
Hari ini Dinda menghadiri seminar di sebuah hotel.
"Dokter Dinda, mari berangkat bareng saya saja."tawar Dokter Deri
"Terimakasih, tidak perlu saya berangkat sendiri." Dinda berusaha menolak mengingat saat ini statusnya ia sudah menikah, meski pernikahan itu terjadi bukan karena cinta, tapi baginya pernikahan hal yang sakral, ia tidak mau menimbulkan gosip yang beredar cukup sekali ia melakukan kesalahan bersama Rava di hotel kala itu. Apalagi mengingat pernikahan mereka di gelar mewah juga tentu semua orang tau status dirinya saat ini. Seorang istri dari ceo perusaan Nugraha Group. Akhirnya Dinda memutuskan untuk berangkat sendiri dengan mobilnya.
******
Tiga jam telah berlalu, seminar telah selesai Dinda pun memutuskan untuk pulang ke rumah, mengingat memang sudah tidak ada jadwal praktik.
Mobil melaju dengan sedikit kencang, namun tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Ia berusaha menghidupkan lagi namun tidak tetap bisa akhirnya ia pun turun. Ia melihat bannya kempes.
"Kenapa mogok? aku bahkan tidak tau mesin apalagi sampai mengganti ban mobil. Ini di mana tidak ada taksi lewat, bahkan mobil pun jarang yang lewat sini. Kenapa sepi sekali.. Tidak ada bengkel di sekitar sini.."ucapnya sambil sedikit was-was takut.
Ia pun kembali ke mobil mengambil hp nya, sialnya batrainya habis lalu ia pun lupa tidak membawa charger.
"Aku harus gimana saat ini.."desahnya frustasi. Jalan kaki tidak mungkin bukan.
Tidak lama setelah itu sebuah mobil berhenti di depan mobil Dinda, seorang pria keluar menghampiri Dinda.
"Kenapa dengan mobilmu."Tanyanya
"Em mogok...juga bannya kempes.."ucap Dinda tanpa menoleh pada pria tersebut.
"Biar ku priksa, kenapa kau tidak menggunakan sopir Dinda, bahaya seorang wanita mengendarai mobil seorang diri di jalan sepi seperti ini."ucap pria tersebut sambil mencoba memeriksa mesin mobil Dinda, membuat Dinda melihat pria itu.
"Alan.. kau..."ucap Dinda kaget.
"Iya aku kebetulan sedang lewat sini, kau apa kabar?" tanya Alan sedikit tersenyum,
"A.. aku.. baik.."jawab Dinda pelan.
Sungguh aku sangat rindu padamu, aku beruntung hari ini bisa melihatmu. lirih Alan dalam hati
"Mobilmu kerusakannya cukup parah perlu di perbaiki ke bengkel, jadi bagaimana kalau aku antar kau pulang saja. Nanti aku akan menghubungi temanku yang bekerja di bengkel agar memperbaiki mobilmu juga mengantar mobilmu ke rumahmu."ucap Alan menawari Dinda tumpangan.
__ADS_1
"Em tidak, aku tidak mau merepotkanmu, kau pasti terburu-buru. Pergilah, aku akan menunggu taksi di sini.."ucap Dinda mencoba menolak Alan.
"Kau yakin, akan sangat sulit menemukan taksi di sini."tutur Alan
"Kalau begitu, bisakah pinjamkan aku ponselmu, aku akan memesan taksi online saja"ucap Dinda
"Hp ku batrainya habis, aku tidak membawa charger," ucap Alan Kenapa aku bisa berkata bohong, mulutku kenapa tidak bisa di kondisikan tidak bisakah melihat wajahnya yang sudah tampak lelah, alan merutuki kebodohannya harus berbohong.
"Baiklah aku ikut kamu.."ucap Dinda pasrah akhirnya, Dinda pun menuju mobil Alan dan membuka pintu bagian belakang lalu duduk .
"Kenapa duduk di belakang, aku bukan sopirmu duduklah di depan.." Kata Alan sambul terus mengamati pergerkan Dinda, karena malas berdebat akhirnya Dinda mengalah turun dan duduk di depan.
Mobil terus melaju membelah jalanan yang padat mengingat jam segini waktunya orang pulang kantor.
"Di mana Alamat rumahmu.."tanya Alan setelah keheningan yang tercipta dari tadi, akhirnya Alan membuka suaranya.
