Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Sebuah dokumen


__ADS_3

_Sederhana saja. Jika air matamu menetes setelah mengingatnya. Berarti dia masih segalanya._


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Sudah dua minggu Rava terbaring koma di rumah sakit selama itu pula Dinda sering berkunjung untuk sekedar mengajaknya berbicara, tidak lupa Papa Dicky, Mama Dewi serta Vano dan Alisa sudah menjenguknya.


Setelah memastikan Baby Davis teridur nyenyak Dinda duduk di sofa terdiam, sesekali ia akan melirik handphonenya berharap akan ada kabar yang membahagiakan.


Hingga pada akhirnya sebuah pesan masuk, ia membukanya.


Nona tolong temui saya, saya menunggu di cafe dekat rumah sakit di mana tuan Rava berada, ada sesuatu yang ingin saya berikan.tulis Aldo pada pesan singkat lewat wa


Dinda tampak berfikir sebelum kemudian memutuskan untuk menemuinya, barangkali ini menyangkut hal yang penting.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Setelah meminta tolong Mama Dewi untuk menjaga Davis sebentar Dinda pun berlalu pergi menemui Aldo. Ia memang tidak memakai jasa baby sister.


Tiga puluh menit kemudian ia sampai di depan cafe, dengan santai ia membuka mobilnya dan berlalu masuk ke cafe.


Melangkah masuk ia di suguhkan dengan sebuah lagu yang di nyanyikan oleh BCL yang berjudul Cinta Sejati.


Aku tak pernah pergi selalu ada di hatimu, kau tak pernah jauh selalu ada di dalam hatiku


Begitulah liriknya, Dinda menghela nafasnya rasanya lagu ini pas banget dengan keadaannya sekarang.


Mengedarkan pandangannya mencari sosok Aldo, ternyata laki-laki itu duduk di pojok dekat dengan kaca.


"Silakan duduk dulu nona, saya sudah memesankan minuman, jika nona kurang suka nona bisa menggantinya."kata Aldo


Dinda mendudukan dirinya di depan Aldo "aku suka kok, sebenarnya ada apa Al.."


"Nona apa kau tidak mau memesan makanan dulu"Aldo mencoba menawarkan.


Dinda tampak menggeleng, lalu setelahnya Aldo mengambil sebuah dokumen kemudian ia memberikannya pada Dinda.


"Ini untuk Nona dari Tuan Rava, terimalah Nona.."kata Aldo

__ADS_1


Dinda tampak terkejut ia tidak mengerti ini dokumen apa, pikirannya mendadak negatif apalagi ia pernah melayangkan surat gugatan cerai pada Rava. "Al.. ini..."ucap Dinda tertahan, ia tidak berani membuka dokumen itu.


"Nona kenapa kau tampak terkejut, kau bahkan belum membacanya.."ucap Aldo


"Memang ini apa Al.."tanya Dinda dengan penasaran dan gugup.


"Itu adalah sebuah dokumen yang berisi semua harta kekayaan Tuan Rava. Sebulan yang lalu setelah kelahiran tuan kecil, tuan Rava menyuruh saya mengubah hak waris nya untuk anda dan tuan Davis."tutur Aldo, Dinda terkejut tenggorokannya tampak kering ia menyeruput minumannya. Setelahnya ia berusaha untuk tenang kembali.


"Awalnya saya juga bingung untuk apa, tapi saya tidak bisa membantah maka saya pun melakukan sesuai perintahnya. Ia hanya berkata pada saya bila mana suatu saat terjadi pada saya, tolong berikan ini pada Dinda dan anakku, katakanlah jika aku sangat mencintainya. Saya pikir ini waktu yang tepat saya memberikan hak anda ini."Aldo menghela nafasnya sambil sesekali melihat mimik wajah Dinda yang tampak sendu.


