Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Love Story Alan_Khilaf tapi juga ketagihan


__ADS_3

Hari terus berlalu setelah kejadian itu sikap Vriska masih tetap sama selalu berusaha menjauh dan menghindari Alan. Namun Alan tetap tidak menyerah, hingga kini laki-laki itu masih belum tau apa yang membuat Vriska berubah. Alan tetap percaya jika sampai detik ini Vriska masih mencintainya.


Vriska berjalan di sepanjang lorong rumah sakit, ia baru saja melakukan medical check up kembali namun Dokter menyatakan jika hasilnya masih sama. Ia berjalan dengan lunglai sampai pada akhirnya ia merasa di panggil oleh seseorang.


"Vriska.."panggilnya membuat Vriska menolah.


"Disty..."sahut Vriska terkejut melihat adanya Disty.


"Sedang ada di sini..?"tanya Disty


Vriska tampak bingung menjawab "aku hanya em .. habis menjenguk teman.. ah iya menjenguk teman.."ucapnya dengan penuh kebohongan.


"Benarkah, kau tidak berbohong bukan.."seru Disty


"Tentu saja tidak.."decak Vriska.


"Kau sendiri sedang apa di sini?"sambung Vriska


"Aku mengantar mama berobat. Dan barusan aku habis dari toilet."sahut Disty, Vriska mengangguk.


"Bagaimana hubunganmu dengan Alan.."sambung Disty


"Em itu.. aku.. dan dia.. itu.."Vriska tampak gelagapan.


Disty mengerutkan keningnya "Kalian baik-baik saja bukan. Vriska percayalah jika Alan sangat mencintaimu..."ucap Disty, membuat Vriska terdiam.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Vriska duduk di pojok sendiri di sebuah cafe, setelah memesan minuman Vriska mengeluarkan kertas hasil medical check ip nya tadi, bahkan setelah ia melakukan terapi masih tidak ada kemajuan, ia bingung harus bagaiamana sekarang. Apakah ia harus mengambil tindakan lebih, berobat ke rumah sakit lain atau ke mana.


Jika Vriska pergi dari sini artinya ia harus meninggalkan semuanya tidak terkecuali pekerjaannya. Meski sedikit-sedikit ia sudah mengurangi jadwalnya.


Vriska menghela nafasnya berat, kala mengingat bagaimana Alan yang tak kunjung menyerah, laki-laki itu bahkan sering menampilkan senyumnya, ia tidak lelah terus mengejarnya. Sebenarnya hatinya sakit kala harus menjauh dari Alan.


Tak jauh dari tempat duduk Vriska. Alan terlihat sedang berada di sana, ia sedang melakukan pertemuan dengan kliennya, keningnya mengkerut mendapati Vriska yang termenung sendiri seperti sedang memikirkan sesuatu.


Setelah selesai, Alan berjalan menghampiri Vriska.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau fikirkan Vriska.."tanya Alan sembari mendudukan dirinya di depan Vriska, pandangan Alan tertuju pada kertas yang di pegang Vriska.


"Alan kau mengagetkanku saja.."decak Vriska dengan kesal "Kenapa kau selalu muncul di mana-mana"sambungnya.


"itu berarti jika kita itu berjodoh.."seru Alan


Vriska menggelengkan kepalanya, "Apa yang kau baca tadi, bisakah aku melihatnya.."tanya Alan sembari meliri kertas yang di pegang Vriska.


Vriska terlonjak kaget, dengan buru-buru ia melipat kertas itu dan memasukannya ke dalam tasnya, namun tanpa Vriska ketahui jika kertas itu jatuh dan tidak masuk ke dalam tas.


Alan tidak boleh tau,


"Em itu hanya surat kontrak kerjasama Alan.."seru Vriska dengan gugup, menampilkan wajah pucatnya.


"Benarkah... Kau sedang tidak membohongiku bukan..."tanya Alan penuh dengan selidik.


"Tentu saja tidak, ya sudah aku harus pergi..."ucap Vriska bangkit dari kursinya.


"Biar ku antar..."tawar Alan


"Tidak, sopirku sudah menunggu di luar, aku duluan Alan.."Pamit Vriska dengan terburu-buru.


Alan mengusap wajahnya dengan kasar, sebenarnya ia hampir frutasi karena hingga kini Vriska tetap menjauh darinya. Merasa bosan bergelut dengan pikirannya, Alan bangkit dari kursinya, namun saat ia melangkahkan kakinya ia merasa seperti menginjak sesuatu.


Alan menundukan matanya, ternyata sebuah kertas, merasa penasaran ia pun berjongkok dan berniat mengambilnya.


Namun sebelum tangannya berhasil menjangkaunya sebuah tangan sudah berhasil merebutnya.


"Hey apa yang kau lakukan..."teriak Alan kemudian ia kembali berdiri.


"Vriska..."Alan terlonjak kaget ketika Vriska lah yang mengambil kertas itu.


