
Alan mengendarai mobilnya dengan perasaan kesal bercampur emosi, semua kata-kata Vriska begitu terngiang-ngiang di telinganya.
"Mudahnya dia menyuruhku untuk menikah lagi demi seorang anak, apa dia sudah gila. Kenapa dia tidak memikirkan perasaanku, ataupun perasaan dia sendiri, dia pikir berbagi suami itu gampang".ucapnya.
Mobil Alan terus melaju membelah jalanan Jakarta, sesekali ia akan mengklakson saat ada pengendara lain yang menghalangi jalannya. Kali ini ia tidak memikirkan bagaimana Vriska yang ia tinggalkan sendiri di rumah, ia hanya berfikir pergi sejenak menghilangkan rasa amarah yang meluap begitu saja.
Citt.. Mobil Alan berhenti di depan sebuah bar, Alan turun membuka pintu mobilnya, lalu kembali menutupnya dengan kencang. Setelahnya ia memasuki bar itu, lalu ia mendatangi meja bertender itu.
"Satu.."pinta Alan, kemudian ia mulai menuangkan minuman itu ke dalam gelas dan meminumnya dalam satu tegukan.
ππππ
Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun Alan belum juga kembali pulang. Vriska masih setia menunggunya.
"Kenapa dia belum juga pulang? apa dia begitu marah padaku"seru Vriska sambil terus mondar-mandir.
Vriska bangkit membuka pintu rumahnya, ekor matanya bergerak mencari seseorang, namun yang terlihat hanya rintikan air hujan. "Apa dia tidak pulang,"serunya dengan sendu.
Tiba-tiba sebuah suara petir menggelenggar begitu kencang, membuat Vriska menjerit kaget.
"aww..."jerit Vriska.
Ia langsung berlari menuju kamarnya, namun suara petir itu kembali berbunyi "Ya Tuhan aku sangat takut, Alan kamu di mana? aku takut."ucap Vriska dengan badan gemetar ia duduk di ranjangnya, dengan menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangannya.
Air matanya menetes ia kembali kala mengingat permintaannya tadi sore terhadap suaminya, "Akan seperti ini mungkin rasanya saat harus berbagi suami, di mana nanti aku akan merasa kesepian dan terluka saat ia harus bersama istri barunya."Vriska menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak siap untuk hal itu. Aku tidak akan mampu berbagi suami"sambungnya.
Tiba-tiba lampu padam, membuat Vriska bertambah takut, Vriska membungkus dirinya dengan selimut "Alan kamu di mana? aku takut.."ucapnya dengan tangis yang sesegukan sekujur tubuhnya bergetar.
πππ
Alan yang sedang duduk termenung di meja bar , pundaknya di tepuk oleh seseorang ia terlonjak kaget.
"Sedang apa kau di sini? patah hati.."tanya Aldo
"Bukan urusanmu.."serunya dengan kesal, sungguh saat ini ia ingin marah dan ingin menghindari siapa saja.
Aldo hanya terkekeh kemudian mendudukan dirinya di sebelah Alan, "Wajahmu terlihat kusut seperti baju yang tidak pernah di setrika. Sepertinya kau sedang ada masalah"
Alan menatap tajam Aldo membuat Aldo bergidik "ih takut, serem.."serunya
__ADS_1
"Okelah aku tidak akan mengganggumu.."sambungnya.
Alan menimang-nimang pikirannya, "kau sendiri sedang apa di sini? mabuk ya, ku bilang juga kau pada Livia"seru Alan
"Hei aku sedang bekerja , aku sedang menyelidiki seseorang. Enak saja, aku di sini tidak main-main seperti dirimu. Livia juga tau hal ini, kalau Vriska pasti tidak tau, akan sangat seru pasti kalau aku memberitahukannya"seru Aldo dengan wajah smirknya,
Mengingat istrinya itu membuat Alan terdiam, ia juga berfikir hal yang sama seperti Aldo, jika Vriska tau dirinya pergi ke bar untuk minum pasti Vriska akan marah padanya, tapi tampaknya saat ini ia ingin berifikir masa bodo, ia memang sengaja pergi agar tak bertambah emosi pada istrinya itu.
"Hei ada apa kenapa kau terdiam? sepertinya kau sedang ada masalah.."seru Aldo
Alan memegang gelasnya lalu melihat ke arah Aldo, "Bagaimana rasanya memiliki seorang anak?"tanya Alan dengan tiba-tiba.
Aldo tersenyum membayangkan anaknya yang tengah berada di rumah bersama istrinya, "Menyenangkan, saat seharian kita lelah dalam bekerja begitu pulang di sambut dengan senyuman anak kita rasanya segala lelah dan letih kita hilang begitu saja,"jelas Aldo.
Alan terlihat mencerna baik ucapan Aldo, "Hei ada apa kau tiba-tiba bertanya tentang anak, apa istrimu sudah hamil, jadi kau tidak sabar untuk menyambut kelahiran anakmu itu begitukah?"sambung Aldo bertanya pada Alan.
Alan menghela nafasnya, andai saja apa yang Aldo ucap itu benar tidak perlu ia sampai semarah ini hingga membuat ia tiba di bar, Alan menggelengkan kepalanya, "Tidak, Vriska belum hamil."ucapnya.
Aldo yang mendengar terdiam sebelum kemudian ia menepuk pundak Alan, "Bersabarlah semua pasti akan ada waktunya,"kata Aldo mendadak ia menjadi mellow.
