
"Bagaimana kabarmu nak? kenapa datang sendiri, di mana suamimu.?"tanya Dewi melihat kedatang putrinya hanya sendiri tanpa suaminya.
"Mah putrimu baru datang biarkan ia duduk terlebih dahulu"tutur Dicky
Sedangkan Vano dan Alisa hanya tersenyum saja. Ya selepas kepergian Rava tadi Dinda pun menyusul untuk ke rumah orang tuanya.
"Aku baik mah, Kak Rava sedang ada urusan sebentar dia bilang nanti akan menyusul."Ucap Dinda setelah mendudukan pantatnya di sofa . Tidak lama datang seorang wanita paruh baya mengantar minum.
"Bagaimana apa sudah ada kabar baik untuk mama dan papa, apa di sini sudah ada calon cucu mama?"tanya Dewi sambil mengelus perut Dinda.
Dinda langsung terdiam setelah mendapat pertanyaan dari mamanya, tenggorokannya rasanya terscekat miris. Anak ? bisakah ia nanti memilikinya, makhluk kecil yang akan selalu mewarnai kehidupannya. Mengingat itu membuat ia tersenyum, namun senyuman itu perlahan memudar mengingat kesepakatan-kesepakatan yang Rava buat. Ia hanya menunggu bagaimana akhir dari pernikahan ini, sedang Rava masih selalu hidup dalam bayang-bayang Luna.
Sentuhan tangan dari Alisa menyadarkan Dinda dari lamunannya.
"Kau bahagia menikah dengannya Dinda?"tanya Alisa setelah membawa Dinda ke taman belakang rumah.
"Tentu, kau akan merasakannya nanti setelah menikah dengan kak Vano?"sahut Dinda
"Tapi aku melihat kebohongan dari dirimu, ku harap tidak ada yang kau sembunyikan dariku. Aku tidak rela kau menderita. Oh ya bagaimana hubunganmu dengan Alan? maksudku apa kau masih berkomunikasi dengannya."tanya Alisa
"Terimakasih Alisa,. Aku tidak pernah berkomunikasi dengannya. Dia juga sudah bertunangan."sahut Dinda
*****
Hari sudah bergangi sore, semenjak mendapat pertanyaan seputar pernikahan, anak di rumah orang tuanya ia merasa gelisah di rumah orang tuanya. Ingin pulang namun ia takut Rava menyusul, sedang sampai detik ini Rava pun tidak juga muncul menjemputnya. Sudah berusaha menghubungi namun ponsel Rava tidak aktif. Setelah bergulat dalam pemikirannya Dinda memutuskan untuk pamit pulang tanpa menunggu Rava.
Kecewa, tentu ia kecewa dengan Rava kenapa hanya meminta waktu beberapa jam saja Rava tidak bisa. Dinda membanting stir mobilnya, miris kenapa nasib pernikahannya seperti ini. Sakit tentu sangat sakit.
Mengapa rasanya sesakit ini, kenapa kau selalu membuatku terluka. Beberapa tahun yang lalu kau juga menorehkan luka padaku, haruskah aku kembali pergi menghilang dari kehidupanmu. Ah tidak bisa, aku sudah terikat pernikahan dengannya.
Dinda terus melajukan mobilnya, hingga akhirnya ia menghentikan mobilnya di supermarket mengingat persediaan bahan makanan sudah habis. Mengambil troli lalu berkeliling mencari segala keperluan rumah.
"Kau belanja juga di sini.?"tanya Alan
Dinda hanya menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Sayang aku lapar bisakah habis ini kita makan" ucap Vriska sambil bergelayut manja di lengan Alan.
"Tentu, Dinda ayo sekalian kita makan bareng"ajak Alan
Dinda hanya menjawab dengan senyuman serta gelengan kepala.
******
Setelah semua kebutuhan terpenuhi Dinda pun memutuskan untuk pulang, namun langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita turun dari mobil yang tak asing baginya.
"Kak Rava..."lirihnya
Rava pun turun dari mobilnya, lalu pandangannya kaget mendapati Dinda berada di depannya dengan banyaknya kantong belanjaan sambil menatapnya tajam. Dinda memalingkan wajahnya, dan berlalu pergi tanpa menegur sapa padanya.
Hati Dinda mencelos seketika, rasa kecewa itu semakin menjadi. Rava pum terus mengamati Dinda, entah kenapa ia merasa bersalah, ia bisa melihat mata Dinda yang sudah berkaca-kaca menggambarkan isi hatinya saat ini.
