
"Ada yang ketinggalan Alan"tanya Mama Merlyn pada putranya yang kini tengah memasukan kopernya ke dalam bagasi mobil.
"Tidak ma.."sahutnya
Setelah dua hari di rawat di rumah sakit kini Vriska sudah di perbolehkan pulang, Alan berencana membawa Vriska berlibur, ia berharap setelahnya istrinya bisa kembali ceria seperti dulu.
"ayo.."aja Alan pada Vriska,
Vriska melirik ke suaminya, "ke mana..?"tanya Vriska
"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat"jelas Alan
Vriska menghela nafasnya, "aku di rumah saja"ucapnya.
Alan menggelengkan kepalanya, "tidak, kau harus ikut ayo.."ucap Alan menggiring Vriska masuk ke dalam mobilnya, lalu ia memasangkan seatbelt nya.
Kemudian Alan memutari mobilnya, ia masuk ke dalam dan mulai memacu mobilnya.
Sementara itu Mama Merlyn masih mengamati kepergian putra dan menantunya itu, ia berharap saat nanti mereka kembali, semua sudah berubah seperti sedia kala.
πππ
"Apa ada sesuatu yang ingin kau beli"Alan mencoba mengajak Vriska berbicara untuk menghilangkan kesunyian di dalam mobilnya.
"Tidak.."seru Vriska
Alan menghela nafasnya, "kalau ngantuk tidurlah, aku akan membangunkanmu saat sudah sampai"tutur Alan. Vriska hanya menganggukan kepalanya.
Beberapa jam setelahnya mereka sudah samlai di sebuah Villa berlantai dua, terlihat di sana sudah ada seseorang pria baru baya saat mendengar bunyi klakson mobil pria paruh baya itupun menghampiri dan membukakan pagarnya.
"Selamat datang den Alan dan Nona Vriska.."sapa Pak Budi
Alan mengangguk dan tersenyum tipis, "apa sudah di siapkan semuanya pak.." ucapnya sambil mengeluarkan kopernya di dalam begasi.
"sudah den, mari masuk. Istri saya sedang masak sepertinya"serunya
Alan dan Vriska mengikuti langkah Pak Budi menuju kamar yang akan mereka tempati. Sementara kopernya di bawakan oleh Pak Budi, dan Alan menggenggam tangan Vriska.
"Silahkan den, saya tinggal dulu"pamitnya setelah sampai di depan kamar yang akan Alan tempati.
__ADS_1
Alan menganggukan kepalanya, ia pun membuka kamarnya kemudian ia meletakkan kamarnya. Vriska pun duduk, ia mengedarkan pandangannya ekor matanya bergerak menyapu ruangan ini, kemudian ia beranjak membuka pintu kamar balkonnya.
Alan yang melihatnya hanya tersenyum, ia berharap perlahan Vriska akan kembali seperti semula.
Vriska melangkahkan kakinya keluar, dari situ ia bisa melihat pemandangan yang sangat indah, ternyata di situ juga ada pantai, tanpa ia sadari ia pun tersenyum tipis dan merentangkan kedua tangannya menikmati semilir angin yang berada di sana.
Alan berjalan mengikuti langkah sang istri, saat melihat Vriska merentangkan tangannya Alan langsung melingkarkan kedua tangannya dan memeluk sang istri. Vriska terlonjak kaget, ia pun sedikit melirik sang suami.
"menganggetkanmu ya.."tanya Alan, ia pun tanpa malu menyandarkan kepalanya di ceruk leher sang istri.
"maaf, aku hanya sangat merindukanmu"ucaonya dengan lirih.
Vriska mendengarnya, "terimakasih, sudah membawaku kemari"
Alan melepas pelukannya dan tersenyum tipis,"iya, ayo kita masuk. Kita perlu beristirahat sebentar"
Vriska pun mengikuti perintah Alan ia masuk dan membaringkan diri di samping Alan. Lambat laun Vriska pun mulai memejamkan matanya.
πππ
Di bawah pohon dengan semilir angin yang sejuk Vriska menekuk lututnya dan menenggelamkan kepalanya pada kedua lututunya ia menangis tersedu-sedu, kemudian seorang anak perempuan kecil berusia sekitar lima tahun menghampirinya.
"Mami.."panggilnya, yang membuat Vriska mendongak melihat ke arah gadis kecil berambut panjang dengan memakai baju putih, wajah gadis kecil itu bersinar.
Dengan senyum manis yang menyejukan gadis kecil itu berkata, "Aku putrimu mami.."
"Putri..?"Vriska semakin terkejut dan tidak mengerti, "maksudnya..?"sambung Vriska.
"Iya aku putri Mami, yang tidak sempat mami lahirkan ke dunia"serunya dengan senyum manisnya.