"Al aku tidak mau menerima ini, memangnya dia fikir dia mau mati apa memberikan warisan untukku dan Davis, tidak sampai kapan pun aku tidak akan ikhlas dia pergi begitu saja.."Dinda menggeleng kuat menahan diri untuk tidak menangis.


Aldo menghela nafasnya "saya juga berharap tuan Rava segera bangun dari komanya Nona. Saya dan para karyawan lainnya masih sangat membutuhkan bimbingannya. Jangan berprasangka yang negatif nona, percayalah Tuan Rava pasti akan bangun, saya memberikan itu semua karena saya tau itu memang hak anda dan putra anda, nona apa anda tau jika anda dan putra anda saat ini adalah sumber semangat dan kebahagiaannya, saya ingat sekali beberapa kali ia sering menghabiskan waktunya dengan bekerja sampai ia melupakan waktu makan siang nya. Setiap saya bertanya dan mengingatkannya, ia hanya akan menjawab aku tidak mau nantinya Dinda dan putraku akan hidup dalam kekurangan aku akan melakukan apapun untuknya, saya bahkan hampir bosen mendengarnya dia bodoh apa gimana anda saja berasal dari keluarga berada mana mungkin orang tua anda membiarkan anda kekurangan. Tapi saya tau dia sedang menunjukkan tanggung jawabnya seorang suami sekaligus ayah. Setiap kali dia membicarakan anda, ada yang berbeda darinya ia tampak bahagia. Nona saya mengenalnya sudah lama, dari sejak kami kuliah bersama hingga sampai Tuan Rava menginjakkan kakinya di perusahaan, dia membawa saya untuk mendampinginya. Saya yang anak yatim pitau ini merasa beruntung bisa bertemu dan mengenalnya. Nona saya tau saya bukan siapa-siapa bagi anda, tapi saya di sini berbicara layaknya sahabat dari Tuan Rava, tolong berilah ia kesempatan sekali lagi jika nanti ia bangun, saya yakin dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat anda bahagia menebus segala kesalahan di masa lalunya."Kata Aldo sambil tersenyum getir.


Dinda masih berusaha mencerna segala kata-kata Aldo "Maaf saya terlalu banyak bicara, saya urusan kita sudah selesai, saya harus kembali ke perusahaan, permisi ya nona"pamit Aldo


"Terimakasih Al.."sahut Dinda yang di jawab anggukan oleh Aldo .


Setelah Aldo pergi, Dinda meneteskan air matanya sambil tangannya menggengam dokumen yang di berikan Aldo.


Sebuah lagu dari BCL berjudul Cinta Sejati kembali di putar di cafe itu mendadak hatinya berdenyut nyeri.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Dinda berjalan dengen langkah yang lesu sepanjang koridor rumah sakit, sesekali ia akan mengusap air matanya. Setelah sampai di ruangan Rava, Dinda di kejutkan dengan keluarnya Alan dari ruangan Rava.


"Alan.."ucap Dinda


"Hei, lama tidak bertemu, kau baik-baik saja.."sapa Alan


Dinda hanya tersenyum getir "Aku turut sedih ya atas apa yang menimpa Rava, tapi kau tetap harus semangat, dia pasti akan segera bangun"tutur Alan


"Terimakasih.."ucap Dinda.


Setelahnya ia masuk ke ruangan Rava, pemandangannya masih sama seperti sebelum-belumnya dengan yang ia lihat. Ia mendekat ke arah Rava.


"Hei aku datang,.."Dinda berusah tersenyum.

__ADS_1


"Aku baru saja bertemu dengan asistenmu itu Aldo, yang kau anggap sudah seperti adikmu sendiri, kau tau ia memberikan sebuah dokumen berisi semua hartamu. Kau ini bodoh apa gimana, kau memberikan semua hartamu padaku, bagaimana jika aku membawanya kabur darimu, lalu bagaimana nasibmu, kau tidak berfikir sampai situ. Kau memberikan semuanya untukku dan putramu seolah - olah kau akan pergi jauh, kau fikir aku akan mengijinkanmu pergi, tidak akan aku tidak akan membiarkan itu terjadi, kau harus membayar segala kesalahanmu di masa lalu."Dinda menghela nafasnya matanya berkaca-kaca, susah payah di berbicara Rava tetap tak ada reaksi apa-apa.


