
Beberapa bulan setelah itu Vriska dan Alan sudah menjalani aktivitas seperti biasanya.
"Sayang, tolong pakaikan aku dasi.."pinta Alan memanggil istrinya yang tengah berada di dapur bersama Bi Ningsih.
Vriska menghela nafasnya sambil menggelengekan kepalanya, melihat kelakuan suaminya padahal dia bisa memakai dasi sendiri. Namun tak urung Vriska pun mengikuti perintah suaminya, ia mencuci tangannya yang yang masih belepotan tepung kemudian mengeringkan tangannya menggunakan kain lap yang berada di dapur.
Vriska berjalan menuju ke arah suami yang tengah menunggunya sambil mengalungkan dasinya di leher, sementara Alan tetap tersenyum tidak memperdulikan wajah sang istri yang sedang kesal.
"Kenapa cemberut..?"tanya Alan dengan menggoda.
Vriska mengambil mulai memasangkan dasi di leher sang suami, "Hubby, untuk hal seperti ini kau bisa memasang dasi sendiri kan. Tidak perlu memanggilku."
"Tapi aku maunya kau yang memakaikannya gimana dong.."ucap Alan tanpa dosa.
Vriska menggelengkan kepalanya lalu tangannya bersiap menarik dasi sang suami..
"Aaa..."teriak Alan saat merasakan Vriska menarik dasinya kencang membuat lehernya seperti tercekik.
"sayang, kau mau membunuhku ya."seru Alan dengan kesal
Vriska malah terkekeh geli,"Aku hanya tidak sengaja, sorry.."
Alan dengan sigap langsung memeluk merangkul pinggang sang istri, "Aku tau kau sengaja, bagaimana kalau aku..."Alan langsung memajukan wajahnya pandangannya tertuju pada bibir ranum Vriska.
Vriska menjadi salah tingkah dan gugup ia memalingkan wajahnya, lalu sedikit mendorong tubuh Alan,"Sudah selesai pergilah sana, lain kali jangan bangun kesiangan makanya."
"Aku kesiangan juga karena dirimu,"sahut Alan
Vriska mengernyitkan dahinya, "Karena aku...?"
Alan menganggukan kepalanya, "Kenapa karena aku..?"sambung Vriska
"Ish pura-pura lupa.."serunya, lalu Alan kembali mendekatkan dirinya ia membisikan sesuatu ke telinga Vriska, "Ingatkah pergulatan kita semalam, kau membuat aku ketagihan lalu mengulangnya berkali-kali hingga aku kelelahan makanya aku bisa kesiangan.."
"Alan..."teriak Vriska
"Tidak tau malu.."
Sedangkan Alan hanya terkekeh mendengar teriakan sendiri, "Pakaikan aku ini sayang.."Alan memberikan jasnya yang ia lampirkan di tangannya tadi.
Tidak mau banyak berdebat Vriska mengikuti perintah sang suami, "jangan cemberut begitu kau jadi menggemaskan, aku jadi tidak ingin pergi ke kantor rasanya. Em bagaimana kalau kita mengulangi kegiatan kita semalam."Alan mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum menggoda.
"Ingatlah kau seorang direktur jadi kau harus memberi contoh yang baik untuk karywanmu"titah sang istri
"Sendika dawuh kanjeng ratu.."sahut Alan,
Vriska terkekeh mendengar jawaban sang suami.
"Aku berangkat dulu ya.."pamit Alan mencium kening, pipi sang istri. Kemudian terakhir bibir sang istri.
Vriska mencubit lengan sang suami, "Tidak tau malu ada Bi Ningsih.."
Alan melirik ke arah asisten rumah tangganya itu yang tampak sedang membantu Vriska di dapur,"Tidak mengapa, dia juga pernah muda, lagi juga kayaknya dia tidak melihatnya. Aku berangkat ya.."seru Alan
Vriska menganggukan kepalanya dan tersenyum, "Aku tidak bisa mengantar ke depan," serunya
Alan menganggukan kepalanya, ia berjalan namun sampai di tengah ia kembali menengok ke arah Vriska.
"ada apa..?"tanya Vriska yang masih terdiam di tempat.
"I love you.."ucap Alan, setelahnya ia melenggang pergi.
Vriska tersenyum bahagia mendengarnya, "Love u too"ucapnya dengan lirih.
