
Waktu terus berlalu tahun telah berganti tahun, tidak terasa kedua anak kembar Vriska dan Alan sudah memasuki Sekolah Dasar. Jangan lupakan tingkah keduanya yang selalu berbuat onar.
Prang....
Terdengar bunyi sebuah pecahan benda dari ruang tengah, membuat Vriska yang tengah berkutat di dapur menghentikan aktivitasnya. Ia mematikan kompornya, lalu menghampiri suara itu.
Matanya membulat sempurna, guci yang baru ia ganti kemarin kini sudah pecah lagi. Ruangan yang tadi terlihat rapi pun sudah seperti kapal pecah, bantal sofa sudah tidak berada pada tempatnya, berbagai mainan berserakan di lantai, warna cat tembok yang tadinya berwarna putih bersih sekarang sudah menjadi ajak lukisan si kembar.
Vriska memijat pelipisnya, setiap harinya ada saja tingkah mereka yang bisa membuat naik darah. Ekor matanya bergerak mencari putra dan putrinya, yang sepertinya sedang bersembunyi menghindari omelan kanjeng mami.
"Nada.. Nanda.."panggil Vriska, namun tidak ada sahutan.
Sementara di balik kolong meja,
"Kau keluarlah mami memanggilmu.."perintah Nanda
"Tidak mau, dia juga memanggilmu."seru Nada dengan cemberut.
"Nanda.. Nada kalian di mana. Ayo cepat keluar.."teriak Vriska dengan geram.
"Lihatlah Mami sudah keluar tanduknya, aku jadi takut.."ringis Nada
"Salahnya kau sendiri, kembali mecahin guci kesayangan Mami.."cetus Nanda
"Kau juga salah, karena kau aku bisa mecahin guci lagi"sangkal Nada
Sementara Vriska mendengar bisik-bisik dari kolong meja, ia pun berjongkok, karena terlalu asyik berdebat Nanda dan Nada tidak menyadari kehadiran Maminya.
"Mami.."teriak keduanya terlonjak kaget.
"Jadi di sini rupanya kalian, mau keluar sendiri atau Mami yang bantu kalian keluar.."ucap Vriska menatap keduanya yang sepertinya tengah ketakutan.
"Kami akan keluar sendiri Mami.."seru keduanya.
Vriska pun bangkit, Nada dan Nanda keluar dari persembunyiannya.
"Ada yang ingin kalian jelaskan pada Mami.."tanya Vriska pada kedua anaknya.
"I'm sorry Mami, aku tidak sengaja.."ringis Nada sambil mengeluarkan tangannya membentuk huruf V.
"Ini juga gara-gara dia.."tunjuk Nada ke Nanda
"Kenapa bawa-bawa aku, kau yang bersalah bukan aku."sangkal Nanda
"Ya karena kau yang menakut-nakuti aku dengan tikus bohongan itu.."ucap Nada
"Dasar penakut.."ejek Nanda
"Dasar pembuat onar.."sahut Nada tidak mau kalah.
"Kau yang bernuat onar bukan aku.."seru Nanda
__ADS_1
"kau.."
"kau.."
"kau.. dasar kakak kejam tidak mau mengalah.."sahut Nada
"Kau adik kurang ajar, aku kakakmu tapi kau tidak mau memanggilku Kakak.."seru Nanda
"Tidak sudi,.."ucap Nada sambil menyilangkan tangannya ke dadanya.
"kau..."
"Diamm..."teriak Vriska sambil menggelengkan kepalanya melihat kedua anaknya yang terus asyik berdebat.
"Mami.."ucap keduanya spontan
"Mami jangan marah-marah, nanti cantiknya hilang.."ucap Nada
"Yang benar saja, kata siapa kau"
"Kata Papi, aku selalu mendengar Papi berkata begitu saat Mami marah,"ucap Nada
Vriska tercengang kaget akan ucapan sang putri. "Bereskan mainan kalian, lalu setelah itu pergilah mandi.."
"Oke Mami.."
Setelah selesai keduanya berlari menuju kamar, Vriska meminta tolong Bi Ningsih untuk membersihkan pecahan guci itu.