"Apa kau tidak bosen terus tidur seperti ini, kau tidak ingin makan apa minum, lihatlah kau begitu kurus, benar kata Aldo kau pasti jarang makan dengan benar. Apa kau tidak merindukan Davis, dia sangat merindukanmu,. Dulu kau bilang kau ingin mempunyai keluarga yang bahagia, ayo kita wujudkan keinginanmu itu. Bagunlah demi aku dan Davis, ku mohon kami sangat merindukan kehadiranmu.." Dinda tampak menghapus air matanya.


"Aku menangis padahal dulu saat kau bentakpun aku pasti akan kuat, tapi melihatmu seperti ini kenapa aku malah menangis, harusnya aku senang ya tapi hatiku justru sakit, biarlah kata orang aku bodoh karena terlalu mencintaimu, tapi aku benar-benar tidak bisa membencimu, ku mohon bangunlah kami menunggumu, bulan depan pernikahan Kak Vano dan Alisa, apa kau tega membiarkanku datang ke pesta itu tanpa pasangan. Mereka juga berharap kehadiranmu"


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Lima hari kemudian setelah selesai dengan pekerjaannya yang menguras pikirannya, Aldo menjenguk atasannya itu, saat membuka pintu Aldo melihat adanya kedua orang tua Rava.


"Tuan bagaimana perkembangan Tuan Rava,"tanya Aldo pada Papa Adi


"Masih sama seperti sebelumnya Al,"sahut Papa Adi dengan lesu.


"Nak Aldo kebetulan kau datang, kami lapar tolong titip Rava sebentar ya"ucap Mama Imel.


"Baik nyonya,"sahut Aldo


Setelah kepergian kedua orang tua Rava, Aldo mendekat ke arah Rava, lalu duduk di samping Rava.


"Tuan mau sampai kapan anda menikmati tidur panjangmu ini, memangnya kau tidak bosen, aku saja bosen yang melihatnya. Tuan bangunlah perusahaan sangat membutuhkanmu, kepalaku rasanya mau pecah aku bahkan sering lembur akhir-akhir, kau perlu tau bahkan Livia yang mendengarmu koma ia langsung memasakkan dirinya bekerja, ia rela berdebat denganku tuan, segitu setianya kah dia bekerja padamu tuan. Aku tidak cemburu, hanya saja bangunlah dan lihatlah orang-orang yang menyayangimu, mereka sangat sedih melihatmu seperti ini. Terutama putramu yang masih sangat membutuhkanmu, istrimu yang pastinya sangat sedih melihatmu seperti ini. Apa kau tidak kasihan padaku, otakku merasa sangat lelah, kau menganggapku seorang adik kan, bangunlah demi adikmu ini. Jangan membuat aku menangis melihatmu seperti ini, kau tau kau sangat berarti bagiku, kau yang membawaku hingga aku menjadi seperti ini, sampai aku bisa menemukan kebahagiaanku bersama Livia..."


Aldo mendesah kecewa tidak ada reaksi apapun dari Rava, tiba-tiba ia merasa ngantuk karena memang ini sudah pukul depalan malam. Tanpa sadar ia tertidur.


Lima belas menit kemudian Rava menggerakkan jarinya, lalu ia berusaha membuka matanya secara perlahan.


"Din.. da..."sebuah kata pertama yang meluncur dari bibirnya.


.


.


.


πŸŽ‹πŸŽ‹Maaf ya readers tersayang, baru up.. tapi aku up panjang lho.. Suka gak bisa mikir gitu kalau pas anak rewel, mendadak otak blank gituπŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹selamat membacaπŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


__ADS_2