
Dua minggu telah berlalu, kini Rava dan Dinda sudah resmi menjadi suami istri. Pernikahan pun di gelar dengan mewah. Tidak di pungkiri banyak yang patah hati pun iri. Salah satunya Alan meski sudah putus dengan Dinda saat itu Alan tetap hadir sambil mencoba tersenyum, baginya apa yang ia lakukan sudah benar. Rava memutuskan untuk menempati rumah yang ia beli dengan jerih payahnya sendiri.
Meski sempat terjadi perdebatan antara Rava dan Mamanya namun tetap Rava lah pemenangnya. Adi pun menerima keputusan Rava, apalagi memang di rumah itu masih banyak menyimpan kenangan tentang Luna, bisa saja jika Rava dan Dinda tinggal bersamanya Rava tidak akan bisa melupakan Luna.
Dinda berjalan dengan gantai menuju kamar nya, rasa lelah pun letih 3 hari ia harus lembur menggantikan temannya. Apalagi berturut ada jadwal operasi sungguh melelahkan. Setelah sampai kamar ia segera merebahkan tubuhnya tanpa menaro kunci mobil, tasnya ia taro dengan sembarang, pun sepatu yang masih bergantung pada kakinya yang masih menjuntai ke lantai.
Pikirannya menerawang pada masa pesta pernikahan itu, di mana saat itu ada Alan tiba.
"Selamat ya atas pernikahan kalian, oh iya kenalkan dia Vriska tunanganku."ucap Alan kala itu dengan senyumnya.
Secepat itukah ternyata Alan move on darinya, sudahlah ia tinggal menjalani takdirnya.
Lalu pikirannya kembali teringat pada saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, di mana saat itu Rava dengan tegas mengatakan.
"Kau ingat, pernikahan kita memang bukan pernikahan kontrak, tapi aku tetap mengajukan kesepakatan-kesepakan kau tidak boleh mengusik kepribadianku. Dan juga jangan jatuh cinta padaku, karna cintaku tetap Luna."ucapnya dengan tegas kala itu.
"mengapa tidak kau ikuti mati saja"ucap Dinda dalam hati sambil tersenyum getir.
Setelah lelah bergulat dalam pemikirannya akhirnya Dinda terlelap.
******
30 menit berlalu Rava pulang, ketika ia memasuki kamarnya. Ia mendapati Dinda yang terlelap dengan kunci mobil yang masih ia pegang, tas yang ia taroh dengan sembarang, sepatu yang masih bergantung pada pemiliknya.
Rava menaro tas kerjanya, melonggarkan dasinya, lalu berjalan mendekat ke arah Dinda. Ia pun melepaskan sepatu Dinda, mengambil kunci mobil Dinda ia taro di atas nakas, pun dengan tas Dinda. Lalu ia membenarkan posisi tidur Dinda, tidak lupa ia menyelimutinya. Meski pernikahan itu terjadi karena kesepakatan Rava tetap memutuskan untuk satu kamar dengan Dinda. Akan sangat merepotkan ketika nanti orang tua mereka akan menginap.
__ADS_1
Setelahnya Rava berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
*****
Mendengar suara gemericik air Dinda terbangun dari tidurnya, ia melihat ke sofa tas kerja Rava, akhirnya ia beranjak menyimpan tas kerja Rava. Juga berinsiatif mengambilkan pakaian untuk Rava.
Tidak lama setelah itu pintu kamar mandi terbuka, Rava keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Aku bisa ambil baju sendiri.."ucapnya
"baiklah.."sahut Dinda sambil berlalu hendak pergi ke luar ia merasa malu melihat Rava akan berganti baju di depannya, memang mereka sudah menikah tapi tetap saja pernikahn itu bukan pada umumnya.
"Kau sudah makan.."tanya Dinda setelah sampai pintu ia berbalik kembali manatap Rava.
"Belom.. Kenapa kau mau memasak untukku memangnya..?"tanya Rava kembali
"Masaklah yang kau bisa nanti aku akan memakannya.."tutur Rava menyadari rasa minder Dinda.
setelah itu Dinda berlalu pergi ke dapur memasak pasta untuk Rava.
******
Saat ini Rava dan Dinda sedang duduk di meja makan.
"Kau tidak makan.."tanya Rava melihat pasta yang hanya ada satu porsi .
__ADS_1
"aku sudah makan, sebaiknya kau makanlah. Aku akan kembali ke kamar saja "sahut Dinda lalu berjalan ke kamar.
Setelah itu Rava melahap pasta yang di buat Dinda, memang ia merasa lapar apalagi tadi ia juga melewatkan jam makan siangnya.
*****
"Bertahun-tahun kau di luar negeri kau di sana memangnya hanya belajar saja."tanya Rava yang saat ini duduk di sofa sedang Dinda setelah membersihkam diri ia duduk di tempat tidur dengan memainkan hpnya. Merasa ada yang bertanya ia pun menoleh.
"iya kenapa?"tanyanya kembali
"Kau tidak pernah belajar memasak ya..?"tanyanya kembali
"untuk apa..?"
"untuk memasakkan suamimu lah.Kau tau dulu Luna selalu memasak untukku setiap harinya.?"sahut Rava
"Aku akan belajar memasak bila memang pernikahan kita normal, jika suamiku memang memperlakukan aku layaknya seorang istri. Perlu kau ingat aku bukan Luna aku Dinda. Kenapa? kau menyesal menikah denganku, aku memang hanya anak manja. "ucapnya dengan sedikit emosi. Entah kenapa tiba-tiba ia begitu sensitif perihal Rava membandingkan dirinya dengan Luna. Kenapa dan ada apa, ia merasa sangatt marah.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...