Alan melihat nafas Vriska yang tampak tersengal-sengal. Tadi setelah sampai di area parkir Vriska kembali memeriksa kertas itu namun ternyata tidak ada, ia pun panik dan langsung kembali ke dalam dan ia melihat jika Alan akan mengambil kertas itu yang ia yakini jika kertas itu jatuh, dengan buru-buru Vriska mengambil alih kertas itu..


"Vriska apa yang kau lakukan, berikan itu padaku.."ucap Alan


Vriska menggeleng "Tidak Alan, ini punyaku bukankah aku sudah bilang jika ini hanya sebuah kertas kontrak"

__ADS_1


"Ya sudah biar aku membacanya, aku penasaran..."kata Alan


Vriska tetap kekeh tidak mau mengambilnya, Alan berfikir keras bagaimana caranya ia bisa mengambil kertas itu dari tangan Vriska, hingga terlintaslah sebuah ide. Alan terus memajukan tubunya, hingga Vriska mundur.


"Ayo Vriska berikan padaku.."ucap Alan dengan senyumnya, ia terus memajukan tubuhnya hingga pada akhirnya Vriska sudah mepet ke tembok. Hingga kini jarak keduanya sangat dekat.


Membuat jantung keduanya berdetak kencang. Vriska menelan salivanya dengan kasar, rasa gugup semakin menderanya, apalagi melihat jarak nya kini dengan Alan terlihat sangat intim. Ia bisa melihat wajah Alan yang putih bersih dan terlihat tampan, laki-laki itu terlihat sempurna dengan stelan jas yang rapi, aroma parfum Alan berhasil menghendus hidungnya. Vriska terlihat memejamkan matanya saat Alan mendekatkan wajahnya pada wajah Vriska.


Alan terus melihat ke arah Vriska dengan detak jantung yang sudah tidak karuan, ia mengamati wajah wanita yang kini ia cintai lekat-lekat, ada yang berbeda tapi ia tidak mengerti apa, sampai pada akhirnya fokusnya pada bibir ranum milik Vriska, Alan menelan salivanya dengan kasar, menahan diri untuk tidak mencium Vriska di tempat ini. Alan melihat Vriska memejamkan matanya, saat Alan mendekatkan wajahnya di wajah Vriska, Alan tersenyum tipis. Ini kesempatan yang bagus, seringai licik di wajahnya


Alan terus memajukan wajahnya, hingga kini jarak keduanya semakin intim. Dan..


Cup.. Alan berhasil mengecup bibir Vriska membuat Vriska terlonjak kaget namun kali ini ia sedikit lama mengecup bibir Vriska, dan dengan sigap Alan mengambil kertas itu pelan-pelan lalu menyimpannya di saku celananya.


"Alan kau.."ucap Vriska dengan memelototkan matanya kesal.


"Kenapa? masih kurang..."tanya Alan sambil menaikan kedua alisnya berniat menggoda Vriska.


"Itu tidak lucu Alan, memalukan kau tidak lihat kita jadi bahan tontonan orang. Ini di tempat umum Alan.."sahut Vriska


"Oh jadi kalu di tempat sepi boleh ya.."tanya Alan terus menggoda Vriska.


"Tentu saja tidak, kenapa kau jadi menyebalkan begini.."Sahut Vriska dengan kesal, kemudian ia menyingkir dari tubuh Alan, dan meninggalkan Alan. Ia begitu malu karena kini semua pengunjung menatap ke arahnya.


Jangan sampai aku di katakan wanita mesum, batinnya. Vriska berjalan sambil menutup wajahnya, sementara Alan justru terkekeh, ia merasa lucu melihat Vriska keluar dengan terbirit-birit, bahkan wanita itu sampai tidak sadar jika kertas yang ia ambil sudah ebralih ke tangan Alan.


Tadinya hanya ingin menggodanya saja, tapi melihat bibirnya aku jadi tidak tahan untuk menciumnya, sorry aku khilaf Vriska, tapi juga ketagihan..Alan terkiki geli.


Sementara Vriska yang sudah berada dalam mobil terus mendumel tidak jelas, Vriska memegangi dadanya yang berdetak kencang.


"Dasar Alan menyebalkan main cium seenaknya tanpa permisi, memalukan.. "dumelnya.


"Oh ya ampun, aku lupa kertas ini gawat Alan pasti sudah mengambilnya. Tidak, aku berharap kertas itu jatuh. Kenapa aku jadi terlihat bodoh begini, aku seperti sudah di hipnotis jadinya"desahnya.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹Bagaimana untuk episode kali ini menurut kalian tegang apa malah bikin kalian senyum-senyum sendiriπŸ˜‚πŸ˜‚πŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


πŸŽ‹πŸŽ‹Happy reading, jangan lupa tekan like, komen, dan votenya, .. beri aku hadiah sebanyak-banyaknya ya..πŸ˜ƒπŸŽ‹πŸŽ‹


bersambung..


__ADS_2