*******
Dinda sedang membereskan belanjaan di dapur saat tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang membuat ia terlonjak kaget.
"Aku tadi tidak sempat menyusulmu di tempat mama, aku tadi harus....." ucap Rava terhenti ketika Dinda melepas tangan Rava dengan kasar sambil meninggalkan Rava sendiri.
******
Ketika sampai kamar Rava mendapati Dinda sedang tiduran, namun ia mendapati stelan baju yang sudah Dinda siapkan. Setelah itu ia bergegas membersihkan diri di kamar mandi .
Mendapati pintu kamar mandi tertutup, Dinda membuka matanya. Pikirannya terganggu akan pertemuan dengan Rava tadi sore. Rasanya ia seperti mendapati seorang suami tengah berjalan dengan selingkuhannya.
"Kau belum tidur?"tanya Rava setelah keluar dari kamar mandi mendapati mata Dinda yang terjaga . Setelah berganti pakaian ia pun merangkak naik ke atas kasur, memeluk Dinda. Entah kenapa merasa nyaman bisa menghirup aroma istrinya. Namun Dinda kembali menyingkirkan tangan Rava, dan berdiri namun dengan sigap tangan Rava mencengkal pergelangan tangan Dinda.
"Maafkan aku tidak sempat menjemputmu di rumah mama, aku tadi harus bertemu dengan seseorang, ya wanita yang tadi itu model yang akan bekerja sama dengan perusahaanku" tutur Rava
Dinda pun tersenyum mengejek sebelum menjawab ucapan Rava.
"Kenapa harus minta maaf, aku tau aku tidak penting bagimu. Aku sadar cepat atau lambat kau akan menemukan seseorang yang bisa mengisi hatimu, dan bila saatnya tiba kau akan melepasku bukan. Aku hanya akan merasa haus"ucap Dinda sambil mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Tidak ada kata pisah, aku tidak akan mau melepasmu"ucap Rava dengan tegas.
"Berikan aku alasan untukku bertahan padamu..."sahut Dinda sambil menatap tajam pada Rava.
"Karena aku_......."ucapnya terhenti
Cinta kamu.. tidak.. aku tidak bisa mengucapkan kata itu.
"Kau tidak bisa memberiku alasan untuk bertahan dengan pernikahan ini bukan, kenapa kau begitu egois. Kau bahkan tidak bisa move on dari Luna kenapa kau tidak menyusulnya saja."ucap Dinda dengan tegas
"Dinda..."bentak Rava bernada tinggi sambil menatap tajam Rava.
"Kenapa kau tidak bisa memahamiku, tidak semudah itu aku menyembuhkan lukaku. Dia pergi dengan tiba-tiba, aku tidak bisa membuang rasa bersalah ini sampai detik ini. "lirih Rava namun masih bisa terdengar oleh Dinda. Hingga matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya Dinda melihat Rava hampir menitikan air matanya untuk seorang wanita. Hatinya mencelos seketika, apakah ia sudah keterlaluan dalam bertutur kata.
Untuk pertama kalinya Dinda melihat sisi lemah Rava. Tampak Rava mengusap wajahnya dengan kasar, menghapus air matanya. Segitu dalamkah luka yang di berikan Luna dengan kepergiannya. Tanpa sadar ia mendekat lalu memeluk Rava.
"Maaf..."lirihnya hanya satu kata yang mampu ia ucapkan. Ia akui ia terlalu lemah untuk hal semacam ini, kenapa ia tidak bisa melihat Raba terluka. Mungkinkah perasaan cinta yang dulu samar-samar hilanh telah kembali. Perasaan nyaman yang ia rasakan kala bersama Rava, ada perasaan cemburu saat melihat Rava membawa seorang wanita cantik tadi sore, namun rasa lega ia rasakan kala Rava menjelaskan siapa wanita tadi. Pun ia merasa kecewa kala ia tidak mendapati Rava menjemputnya. Berbeda dengan perasaanya tadi kala bertemu Alan bergandengan tangan dengan tunangannya, ia hanya merasa sungkan karena mendapati tatapan cemburu dari tunangannya, tidak merasa sakit ataupun hal lainnya.
"Beri aku waktu..."ucap Rava sambil membalas pelukan Dinda.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1