
Alan menganggukan kepalanya setelahnya melenggang pergi.
πππ
"Vriska..."panggil Alan ketika sudah berada di hadapan Vriska. Vriska terlonjak kaget ia menatap ke arah Alan.
"Alan..."serunya dengan canggung dan gugup,
Tanpa di persilahkan duduk oleh Vriska, Alan langsung duduk di hadapan Vriska matanya tetap menatap tajam ke arah Vriska membuat Vriska salah tingkah.
"Alan.. kau di sini sedang apa.."tanya Vriska sambil mengusir rasa canggungnya.
"Kau apa kabar..?"sebuah kalimat yang meluncur dari mulut Alan tanpa menjawab pertanyaan Vriska.
Vriska meremas tangannya, entah mengapa ia gugup berhadapan dengan Alan meski dalam hatinya ia amat merindukan laki-laki itu, ia memang berniat untui menghindar dari Alan, namun tidak menyangka jika berada dalam restoran ini justru membawanya bertemu dengan laki-laki itu.
"Vriska.."panggil Alan membuat Vriska terlonjak kaget.
"Aku baik-baik saja Alan. Alan aku harus pergi aku ada urusan yang belum ku selesaikan.." ucap Vriska tanpa menatap Alan, ia mengambil tasnya lalu menyelempangkannya di lengannya. Vriska beranjak berdiri.
"Kau tidak pernah terlihat lagi, apa kau sangat sibuk.."tanya Alan
Vriska mengulum senyumnya "iya Alan, maaf aku tidak pernah datang lagi ke kantormu, ku fikir itu juga baik untukmu tidak ada lagi yang mengganggumu bukan"
Alan terdiam mendengar penuturan Vriska jika dulu mungkin kata-kata itu benar, tapi ia tidak mengerti jika saat ini ada rasa yang tak bisa ia jelaskan.
__ADS_1
Hingga tersadar jika Vriska telah melenggang pergi, Alan segera keluar dari restoran itu, sampai di area parkir Alan melihat Vriska tengah membuka pintu mobilnya. Alan langsung bergerak mendekat ketika sampai ia pun langsung membuka pintu mobil Vriska.
"Alan, ada apa..?"tanya Vriska kaget ketika melihat Alan sudah berada di sampingnya.
"Vriska aku..." ucap Alan dengan bingung Oh ya ampun kenapa aku bisa bertingkah bodoh begini sekarang aku harus jawab apa coba.
"Ayo jalankan mobilnya aku akan ikut denganmu"seru Alan
"Tapi Alan bukankah kau membawa mobil sendiri"tutur Vriska
"kenapa banyak bicara, sudah ayo jalan.."ucap Alan dengan kesal
Tidak mau berdebat Vriska pun melajukan mobilnya, ia berfikir jika sebaiknya ia mengantarkan Alan ke kantornya dulu. Sesekali Alan akan melirik ke arah Vriska, entah mengapa ia merasa sikap Vriska kini berubah, ia tidak menyukai sikap Vriska yang terlihat cuek seperti ini.
"Vriska..."panggil Alan
"Hem.."sahut Vriska dengan cuek
"Kenapa kau harus menjadi model, kenapa tidak terjun ke dunia bisnis saja, kau kan bisa meneruskan perusahaan ayahmu"ucap Alan mencoba mengajak Vriska berbicara.
"Aku tidak minat Alan, aku tidak mengerti dunia itu. Biarkan saja kelak jika aku memiliki suami, biar suamiku saja yang meneruskannya"seru Vriska.
Vriska melamun tiba-tiba tangannya terasa kram hingga akhirnya ia membanting stirnya, untungnya kakinya dengan sigap langsung menginjak rem. Hingga akhirnya Alan dan Vriska terselamatkan.
"Vriska kau mau mati, bagaimana bisa kau membawa mobil dengan cara seperti itu, jik kau lelah kau bisa istirahat,"cetus Alan dengan kesal sekaligus kaget, nafasnya masih memburu begitupun dengan Vriska.
Vriska masih merasakan tangannya yang terasa kram "Alan aku.." Tidak.. Alan tidak boleh tau penyakitku,
"Kenapa? apa kau sakit.."tanya Alan melihat wajah Vriska yang tampak pucat.
Vriska menggeleng "jika begitu ayo tukar tempat, biar aku yang menyetir" seru Alan
Vriska pun menurut,mereka bertukar tempat duduk. Lalu Alan kembali melajukan mobilnya.
"Kau mau ke mana..?" tanya Alan.
__ADS_1
Vriska menarik nafasnya "Depan situ tolong belok kiri, kalau kau mau bawa saja mobilku Alan setelah aku turun, aku akan naik taksi nanti pulangnya"seru Vriska
"Tidak, aku akan menemanimu.."pungkasnya.
ππππ
"Kak Vriska..."panggil anak-anak.
Alan menoleh setelah membuka mobilnya Aku lupa ini kan emang jalan menuju ke anak-anak sini.
"Lho om itu kan..."ucap Bayu menggantung, Alan membulatkan matanya jangan-jangan anak kecil itu mengingatnya.
Vriska tampak penasaran "kenapa Bayu apa kau mengenalnya"tanya Vriska
"Hanya pernah melihat sekilas tapi lupa, Kak Vriska apa dia pacar kakak"bisik Bayu di telinga Vriska namum masih bisa di dengar oleh Alan.
Vriska menggeleng "Bukan sayang dia hanya teman kakak"seru Vriska, entah mengapa Alan mendesah kecewa.
Sepanjang waktu Vriska banyak menemani anak-anak di situ, untungnya Vriska sudah sedikit-sedikit memperbaiki rumah untuk mereka tempati.
Vriska merasa terhibur, begitupun dengan Alan merasakan hal yang sama. Sesekali Alan akan melihat ke arah Vriska, awalnya Vriska nampak tersenyum semangat, namun entah karena apa lambat laun Vriska terdiam dan melamun.
Vriska hendak bangun berdiri namun perutnya terasa nyeri tanpa sadar ia meringis menahan sakit.
"Aww..."pekiknya.
Alan langsung sigap menghampiri Vriska "Ada apa, Kau sakit ? Ayo kita ke dokter, aku akan mengantarmu."
Vriska menggeleng "Aku tidak apa-apa Alan, aku hanya ingin pulang" seru Vriska
Vriska melihat ke arah Alan *Apa Alan mengkhawatirkanku, tidak mungkin. Dia hanya tidak ingin di repotkan olehku bukan. Tidak mengapa, hari ini aku cukup senang bisa bersamanya, namun besok ada sesuatu yang harus ke selesaikan sebelum semua terlambat.
ππππ
ππ*Apa yang akan di lakukan Vriska ya?ππ
__ADS_1
ππhappy reading, jangan lupa like, komen, dan voteππ
bersambung..