Sementara Bi Ningih yang sedari tadi sedikit-dikit mendengar percakapan pasangan suami istri itu juga menggelengkan kepalanya dan tersenyum, ia pun merasa bahagai melihat majikannya itu setiap hari selalu harmonis, ia sudah terbiasa melihat keduanya seperti itu.
"Bibi kenapa?"tanya Vriska melihat Bi Ningsih senyum-senyum sendiri.
"Saya hanya ikut merasakan bahagia melihat keharmonisan rumah tangga Nona dan Tuan.."ucap Bi Ningsih
__ADS_1
"Terimakasih ya Bi, semua juga pasti berkat doa Bibi.."ucap Vriska
"Sama-sama Nona.."
Vriska kembali melanjutkan kegiatannya membuat kue, ia ingin membuat kue dan ingin memberikannya pada mamanya dan mertuanya nanti.
πππ
"Kenapa buru-buru pergi sayang, bukankah kau sudah ke tempat mertuamu lalu kau mau kemana lagi"tanya Lita
Saat ini Vriska memang sedang berada di rumah orang tuanya ia mengantarkan kue buatannya tadi, sebelum beranjak Vriska kembali berbicara pada Mamanya, "Aku mau ke kantor Alan mah,"serunya
"aku pergi dulu ya ma.."
Lita menganggukan kepalanya, "Ya sudah kau hati-hati,"
πππ
Kini Vriska sudah di depan loby perusahaan Alan, semua karyawan yang berpapasan dengannya menyapa dan membungkukan badannya melihat istri sang atasan berada di kantor ini.
Dengan membawa kotak yang berisi kue buatannya Vriska melenggang masuk, menuju lantai tiga di mana ruangan suaminya berada.
Saat sudah sampai Vriska terlebih dahulu menghampiri sekretaris suaminya itu.
"Nona..."ucap Iva dengan senyum ramah dan sopan.
"Hai Iva.. Suamiku ada..?"tanya Vriska
"Ada Nona, masuk saja.."sahut Iva
Vriska menganggukan kepalanya, namun sebelum itu ia melirik ke arah meja Iva. Di situ ada kotak bekal makanan yang masih tertutup rapi. Mungkin Iva hendak makan, mengingat ini memang saatnya makan siang.
"Nona, ada apa..?"tanya Iva membuyarkan lamunan Vriska.
Vriska menggeleng, "Iva apa yang kau bawa itu"tanya Vriska entah kenapa ia begitu penasaran.
Iva menunjuk kotak bekal yang berada di atas mejanya, melihat tatapan Vriska memang tertuju pada kotak bekal makanannya, "Oh ini. Ini hanya bekal makanan saya Nona."
"Hanya terkadang saja Nona."
Vriska menganggukan kepalanya, "Boleh aku melihatnya.."
Iva terlihat bingung namun ia pun menganggukan kepalanya, "Ini hanya masakan sederhana Nona, lihatlah.."
Entah kenapa begitu kotak bekal makanan itu buka aromanya tercium harum oleh Vriska, ia menelan ludahnya dengan susah, mendadak ia jadi ingin memakannya.
"Iva, itu kau masak sendiri. Baunya sangat menggoda enak sekali sepertinya,"seru Vriska sambil menelan air liurnya.
Iva tersenyum canggung, "Iya saya masak sendiri Nona,"
Vriska terlihat berfikir sebelum kemudian ia berucap, "Iva, bisakah bekalmu itu buatku saja. Entah kenapa aku begitu tergoda dengan masakanmu itu."ucap Vriska
"Tapi Nona ini hanya masakan rumahan, aku juga tidak menjamin rasanya akan sesuai dengan lidah anda, em bagaimana kalau saya belikan saja makanan untuk anda di luar."tutur Iva dengan lembut.
Wajah Vriska menjadi sendu, "Tapi aku tidak ingin makanan yang lain, aku hanya ingin itu. Tidak boleh ya, ya sudahlah.."ucap Vriska dengan pasrah.
Iva terlihat sedang berfikir, sampai pada akhirnya ia menyadari jika Vriska sudah tidak ada di depannya, ia pun mengambil kotak makanannya lalu menghampiri Vriska, "Nona Vriska, ini buat anda saja."
"Benarkah...?"tanya Vriska dengan antusias ia menerima kotak bekal makanan itu. Wajah yang semula sendu itu mendadak menjadi girang.
