
Alan PoV
Aku harus apa di satu sisi aku ingin membuat kedua orang tuaku bahagia, namun di sisi lain aku juga tidak mengorbankan hidup dan cintaku. Cukup saat itu aku bertindak bodoh dengan membiarkan Dinda menikah dengan Rava. Hampir setahun aku menjalin hubungan dengan Vriska wanita yang di jodohkan papa padaku, tapi tidak ada tanda-tanda cinta muncul di hatiku, tidak sekalipun adanya perasaan nyaman saat aku bersamanya. Justru aku merasa sebal dan menghindarinya, aku merasa tidak suka berada di dekatnya. Ia tipikal wanita yang posesif, manja, cemburuan.. Tidak ada sifat yang aku sukai darinya.
Ini bukan karena aku masih mencintai Dinda, aku sudah ikhlas dia sudah bahagia dengan Rava. Hanya saja ini masalah hati dan perasaanku yang tidak bisa di ajak kompromi, kehadiran wanita di masa laluku saat aku masih kuliah kembali menimbulkan benih-benih cinta di hatiku, aku merasa nyaman berada di dekatnya, entah mengapa saat bersamanya aku ingin sekali menjadi pelindung dan sandaran baginya.
Terkadang aku berusaha untuk memahami ini cinta atau hanya sekedar perasaan bersalahku di masa laluku padanya. Tapi ini akan sangat sulit mengingat kini ia bekerja sebagai Asisten Vriska tunanganku sendiri, ya dia adalah Adisty Alfiyona
πππ
Kini Alan tengah menemani Vriska melakukan sebuah pemotretan di salah satu tempat wisata di Jakarta, Vriska memintanya untuk menemaninya, awalnya ia sangat malas dan tidak mau menurutinya, namun ketika mengingat di sana akan adanya Disty entah mengapa ia mengurungkan niatnya dan mau menemani Vriska.
Vriska tengah melakukan pemotretan, sementara itu Disty tengah pergi ke toilet, Alan berjalan-jalan di sekitar situ, sampai pada akhirnya ia melihat Disty berjalan seorang diri. Kemudian Alan mendekatinya.
"Alan.."Disty terlonjak kaget saat tiba-tiba Alan memegang tangannya.
__ADS_1
Alan hanya tersenyum "lepaskan Alan.."ucap Disty dengan tajam.
"Jika aku tidak mau kau mau apa.."sahut Alan sambil memegang erat tangan Disty.
"Kau gila sebenarnya apa maumu, berhentilah mengangguku Alan. Aku tidak mau Vriska salah paham padaku.."seru Disty.
"Jika aku dirimu kau mau apa..?"tanya Alan
"Omong kosong, bicaralah yang masuk akal. Alan ingatlah Vriska tunanganmu jangan sakiti dia"tutur Disty
"Tapi semua sudah terjadi jalanilah apa yang menjadi takdirmu Alan, ingatlah kita tidak ada hubungan apapun sejak saat itu Alan.."kata Disty sambil berusaha melepas tangan Alan.
Setelah berhasil melepas tangan Alan, Disty langsung berlari pergi meninggalkan Alan. Alan terus terdiam mematung.
*Tapi aku merasa hubungan kita belum berakhir Disty, aku merasa tidak pernah memutuskanmu. lirih Alan sambil mengusah wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
πππ*
"Kau dari mana saja, kenapa kau menghilang sudah ku katakan jangan kemana-mana kau harus menemaniku di sini"ucap Vriska dengan kesal, saat baru saja Alan tiba di sebelahnya.
Alan tidak peduli akan ucapan Vriska rasanya ia sudah muak "Kenapa kau tidak menjawab.."teriak Vriska
"Diamlah.. Kau fikir aku ini pembantumu apa yang harus mengikuti segala kemauanmu.."bentak Alan, yang langsung mendapat banyaknya soroton, tidak terkecuali Disty di situ. Ia merasa kaget baru pertama kali ini mendengar Alan berbicara dengan keras.
Disty jadi merasa bersalah pasti karena habis bertemu dengannya mengapa Alan terbawa emosi saat berbicara pada Vriska.
πππ Dinda dan Rava kan udah bahagia, kita beralih ke Alan dulu ya readersππ
ππJangan lupa, like, komen, dan Vote.. Selamat membacaππ
bersambung..
__ADS_1