Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Aku ingin adik bayi


__ADS_3

Pagi hari tiba Rava dan Dinda pun kembali melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Sepanjang perjalanan mereka hanya berdiam diri, Rava yang sedang konsentrasi menyetir . Sedang Dinda yang hanya berdiam diri menikmati pemandangan dari balik kaca mobilnya.


Mengingat perlakuan Rava semalam wajahnya Dinda memanas, sungguh memalukan. Apalagi ketika tadi bangun tidur, ia mendapati kancing bagian atas bajunya sudah terbuka.


Namun mengingat perlakuan Rava yang memberi perhatian lebih padanya saat ia terkena air hujan, lalu membantu mengeringkan rambutnya, ia merasa tersanjung meski itu hanya bentuk perhatian kecil. Tapi baginya tidak masalah, lambat laun ia yakin hubungannya akan membaik.


Sebenarnya Rava pun mungkin sudah mulai mencintai Dinda, hanya saja ia belum menyadarinya. Hatinya masih tertutup dengan perasaaan bersalah di masa lalunya.


"Ku kira kau tidur,.. "ucap Rava setelah menoleh pada Dinda.


"em tidak.."sahut Dinda


...****************...


Pukul 08.00 pagi akhirnya mereka tiba di rumahnya. Rava mengerutkan keningnya saat melihat mobil milik mamanya beserta kakaknya Vinda dan anaknya. Namun ia tidak melihat kakak iparnya, ia tau kakak iparnya memang orang yang sibuk.


"Ada apa mama dan kaka kesini..?"tanya Rava setelah turun dari mobil.


Sedang Dinda memberi salam pada keduanya.


"Aunty Varen kangen, kemarin Varen ingin kesini tapi mami bilang Aunty ada urusan. Jadi Varen tidak jadi kesini"ucap Varen sambul menggoyang-goyangkan kepalanya, yang kala itu di kuncir menjadi dua.


"Benar sayang, kemarin Aunty memang ada urusan. Ini baru pulang.."sahut Dinda berjongkok mensejajarkan tingginya pada gadis kecil itu,


"Kau ini tidak sopan kalau berbicara, ada tamu bukannya di suruh masuk malah banyak bertanya, kau tidak tau mama dan kakakmu sudah menunggu dari jam tujuh di sini"ucap mama Imel sebelum akhirnya Rava membuka pintunya lalu menyuruh masuk.


"Rumah sebesar ini kalian hanya tinggal berdua.."tanya Vinda, melihat keduanya hanya mengerutkan keningnya ia pun meralat ucapannya "maksudku kalian tidak menggunakan asisten rumah tangga gitu"


"Benar kata kakakmu Va, kasian Dinda kalau pasti kelelahan harus mengurus sendiri rumah sebesar ini, apalagi ia juga harus bekerja juga. Pantas saja mama belum mendapatkan cucu karena Dinda selalu kecapean"sahut Imel


Rava yang mendengar ocehan mamanya hanya melototkan kedua matanya, lalu menelan salivanya dengan kasar.

__ADS_1


'Sejujurnya bukan masalah kecapean, aku memang belum membuatnya mah' sungutnya dalam hati.


Ingin ia berkata seperti, ah tapi tidak itu akan menimbulkan banyak pertanyaan pun masalah tentunya.


"Nanti mah Rava carikan, atau kalau perlu mama saja yang carikan deh"ucap Rava


"Aku tidak keberatan kok mah," sahut Dinda yang saat itu muncul membawa minuman serta cemilan. Di ikuti Varen yang mengikuti kemanapun ia pergi, setelahnya ia pun mendudukan dirinya di sofa samping Rava.


"Baiklah mama akan carikan asisten rumah tangga kalian, oh ya ini tiket untuk bulan madu kalian ke Bali. Kalian bilang tidak ingin jauh -jauh bukan."ucap Imel sambil memberikan dua lembar tiket pada Rava.


"Mah kenapa dadakan, pekerjaan ku banyak mah tidak semudah itu meninggalkannya, Dinda juga pan baru mengambil cuti mah"protes Rava setelah melihat keberangkatannya tiga hari lagi.


"Pekerjaanmu akan tanggung papamu, jadi selama tidak usah banyak protes.Dan kau Dinda tentu saja papamu sudah mengatur semuanya."sahut Imel .


Vinda hanya terkekeh melihat Rava yang kalah telak dengan Mamanya.


"Aku punya hadiah untukmu, em bawalah untuk bulan madu . Lalu kau harus membukanya di sana, oke.."ucap Vinda sambil memberikan bungkusan kado pada Dinda.


"Terimakasih kak..."ucap Vinda


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mami aku masih mau di sini, aku tidak mau pulang.."ucap Varen.


Vinda menghela nafasnya, untuk kesekian kalinya ia gagal membujuk anaknya untuk pulang akhirnya terlintas sebuah ide lalu ia membisikan sesuatu ke telinga anaknya.


"Benarkah...? tentu saja mau"tanya Varen setelah mendengarkan nasehat mamanya.


"Aunty, Om aku pulang dulu ya..."pamit Varen


"Kenapa? mendadak jadi ingin pulang sayang. Padahl Aunty bisa mengantarmu nanti.."ucap Dinda

__ADS_1


"Mami bilang Aunty dan Om akan memberikan dedek bayi buat Varen. Tapi Varen harus pulang tidak boleh mengganggu Om dan Aunty.." ucap Varen sambil memanyun-manyunkan bibirnya membuat Dinda gemas. Namun mengingat ucapan Varen wajahnya memerah menahan malu.


"Kakak, kau benar-benar mengajarkan anakmu berbicara yang tidak-tidak." semprot Rava pada kakaknya. Sementara Imel hanya terkekeh mendengar ucapan Varen. Cucunya yang satu itu memang menggemaskan, ia selalu berkata jujur.


"Berisik, kami mau pulang.."ucap Vinda


"Bay bay Aunty, jangan lupa Aunty, Varen ingin adik kembar.."ucap Varen sambil mengikuti maminya dan omanya. Sementara Dinda hanya menanggapinya ocehan gadis kecil itu dengan tersenyum.


"Di fikir membuat bayi, seperti mambuat kue kali.."ucap Rava lirih namun masih tetap terdengar oleh Dinda


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kak Rava tidak ke kantor?"tanya Dinda yang saat ini tengah duduk di ranjang.


"Tidak aku akan mengerjakan pekerjaanku di rumah saja. Kau sendiri...?"tanya balik Rava


"Tidak, aku ingin tidur . Semalam tidurku tidak nyenyak.."ucap Dinda sambil merebahkan dirinya di ranjang.


Tidak nyenyak apaan, padahal tanganku sampai kram buat bantalan dia.sungut Rava sambil menggelengkan kepalanya.


Untungnya mereka berdua tadi sudah sarapan sebelum melakukan perjalanan pulang.


Lama berkutat dalam pekerjaannya, membuat Rava mengantuk apalagi memang semalam ia kurang tidur. Saat itu sejujurnya ia mati-matian menahan untuk tidak menerkam Dinda.


Mebereskan pekerjaannya, lalu merangkak naik ke tempat tidur menyusul Dinda.


.


.


.

__ADS_1


.


bersambung...


__ADS_2