Alan tersenyum, "Kau tau aku tidak pernah menuntut anak darinya, aku selalu menerima akan segala takdir kehidupan yang Tuhan berikan pada rumah tangga kami. Tapi hari ini dia membuatku kecewa, dia menyuruhku untuk menikah lagi hanya demi mendapatkan seorang anak."jelas Alan.
Aldo mengangguk mengerti, "Aku mengerti apa yang kau rasa. Tapi kau juga harus mengerti perasaan istrimu kini, perasaan wanita itu sensitif, apalagi bila sudah menyangkut seroang anak. Mungkin saja istrimu mengalami tekanan pertanyaan seputar anak tapi kau sebagai seorang suami harus memberinya dukungan. Baiknya kau bicarakaknlah hal itu baik-baik, jangan sampai karena permasalah kalian itu akan membuat celah bagi orang ketiga dalan rumah tangga kalian"jelas Aldo
"Omong kosong aku tidak akan membiarkan siapapun merusak rumah tanggaku"ucap Aln dengan kesal.
"Jika begitu pulanglah, istrimu pasti tengah menunggumu, lihatlah di luar hujan begitu deras apa kau tidak kasihan dengannya"ucap Aldo sambil menunjuk di luar yang tengah hujan.
Alan pun mengikuti arah tangan Aldo, "Aku pulang.."ucap Alan dengan buru-buru.
ππππ
Mobil Alan sudah tiba di depan rumah, ia segera berlari masuk. Saat baru sampai di pintu.
"Bagaimana lampu bisa padam begini"ucap Alan ia segera menghubungi pihak PLN.
Setelahnya Alan kembali masuk ke dalam, "Vriska, kamu di mana..?"panggil Alan namun tidak ada jawaban.
Dengan menggunakan senter yang ada pada ponselnya Alan melangkahkan kakinya menuju kamarnya, saat suda sampai ia membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Vriska... sayang.. di mana..?"panggil Alan lagi.
Namun tidak ada jawaban, ia hanya mendengar suara orang yang tengah menangis sesegukan. Alan mencari sumber suara itu, ia melihat jika Vriska tengah membungkus dirinya dengan selimut. Alan melangkah kakinya mendekati isrtinya.
"Sayang... ini aku..."ucap Alan,
"Jangan... ku mohon jangan aku takut. Alan kau di mana"seru Vriska dengan gemetar.
Alan langsung memeluk Vriska, "sayang ini aku suamimu,"seru Alan
Vriska langsung membuka selimutnya, "Hubby, kau kah itu... kau dari mana.. aku takut.."seru Vriska sambil memeluk Alan,
Alan masiy merasakan tubuhnya Vriska yang tampak gemetar, mendadak ia jadi merasa bersalah telah meninggalkan istrinya sendiri di rumah, "maaf.."ucap Alan .
Tidak lama itu lampu kembali menyala, Alan merasa lega, Alan melepas pelukan Vriska kemudian menatap wajah istrinya, tangannya terulur untuk menghapus air matanya. "Maafkan aku meninggalkanmu sendirian"seru Alan sambil mengecup kening Vriska.
"Aku yang salah, aku yang minta maaf.."ucap Vriska dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi aku telah membentakmu tadi, maaf. Vriska dengarkan aku mohon jangan menyuruhku untuk menikah lagi, aku tidak akan sanggup melihatmu terluka. Masih ada jalan lain untuk kita memiliki anak, tapi bukan dengan cara aku menduakanmu. Jangan pernah merasa insecure pada dirimu sendiri, jangan pernah mendengarkan apa kata orang lain. Percayalah padaku, saat aku sudah memutuskan menikah denganmu aku sudah mengetahui semuanya, aku sudah bersiap menerima semua segala kekuranganmu .Kebahagianku ada bersamamu bukan pada perempuan lain. Percayalah pada takdir Tuhan Vriska, masih banyak waktu untuk kita menunggu."jelas Alan sambil ,menatap wajah Vriska dan kedua tangannya masih berada di pundak Vriska.
Vriska mengangguk memgerti, "Aku minta maaf, aku tidak mengatakan hal itu lagi"seru Vriska
Alan tersenyum, "bagus.."ucap Alan kembali membenamkan kepala Vriska di dada bidangnya, Vriska terlihat menikamti itu.
"Terimakasih, sudah mau menerimaku apa adanya"ucap Vriska.
"Itulah Cinta sayang.."sahut Alan.
Vriska mengernyit lalu ia melepas kepalanya dari dada Alan saat ia mencium bau sesuatu, ia memandang wajah Alan, "Kau dari mana tadi? aku mencium bau alkohol,"tanya Vriska membuat Alan menelan ludahnya kasar, Alan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "itu sayang, apa namanya ya..."Alan bingung harus menjawab apa.
"Apa...?"tanya Vriska
"Aku tidak tau bagaimana tadi aku bisa sampai ke bar sayang, tapi aku hanya menimum sedikit saja, kau jangan marah, aku tidak bersama wanita lain. Percaya ya"ucap Alan sambil turun dari ranjangnya.
Vriska sudah menatapnya tajam, "Sayang aku mandi dulu ya..."pamit Alan langsung berlari masuk ke kamar mandi.
πππ
ππJangan lupa like, vote dan komennyaπππ
__ADS_1
bersambung..