
Hari ini jadwal pekerjaan Rava sedikit longgar, ia berencana akan mencari Dinda lagi bersama Aldo. Tadi Alan bilang ada suatu tempat yang biasa Dinda kunjungi jika sedang sedih, mungkin saja kali ini ia berada di sana.
Tepat pukul tiga sore Rava dan Aldo sudah selesai pekerjaannya, saat ini mereka dalam perjalanan menuju tempat yang akan mereka kunjungi. Rava berharap Dinda berada di sana.
Mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, tidak lama kemudian mereka telah sampai di tempat itu. Rava dan Aldo pun turun lalu berjalan ke araha sebuah rumah, ah bukan melainkan ini seperti sebuah villa, tidak mewah hanya saja ini terlihat lebih asri emang, pemandangan di situ tampak indah, tanamannya terlihat sangat terawat, Rava dan Aldo mendekat ke arah seorang pasangan suami istri mungkin mereka adalah seorang pekerja di villa ini, mereka sedang duduk di depan villa tersebut.
"Permisi, maaf mengganggu bolehkan kami bertanya?"tanya Aldo, sepasang suami istri tampak mengerutkan keningnya merasa asing dengan dua pria ini.
"Oh ya silahkan, ada apa ya nak"ucap sang pria paruh baya itu.
"Apakah anda pernah melihat seorang wanita ini datang ke sini"tanya Rava sambil menunjukkan foto Dinda di ponselnya.
"Nona Dinda maksudnya, kalian ini siapanya?"tanya sang wanita itu.
"Dia ini Rava suami Dinda bu pak, sedang saya asistennya"jelas Aldo
"Oh saya Ratmi dan ini suami saya paijo kami yang merawat villa ini atas perintah den Alan, maaf atas pertanyaan nak Rava tadi, sudah lama nona Dinda tidak pernah kesini,"tutur Ratmi dengan nada lirih.
Meski jawabannya membuat mereka kecewa nyatanya Aldo tetap harus bersikap ramah "oh begitu, baiklah tidak apa-apa, kalau begitu kami permisi."sahut Aldo
Sepanjang perjalan Rava tampak sangat frustasi ini sudah satu bulan lebih ia mencari Dinda namun tidak ada hasil sama sekali, ia hampir putus asa. Rava tampak sangat sedih hingga matanya berkaca-kaca, sungguh ia bingung harus mencarinya kemana lagi, mengapa Dinda pergi susah di cari, kemana sebenarnya ia sudah mencoba mengecek ke Bandara saat itu nyatanya tidak ada penumpang atas nama Dinda, itu berarti Dinda memang tidak pergi ke luar negeri.
"Tuan, jangan putus asa kita pasti bisa menemukan Dinda"ucap Aldo yang berada di depan sambil menyetir.
__ADS_1
Rava memalingkan mukanya, ia sungguh malu pasti Aldo melihatnya hampir menangis "Aldo berhenti"teriak Rava tiba-tiba.
"Ada apa tuan, bukankah perjalanan kita masih jauh"sahut Aldo yang terlunjak kaget langsung menginjak rem secara mendadak hingga Rava terbentu dengan kursi depannya.
"Kau ini mau membunuhku, aku belum ingin mati sebelum bertemi dengan istriku" ucap Rava sedang Aldo tampak mengelus dadanya akhir-akhir ini ia merasa atasannya itu aneh seperti perempuan menstruasi saja yang sensistif suka marah-marah, jelas-jelas ia yang salah.
"Maaf tuan, ada apa kita harus berhenti, bukankah perjalanan kita masih jauh tuan"tanya Aldo
"Aku geli mendengarmu terus-terusan memanggilku tuan, ini bahkan di luar jam kantor. Coba kau lihat ke samping"ucap Rava dengan ketus.
Aldo pun menengok ke samping, tampak di situ ada sebuah rumah sederhana ia merasa bingung untuk apa atasannya itu menyuruhnya melihat rumah seperti kurang kerjaan saja "Em maksudnya sebuah rumah gitu, memangnya di situ ada apa, apa nona Dinda berada di situ"cercar Aldo dengan bingungnya.