Dinda pun menunjukkan alamat rumahnya. Hari sudah semakin gelap,tidak lama setelah itu mereka pun tiba di rumah Dinda. Dinda membuka pintu mobil tersebut dan berjalan keluar, ketika ia tengah berdiri. Alan memanggil Dinda kembali.
"Dinda, tunggu.."ucap Alan berjalan menghampiri Dinda dan memegang tangan Dinda.
Dinda menatap mata Alan yang penuh penyeselan, lalu menarik tangannya dari genggaman Alan ia tau itu salah.
"Lupakanlah.. aku sudah memaafkanmu. Sekarang pulanglah.."sahut Dinda hendak berlalu.
"Dinda, apakah kau bahagia menikah dengannya."tanya Alan lagi
Pertanyaan Alan seakan menohok hatinya, definisi bahagia seperti apa yang bisa di artikan dalam pernikahannya dengan Rava.
"Tentu, aku bahagia.."tutur Dinda seraya memalingkan wajahnya, ia tidak mau memperlihatkan wajahnya pada Alan. Ia tidak mau Alan tau kalau ia sedang menutupi kebohongannya.
"Syukurlah, itu yang ku harapkan."ucap Alan menarik Dinda dalam pelukannya.
Dinda berusaha melepas pelukannya "Lepas, ini salah Alan. Kau tau aku seorang wanita yang bersuami, ku mohon jagalah batasanmu."ucap Dinda setelah itu berlalu pergi meninggalkan Alan yang menatap sendu.
******
__ADS_1
"Darimana saja kau, kenapa baru pulang."tanya Rava setelah melihat Dinda membuka pintu dan hendak berlalu ke kamarnya. Dinda terus melajukan langkahnya tanpa menghiraukan pertanyaan Rava.
"Beginikah kelakuanmu pada suamimu, kau tidak dengar aku sedang bertanya padamu, kenapa tidak jawab.."ucap Rava dengan nada tinggi.
"Untuk apa? memangnya kau peduli padaku, jangan habiskan waktumu untuk mengurusiku, karena aku takut kau yang akan jatuh cinta terlebih dahulu padaku"ucap Dinda dengan tenang.
"terlalu percaya diri. Aku hanya mau bilang kau harus ingat batasanmu saat ini kau di kenal sebagai seorang istri, ingat batasanmu antara pria dan wanita, jangan sampai orang berfikiran buruk tentang pernikahan kita. Kau harus jaga jarak dengan pria lain, apalagi dengan mantanmu itu, jangan sampai aku melihat kau berpelukan dengannya lagi."ucap Rava dengan emosi
"Kenapa? kau mengingatkankau tentang batasan. Apa perlu aku mengingatkanmu tentang kesepakatan yang kau ajukan tuan Rava yang terhormat. Aku sudah bilang bukan jangan mencampuri urusanku, aku takut kau yang akan jatuh cinta terlebih dahulu padaku, kau ingat kau melarangku jatuh cinta padamu bukan."ucap Dinda kali ini tak kalah emosi. Mengapa Rava harus mengingatkan tentang batasan antara pria dan wanita, tidak taukah ia bahwa perkataannya telah melukai hatinya,.
Sementara Rava terus mengamati ucapan Dinda, tanpa sadar ia melihat pergerakan bibir Dinda. Ia tau ucapannya telah memancing emosi Dinda, tanpa sadar ia terus maju mendekati Dinda. Dan....
Cup ..
Satu kecupan mendarat di bibir Dinda, berhasil membuat Dinda berhenti bicara.
"Kau... apa yang kau lakukan.?"ucap Dinda seraya menodorong Rava lalu pergi ke kamarnya.
Rava merutuki kebodohannya, kenapa ia tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak mencium Dinda. Lalu ia memutuskan untuk ke ruang kerjanya saja, mengingat Dinda sedang emosi ia tidak mau berdebat lagi. Mengingat ciuman tadi ia sungguh malu, tanpa sadar ia menyentuh bibirnya.
.
.
.
.
.
.
bersmbung..
Hai guys, aku tuh kadang buntu buat merangkai kata-katanya, makanya kadang suka gak up. Terimakasih buat yang selalu membaca karyaku. Maaf ya kalau banyak typo, aku gak baca ulang soalnya..πππ
__ADS_1