
Sudah berhari-hari sejak kejadian itu Vriska terus murung di kamar, ia kerap melamun dan menangis sendiri. Nafsu makan Vriska pun menurun, Alan terkadang bingung harus berbuat apa. Jika pun ia memarahi Vriska pasti Vriska hanya akan menangis dan berujung penyesalan Alan. Belum lagi pekerjaan kantor yang menumpuk menambah beban pikirannya. Ia tidak dapat bekerja dengan konsentrasi karena pikirannya kini terbagi dengan konidisi istrinya.
Ceklek pintu terbuka..
Pukul satu siang hari Mama Merlyn datang membawa makanan, namun lihatlah makanan yang ia bawa tadi pagi bahkan sama sekali belum tersentuh sama sekali. Vriska hanya diam melamun sesekali ia akan menangis, kini ia menelungkupkan kepalanya pada kedua lututnya.
Mama Merlyn melihatnya begitu miris, lalu ia meletakkan makanan itu di meja kecil. Kemudian ia mendekat ke arah ranjang dan duduk di sisinya, tangannya terulur untuk membalai kepala menantunya yang ia anggap sudah seperti putri kandungnya sendiri.
"Sayang, makan ya. Mama sudah membawa makanan yang baru, barang kali kau menyukai apa yang mama masak ini?"tanya Mam Merlyn
Namun Vriska hanya menggelengkan kepalanya, "Sedikit saja oke.. ayo"
Mama Merlyn kembali bangkit mengambil makanan itu dan mulai menyuapi Vriska, "ayo sedikit saja sayang, aa..."
Vriska pun menurut membuka mulutnya, saat sudah mencapai tiga suap, "Sudah ma, aku sudah kenyang.."
Mama Merlyn menghela nafasnya, ia meletakkn sisa makanan itu di meja, lalu perlahan ia mulai mendekati Vriska kembali , "Sampai kapan kau akan seperti ini nak? sampai kapan kau akan terus memikirkannya."
"Aku membutuhkan waktu ma"serunya
Mama Merlyn mengerti, "Mama tau, tapi sampai kapan ini sudah seminggu, meski kau meratapi apa yang terjadi semua tidak akan kembali"
Vriska mendongak menatap Mama Merlyn dengan mata berkaca-kaca, "Aku hanya... hanya merasa sangat menyesal karena tidak mampu menyadari kehadiran anak yang saat itu berada dalam rahimku. Aku sudah terbiasa telat datang bulan, lalu biasanya aku akan mengeceknya menggunakam test peck namun hasilnya hanya garis satu, atau biasanya aku akan langsung pergi ke dokter tapi hasilnya selalu sama aku akan pulang dengan rasa kecewa, aku fikir bulan ini pun sama. Andai aku melakukan hal yang sama mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini, aku tidak akan kehilangan anak yang selama ini aku nanti-nantikan. Sebelumnya aku sudah merasakan sakit pada perutku, aku fikir itu hanya reaksi aku akan datang bulan atau asam lambungku yang naik, aku tidak berfikir jika ada janin yang dalam bahaya di perutku ma."jelas Vriska sambil menangis tersedu-sedu.
Di balik pintu ada Alan yang mendengarkan semuanya. Mama Merlyn mendengarkan ungkapan Vriska, "Mama mengerti kau menyesal, tapi kehidupan juga harus berjalan Vriska."
"Maaf ma, aku tidak mampu memberikan cucu buat mama, aku menantu yang tidak berguna"seru Vriska kembali menangis.
"Bukan tidak mampu sayang tapi belum Percayalah pada Tuhan, dia akan hadir kembali di sini. Bukankah Dokter sudah menyatkan kondisi rahimmu sudah sehat dan bersih. Tidak ada penyakit apapun Vriska,"Tutur Mama Merlyn tangannya terulur untuk menghapus air mata Vriska.
"Aku butuh waktu ma.."ucapnya
Mama Merlyn bangkit beridiri, "Baiklah mama tinggal dulu, itu ada suamimu"
Setelah Mama Merlyn pergi, Alan mulai melangkahkan kakinya kemudian ia mendudukan dirinya di samping Vriska. "Sampai kapan kau akan seperti ini Vriska"
Vriska menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tau.."
__ADS_1
Saat Alan akan membuka mulutnya, "Tolong tinggalkan aku sendiri aku butuh wakti sendiri"pintanya
"Baiklah, panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu"seru Alan
Vriska hanya terdiam tidak membalas ucapan Alan. Bersamaan dengan hal itu Bi Ningsih datang memberi tahu jika ada tamu untuk Alan. Alan pun berjalan ke ruang tamu, setelah sampai di ruang tamu terlihat di sana ada perempuan cantik berkerudung biru.
ππππ
"Kau sudah lama menunggu?"tanya Alan padanya.
Wanita itu berdiri, "belum Tuan, saya kesini ingin mengambil berkas yang akan saya berikan pada klien minggu kemarin Tuan"seru Iva sekerteris Alan.
Alan mengangguk mengerti, "Maaf banyak merepotkanmu, aku mungkin belum bisa kembali ke kantor sampai beberapa haei ke depan"
"Saya mengerti kondisi anda Tuan, akan saya kerjakan semampu saya."tutur Iva
"Terimakasih Iva, akan ku ambilkan berkasnya"!Alan pun bangkit ke ruang kerjanya mengambil berkas itu.