"Aku bukan menyuruhmu melihat rumahnya, tapi aku menyuruhmu melihat pohon yang berada di depannya itu, kau ini benar-benar payah"sahut Rava dengan ketus, sedang Aldo tampak menelan salivanya sambil mengelus dadanya Sabar, salah lagi salah lagi emang yang namanya bawahan selalu salah ,batinnya
"Kau fikir istriku kuntilanak yang suka menangkring di pohon, tidak masuk akal."ketus Rava, "kau lihat pohon itu berbuah bukan, turunlah dan dapatkan beberapa buahnya itu untukku"lanjut Rava sebelum Aldo menjawab ucapnnya tadi.
"Tapi tuan, untuk apa? buahnya terlihat asem, jika memang tuan ingin makan buah mangga nanti biar saya belikan saja di supermarket"sahut Aldo dengan mengerutkan keningnya.
"Aku tidak mau tau aku ingin makan buah mangga yang berasal dari pohon itu, cepatlah turun dan dapatkan itu, kau ini seperti perempuan saja banyak bicara"ucap Rava dengan keras.
Aldo pun menuruti atasannya itu dengan sedikit terpaksa sambil mendumel tidak jelas. Sungguh ia hampir habis kesabarannya itu. Sampai di rumah nanti ia harus mengguyur seluruh badannya itu dengan air dingin, supaya kepalanya tidak meledak pikirnya.
Dengan segala upaya akhirnya Aldo pun berhasil mendapatkan buah mangga itu, untungnya pohon mangga itu tidak terlalu tinggi jadi Aldo bisa memanjatnya, meski harus korban di gigitin semut.
__ADS_1
"Jika aku memanjat pohon untuk Livia orang yang ku cintai tentu saja dengan senang hati, nah ini memanjat pohon untuk Rava, tentu saja aku terpaksa, dia itu kenapa sih dari pagi marah-marah minta yang aneh-aneh pula, sungguh hampir habis kesabaranku, ingin ku tonjok saja mukanya itu, ah tidak-tidak aku kualat"ucap Aldo sambil cekikikan membayangkan ia menonjok muka Rava.
Sepanjang perjanan ke rumah Rava tampak sibuk mencium aroma buah mangga yang berhasil Aldo petik tadi, Aldo tampak mengernyit heran melihat atasannya itu tampak aneh, baginya ini konyol juga gila, sungguh ia ingin tertawa dengan sekeras-kerasnya melihat tingkah atasannya itu yang cukup aneh. Apa mungkin efek lama tidak mencium istrinya, akhirnya ia larikan ciumannya itu ke buah mangga, ah sungguh konyol pikirnya.
"Kenapa hanya di cium, tidak kau makan saja"tanya Aldo karena tidak dapat menahan rasa penasarannya itu dia pun bertanya.
"Terserah aku dong, banyak tanya. Aku memang ingin mencium aromanya saat ini, nanti aku akan memakannya sampai rumah"tutur Rava
"Hari ini kau benar-benar aneh Va, seperti perempuan sedang datang bulan saja. Kau seperti orang mengidam saja minta buah mangga seperti itu. Apa ini efek di tinggal istrimu jadinya kau seperti orang gila dan konyol"ucap Aldo dengan cekikikan.
"Hei berani kau mengataiku gila, ku patahkan juga lehermu"teriak Rava membuat Aldo pun terdiam.
Tidak lama itu mereka telah sampai di rumah Rava "Besok kau jemput saja aku, aku sedang malas menyetir"ucap Rava setelah turun dari mobilnya, Aldo pun tempak mengangguk.
Sampainya di dalam Rava segera pergi ke dapur untuk segera memakan mangganya itu, setelah cuci tangan ia mengupas mangganya, dengan tidak sabarnya ia makan dengan lahap buah mangganya itu. Untungnya ia hanya sendiri di rumah itu, bibi sedang cuti anaknya ada yang sakit, jika ada orang lain pasti akan menertawakan tingkah Rava itu.
.
.
.
bersambung..
__ADS_1