"Aku, kau harus mengalah sebagai adik.."
"Kau yang harus mengalah karena kau kakakku.."
Rupanya perdebatan keduanya belum selesai masih terus di lanjut. Vriska masuk ke dalam kamar si kembar.
"Apa kalian tidak lelah terus berdebat.."tanya Vriska, membuat keduanya terdiam.
"ayo mami akan memandikan kalian.."sambung Vriska.
"No Mami, aku sudah besar. Aku akan mandi sendiri..."ucap Nanda
"Kalau begitu aku saja, ayo mami.."ucap Nada
"Dasar anak manja.."ejek Nanda
"Apa..."seru Nada sambil melototkan matanya pada sang Kakak.
"Ya sudah tunggulah Mami memandikan adikmu lebih dulu"ucap Vriska
Setelah keduanya selesai mandi dan berpakain rapi.
"Mami ingin bicara boleh..."ucap Vriska
__ADS_1
"yes Mami.."
"Lain kali berhati-hati kalau main, bagaimana jika tadi guci itu menimpamu apa yang akan terjadi. Bermainlah hal yang wajar, Nanda jangan suka menakut-nakuti adikmu. Mami dan Papi bahkan sudah menyediakan tempat kalian bermain, kenapa harus ke ruang tengah juga. Kalian tidak ingin membuat Mami sedih bukan.. Jangan membuat Mami terus-terusan marah.."tutur Vriska
"Sorry Mami,."ucap keduanya.
Vriska tersenyum lalu memeluk keduanya, "Mami maafkan.."
"Ayo turunlah sekarang waktunya kalian makan.."sambung Vriska
"Mami kenapa Papi belum pulang.."tanya Nada
Vriska melirik ke arah jam yang berada di atas nakas, pukul 17.10 wib
"Mungkin masih di jalan.."serunya.
πππ
Setelah memastikan si kembar sudah tidur, Vriska berlalu ke kamarnya.
Ceklek..
Vriska membuka pintu kamarnya. Alan yang tengah duduk berselonjoran dengan laptop di pangkuannya melirik sejenak ke arah sang istri.
"Anak-anak sudah tidur.."tanya Alan
"Sudah.."jawab Vriska,
Tak ingin menganggu sang suami, Vriska merangkak naik ke tempat tidur lalu membaringkan dirinya di sebelah Alan. Setelah memastikan kerjaannya selesai, Alan menutup laptopnya dan menyimpannya setelah itu ia pun membaringkan dirinya.
"Anak-anak bikin ulah apa lagi..?"tanya Alan menatap sang istri.
Vriska yang ingin memejamkan matanya kembali membuka matanya mendengar pertanyaan sang suami, "biasa lah.."
"Sabar ya.."ucap Alan.
"Mau di pijit..."sambungnya sambil memeluk sang istri.
"Tidak perlu.. kau juga lelah.."ucap Vriska, tangannya memainkan meraba dada bidang sang suami di balil bajunya.
"Baiklah, kau sudah berhasil menidurkan si kembar, sekarang kau juga harus menidurkan Papinya.."ucap Alan sambil mendekatkan wajahnya pada Vriska bersiap untuk mencium bibir sang istri, namun Vriska menghindar.
"Hubby, aku lelah..."ucap Vriska.
"Kau diam saja, biar aku yang bekerja. Tidak baik menolak ajakan suami, dosa lho.."seru Alan sambil mengerlingkan matanya.
Vriska hanya pasrah saat sang suami sudah berhasil menindihnya, lalu kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Vriska. Hingga akhirnya terjadilah pergumulan panas yang panjang, Vriska yang tadinya menolakpun terlihat menikmati segala sentuhan-sentuh lembut sang suami.
"Terimakasih.."ucap Alan sambil mencium kening sang istri setelah selesai melakukan ritual panasnya, berbaring di samping sang istri lalu membawa Vriska ke dalam pelukannya.
Vriska tidak menjawab karena ia sudah terlelap ke dalam mimpinya.
__ADS_1
ππ