Setelah dapat ia kembali ke ruang tamu lalu mmeberikannya pada sekretaris itu, untungnya Alan mempunya sekretaris yang begitu cerdas handal dan cekatan jadi Alan bisa mengandalkan sekretarisnya itu, meski tidak mengapa ia harus membayar mahal sekretarisnya itu. Tapi bertahun-tahun keduanya terlibat dalam hal kerja, mereka tetap profesional dalam hal kerja, tidak pernah ada gosip miring apapun, mengingat sikap Alan yang dingin, dan sifat Iva yang begitu menjaga jarak pada lawan jenis.
Saat Alan hendak membuka mulutnya, seseorang datang, "Dika Disty"
"Hallo Alan, aku kesini ingin menengok adikku. Bagaimana kabarnya?"tanya Disty
"Masih sama seperti sebelumnya, Ia selalu mengurung diri di kamar."
ππππ
Sementara itu Vriska setelah kepergian Alan ia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah, lalu ia bangkir dari ranjangnya ke arah lintu kemudian ia mengunci pintu.
Pandangannya langsung tertuju pada pisau yang tertancap di buah apel yang di letakkan di piringnya.
"Kalau aku mati, Alan pasti akan menikah lagi dan bahagia."serunya, entah mendapat bisikan dari mana wanita itu bisa berkata demikian.
Vriska kini sudah dekat dengan pisau itu, perlahan ia mengambilnya, ia meneguk salivanya dengan kasar. Lalu ia mulai mendudukan dirinya di lantai sebelah ranjang. "Maafkan aku Alan, aku sangat mencintaimu"ucapnya, kemudian ia mulai mengangkat pisau itu dan menempelkannya pada pergelangan tangannya di sebelah kiri lalu ia menyayatnya, darah segar mulai keluar begitu banyak, entah untuk beberapa menit kemudian Vriska masih sadar namun lama -lama ia jatuh tak sadarkan diri. Darah itu terus mengalir, wajah Vriska sudah pucat.
πππ
__ADS_1
Sementara itu Alan, Disty, Dika dan Iva mulai berjalan mendekat ke kamar Vriska. Saat sudah sampai di depan Alan mencoba menarik gagang pintu, namun tidak berhasil di buka. Alan menyadari jika Vriska mengunci pintunya dari dalam. Alan pun mengetok pintunya.
"Sayang tolong buka pintunya, ada yang ingin bertemu denganmu"pintanya tangannya tidak henti mengetuk pintu.
"ayo buka pintunya, kenapa harus di kunci. Kau sedang apa"ucap Alan lagi
Sementara yang lainnya terlihat bingung tidak sahutan apapun dari dalam, "Alan lebih kau dobrak saja pintunya,"ucap Dika
Alan mengangguk, dengan perasaan cemas ia pun mulai mendobrak pintu kamar itu, meski terlihat agak susah Dika pun berinsiatif membantunya, dengan bantuan Dika akhirnya pintu itu bisa terbuka.
Deg Duar...
Jantung Alan langsung berhenti saat melihat pemandangan di depannya, ia langsung berlari mendekati Vriska yang sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan darah mengucur deras di tangannya.
"Ya Tuhan, apa yang kau lakukan Vriska.."teriak Alan menggema, hingga semua orang terlonjak kaget. Tidak terkecuali Mama Merlyn dan Bi Nengsih mereka langsung datang.
"Alan ada apa?"tanya Mama Merlyn lalu pandangannya langsung tertuju pada Vriska ie membulatkan matanya.
Alan mengangkat tubuh Vriska, "Aku harus membawanya ke rumah sakit", dengan langkah terburu-buru Alan berjalan ke luar.
"Biar aku yang menyetir Alan"ucap Dika. Meski Dika seorang Dokter namun ia tidak datang tidak membawa peralatan apapun.
Dengan kecepatan penuh ia mulai memacu mobilnya, "tolong lebih di percepat lagi Dika, aku takut terjadi sesuatu sama Vriska"ucap Alan dengan mata memerah, dengan tangan gemetar Alan pun mengambil sapu tangan di sakunya ia mulai memilitkan kain itu pada pergelangan tangan Vriska.
"Ini sudah maksimal Alan, aku juga tidak mungkin membahayakan diri, ini sudah sangat cepat Alan. Sabarlah sebentar lagi kita sampai"Pungkas Dika, ia bahkan sampai tidak sadar telah meninggalkan anak dan istrinya di rumah Alan.
Tidak lama itu mereka telah sampai di rumah sakit. Melihat kedatangan Dika semua langsung sigap, para suster langsung membawa Vriska masuk ke dalam ruang UGD. Dika langsung turun tangan sendiri memeriksa kondisi Vriska.
Sementara Alan tidak di ijinkan masuk, ia menunggu di luar dengan harap-harap cemas, ia juga merasa menyesal telah meninggalkan Vriska sendiri tadi, padahal ia tau kondisi istrinya sedang tidak baik-baik saja.
Sementara Dokter Dika mengobati luka di pergelangan tangan Vriska, para suster mulai memasangkan jarum infus di tangan Vriska.
πππ
ππjangan lupa like, komen, voteππ
bersambung..
__ADS_1