Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Tamparan hati


__ADS_3

Sampai di rumahnya Rava merasa kosong hati juga fikirannya. Saat melewati meja rias matanya tertuju pada secarik kertas, lalu mengambilnya.


*Kak Rava aku menyerah untuk mendapatkan cintamu, aku tidak akan pernah mampu untuk bersaing dengan orang yang telah tiada. Aku pergi, jangan cari aku. Saatnya nanti tiba aku akan mengirimkan surat gugatan perpisahan kita. Bagiku perpisahan mungkin jalan terbaik untuk kita, maaf tidak bisa menjadi istri yang terbaik untukmu.


Dari


Dinda*


****


Rava meremas kertas tulisan tangan Dinda itu lalu menggeleng "Tidak akan aku biarkan, sampai kapanpun aku tidak akan mau bercerai denganmu Dinda."matanya sudah berkaca-kaca, lambat laun air matanya pun keluar juga.


Ada rasa sakit kala membaca pesan dari Dinda. Rasa rindu menyusup di hatinya, ah belakangan ia merasa hubungannya dengan Dinda begitu baik serta harmonis, nyatanya dalam sekejap semuanya hancur begitu saja. Dinda pergi tanpa mendengar penjelasan darinya. Sungguh ia tidak pernah berfikir jika ungkapan cinta itu penting untuk Dinda, sejauh itu dia hanya berfikir untuk bersikap lebih baik pada Dinda.


Rava pikir dengan sikapnya yang sudah berubah Dinda tau bahwa ia mulai mecintainya, nyatanya tidak. Sungguh Rava menyesal jika saja waktu bisa di putar ulang, ia akan mendekap erat Dinda lalu mengecup pipinya dan bilang jika saat ini ia sangat mencintainya.

__ADS_1


Mengusap wajahnya serta menghapus air matanya, tujuannya besok ia akan ke rumah mertuanya. Lambat laun akhirnya ia terlelap tanpa mengganti pakaiannya serta membersihkan diri.


***


Di sinilah Rava berada di rumah mertuanya, pagi-pagi ia sudah datang setelah semunya telah selesai sarapan. Merasa ada yang penting Papa Dicky mengajaknya untuk mengobrol di ruang keluarga. Di sini ada mama imel serta Vano juga. Jika Papa Adi sang ayah kandung tampak begitu murka pada Rava, justru Papa Dicky terlihat lebih bijak, namun ia hanya memberi tamparan yang menohok hatinya.


"Apa yang terjadi..?"tanya Papa Dicky


"Dinda pergi dari rumah, saya pikir dia berada di sini"jawab Rava dengan jujur


Berbeda dengan Papa Dicky yang tampak tenang, Vano justru langsung menonjok adik iparnya itu "Brengsek apa yang kau lakukan pad adikku, sehingga ia sampai pergi, tidak akan aku ampuni dirimu"


"Bagaimana biaa putriku pergi dari rumahmu, papa tau dia tidak akan mungkin pergi begitu saja jika tidak ada sesuatu yang membuat dirinya terluka"ucap papa Dicky. Akhirnya Rava pun menceritakan semuanya, tanpa ada yang di tutup-tutupi. Kini tinggal ia dan Papa Dicky, Mama Imel sudah pergi karena tak kuat menahan tangisnya, sedang Vano juga telah pergi ke kantornya jika berada masih berada di rumahnya tentu saja tangannya rasanya gatak ingin memukul Rava.


Papa Dicky menghela nafasnya lalu mencopot kacamatanya serta mengelap matanya yang tampak berembun "Kau tau nak, Papa membsarkan Dinda dengan penuh kasih sayang. Papa selalu menjaganya, bisa di hitung berapa ia punya teman, berpacaran pun hanya sekali, lalu ternyata takdir tidak membawa mereka dalam ikatan pernikahan, tentu kau pasti tau siapa pria yang papa maksud. Kau seorang suami dan tidak lama lagi tentu kau akan menyandang status seorang papa, kau pasti akan mengerti saat anak yang kau besarkan dengan kasih sayang di lukai oleh orang yang tidak tulus mencintainya. Sebagai orang tau papa telah gagal menjaganya, maaf telah memaksakan kalian untuk menikah kala itu. Padahal papa tau kalian berdua sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini kala itu. Rava jika putri papa itu tidak bisa menunaikan kewajiban sebagai seorang istri dengan baik, tidak bisa membuatmu bahagia, serta tidak bisa membuatmu mencintai Dinda dengan semestinya, maka lepaskanlah ia nak, kembalikanlah ia pada kami, dengan lapang dada tentu kami akan menerimanya kembali. Karena sesuatu yang di paksa tidak akan baik bukan"

__ADS_1


Mendengar penuturan papa mertuanya Rava menggelengkan kepalanya dengan kuat lalu ia beranjak dan berlutut di hadapan papa mertuanya itu. "Maaf sudah melukai putri papa. Mohon beri aku satu kesempatan lagi, aku janji akan membawa Dinda menuju kebahagiaan. Aku perlu restu dari papa"ucap Rava dengan terisak, Papa Dicky pun tampak menitikan air matanya.


"tunaikan janjimu nak"sahut Papa Dicky lalu mengusap kepala menantunya itu. Kata itu membangkitkan semangat untuk dirinya kembali mencari Dinda.


****


Rava membelai bingkai fotonya bersama Luna, lalu ia tersenyum "Terimkasih atas kebersamaan kita Luna, aku memang mencintaimu tapi aku harus berjalan ke depan bukan. Biarkan cinta kita menjadi kenangan cerita lama. Sekarang ada wanita yang harus aku jaga dan juga aku mencintainya" ucap Rava tersenyum.


Rava merebahkan dirinya ia menyadari bahwa saat ini ia hanya merasa bersalah pada Luna. Mungkin dulu memang ia mencintainya, namun saat ini ia hanya merasa bersalah karena merasa tidak bisa menjaganya. Berbeda saat menatap foto Dinda ia merasa ada getaran-gataran rindu di dada. Ia menyadari jika saat ini ia begitu mencintai Dinda. Ia bertekad akan mencari Dinda kemanapun.


.


.


.

__ADS_1


.


bersambung..


__ADS_2