"Maaf.."lirih Vriska kini mengerti arah pembicaraan gadis kecil itu.
Gadis kecil itu menggeleng dan tersenyum lalu mendekat ke arah Vriska perlahan tangannya terulur untuk menghapus sisa-sia air mata Vriska, "Mami jangan sedih dan menangis lagi, aku juga akan merasa sedih jika mami sedih"serunya.
"Tapi Mami merasa bersalah padamu, karena mami kau tidak lahir ke dunia"ucap Vriska
Gadis kecil itu menggeleng, "Tidak, mami tidak boleh sedih. Mami harus bahagia dan kembali seperti sebelumnya. Mami lihatkan aku di sini bahagia, aku tidak menderita sama sekali. Jadi ikhlaskan aku pergi mami"
"Bolehkan mami memelukmu.."
__ADS_1
Gadi kecil itu mengangguk, Vriska langung memeluk erat gadis kecil itu, "Mami sangat mencintai dan menyayangimu,"ucapnya di sela-sela tangisnya.
"Aku juga,"jawab gadis kecil itu.
"Bolehkah mami ikut denganmu"ucap Vriska
Gadis kecil itu menggeleng, "Tidak, kehidupan mami masih panjang. Masih banyak yang menunggu mami. Lihatlah Papi, Mam. Bukankah dia begitu sedih dengan keadaan mami saat ini. Papi sangat mencintaimu Mam. Ikhlaskan aku pergi, dan mulailah kehidupan yang baru dengan Papi, kembalilah menjadi Mamiku yang ceria dan kuat, percayalah Mami aku selalu ada bersamamu aku selalu ada di sini"ucap gadis kecil itu sambil menunjuk dada Vriska, "aku selalu melihat mami, aku akan sedih jika mami sedih. Tapi aku akan bahagia jika mami pun bahagia. Berjanjilah padaku mam untuk tidak akan menangisi kepergianku, mami hanya boleh manangis jika merasa bahagia"sambungnya.
"Bolehkah mami memelukmu lagi"tanya Vriska
Gadis kecil itu mengangguk, setelahnya Vriska kembali memeluknya, "Aku menyayangimu mami, mami aku harus pergi. Bernjanjilah jangan menangis, mami harus bahagia. Adik-adiku menunggumu mami.."ucapnya dengan itu pelukan itu terlepas, lalu gadis kecil itu pergi lambat laun ia menghilang.
ππππ
"Jangan pergi..."teriak Vriska bangun membuat Alan terlonjak kaget yang saat itu tengah duduk di sofa.
"Ada apa Vriska..?"tanya Alan ia melangkahkan kakinya mendekati Vriska yang terlihat wajah Vriska di penuhi dengan bulir-bulir keringat yang mengalir padahal kamar itu ber Ac.
Alan langsung mengambil sebutir obat dan segelas air minum, "minumlah"ucap Alan lagi
"Apa kau mimpi buruk.."tanyanya
Vriska meminum air putih itu, "Aku tidak membutuhkan obat itu lagi, aku tidak mau meminumnya lagi"seru Vriska dengan nafas masih tersengal-sengal.
"tapi.. kenapa..?"tanya Alan dengan lembut.
Vriska perlahan mulai mengamati wajah Alan yang menatapnya dengan sendu, tanpa aba-aba Vriska langsung membenamkan dirinya di dada bidang Alan, "Aku hanya membutuhkan dirimu, maafkan aku telah banyak membuatmu susah"
Alan masih bingung mencerna ucapan Vriska, tangannya terulur untuk membelai lembut rambut istrinya, "Ada apa? ayo di minum dulu obatnya"
Vriska menggeleng, "Tidak mau. Aku sudah baik-baik saja, aku tidak membutuhkan obat itu lagi"
"Baiklah.."seru Alan
Vriska masih memeluk erat Alan, untuk beberapa saat Vriska merasa jika suaminya ini sepertinya sedikit kurusan mungkin beban yang Vriska berikan saat itu, "Aku janji aku akan mengikhlaskan semua yang terjadi, dan membuka lembaran yang baru bersamamu. Aku tidak akan melakukan hal-hal konyol yang akan membuatmu sedih dan menderita lagi"ucap Vriska
Alan tercengang beberapa saat sebelum akhirnya ia menyadari jika kini Vriska sudah kembali menjadi istrinya yang seperti sebelumnya, "Terimakasih..."ucap Alan ia menitikan air matanya sambil tersenyum tipis membalas pelukan sang istri lalu mengecup mesra kepala Vriska, meski Alan tidak tau apa yang membuat Vriska tiba-tiba berubah, namun apapu itu Alan sangat berterima kasih.
πππ
__ADS_1
ππJangan lupa tinggalkan jejak like, komen, dan bagi aku hadiahnya yaππ
bersambung...