"Iya Nona.."sahut Iva
Vriska membuka tasnya, "ini untukmu.."Vriska mengeluarkan uang senilai dua ratus ribu.
"untuk apa Nona.."tanya Iva dengan bingung
"untuk mengganti makananmu ini, kau bisa membeli makanan yang lain maksudnya.."
Iva tersenyum ramah, "Nona ini tidak perlu, saya ikhlas memberikannya. Tapi mohon maaf jika rasanya mungkin nanti tidak pas dengan lidah anda"
__ADS_1
"Kau baik sekali, makasih ya.."seru Vriska sebelum akhirnya ia pamit dan masuk ke dalam ruang kerja suaminya.
πππ
Alan yang sedang berkutat dengan kumpulan berkas melirik ke arah pintu yang terbuka menyadari jika istrinya yang masuk.
Vriska yang melihat suaminya masih sibuk, ia langsung mendudukan dirinya di sofa, kemudian ia bersiap membuka kotak makanan yang dari Iva.
Alan mengernyitkan dahinya saat melihat Vriska malah terlihat asyik makan tanpa menyapa sang suami tau sekedar menawarinya makanan.
Merasa tidak dapat berkonsentrasi ia pun menghampiri sang istri, lalu mendudukan dirinya di sebelah Vriska.
"Apa yang kau makan sampai tidak menawari suamimu ini?"tanya Alan.
Vriska melirik ke arah suami, "Makan, makanan bekal Iva, aku memintanya tadi. Ternyata sekretarismu itu jago masak juga."
Alan tercengang kaget akan jawaban sang istri, ia juga melihat Vriska yang makan dengan begitu lahap, "Sayang, aku tidak salah dengar bukan. Kau meminta bekal makanan Iva.."
Vriska menganggukan kepalanya, "Iya, entahlah aku begitu ingin rasanya aromanya begitu menggoda,"
Alan melihat ke arah makanan yang Vriska makanan hanya tinggal tumisan kangkung dan nasi saja, memangnya apa yang menggoda pikir Alan. Ada-ada saja tingkah istrinya itu.
"Aku sudah menggantinya dengan uang, tapi Iva menolaknya. Hubby kau saja yang berikan Iva bonus bulan ini ya.."tutur Vriska.
Alan menganggukan kepalanya, "tapi ada syaratnya.."
"Apa...?"Vriska mengelap bibirnya dengan tisu.
Alan mengerlingkan matanya, "Akan ku kasih tau nanti saat sampai di rumah." Sekaligus mempraktikannya, batinnya
Vriska menganggukan kepalanya, "Kau belum makan Hubby. Oh ya aku membawa kue buatanku tadi"
Alan tersenyum, "Sepertinya enak,"
"Cobalah..."Vriska menyuapi Alan.
"Gimana...?"sambungnya dengan penasaran akan pendapat Alan.
"Sangat enak, apapun buatan istriku pasti enak, apalagi sambil di suapi begini"puji Alan membuat pipi Vriska merona.
"Hubby kebetulan kuenya banyak, aku akan bagi Iva juga ya."
Alan menggukan kepalanya, Vriska mengambil tempat untuk membagi kue itu, lalu memberikannya pada Alan.
"Sayang ini maksudnya...?"tanya Alan
Vriska menganggukan kepalanya, "Iya, cepat berikan ini pada Iva.."
Alan menggelengkan kepalanya, "Tidak mau, tinggal panggil saja Iva kesini suruh mengambil."
"Tidak, pokoknya aku mau kau yang memberikannya, ayo cepetan.."perintah Vriska
"Tidak mau.."
"Kalau kau tidak mau, malam ini kau tidur saja di luar.."ancam Vriska terbukti Alan langsung bangkit mengambil kue itu meski sambil mendumel tidak jelas.
"Shiitt, sial..."ucap Alan
Begitu sampai di depan meja sekretarisnya Alan langsung menaro kue itu, "Ini makanlah.."ucapnya.
"Tuan ini...."
"Jangan banyak bertanya, makan kue itu habiskan jangan sampai saat istriku keluar masih melihat kue itu di atas mejamu."ucap Alan dengan tegas, setelahnya ia berlalu masuk.
Iva hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan atasannya itu. Sebelum kemudian ia mengambil kue itu dan memakannya.
πππ
__ADS_1
ππJangan lupa tekan like, komen, dan hadiahnya yaππ
bersambung..