Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Memberiku bekal


__ADS_3

Sesuai dengan rencana kemarin hari ini Rava dan Papa Adi akan berangkat ke luar kota. Saat ini Rava tengah bersiap-siap, Dinda pun juga sudah bangun.


"Kenapa harus kau dan papa yang berangkat, kenapa tidak menyuruh kak Aldo saja.."ucap Dinda yang saat ini tengah duduk di sofa.


"Tidak bisa, kasihan Aldo ia sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Livia,"ucap Rava sambil berjalan menghampiri Dinda dan memberikan dasinya ke Dinda.


"Apa maksudnya..?"tanya Dinda lagi sambil mengerutkan keningnya.


"Tentu saja memasangkan dasi suamimu ini, ayo berdirilah pasangkan.."ucap Rava sambil menarik Dinda untuk segera bangun memasangkan dasinya.


Dengan posisi dekat seperti ini tentu saja membuat Dinda gugup, apalagi pandangan Rava tidak pernah lepas darinya, juga kedua tangannya yang tidak mengalung di pinggang Dinda. Padahal memasang dasi amatlah mudah, namun bagi Dinda kali ini terasa amat sulit.


"Apakah kau akan menginap..?"tanya Dinda


Rava tersenyum sebelum menjawab kebawelan sang istri kali ini "Jika urusanku selesai lebih cepat akan aku usahakan untuk pulang, tapi jika tidak ya tentu saja aku harus menginap. Memangnya kenapa? kau takut rindu padaku ya.."sahut Rava dengan senyum menggoda.


"Cih PD sekali..."sahut Dinda dengan mendumel tidak jelas sambil menarik dasi Rava.


"Auw... kau mau membunuhku ya.."jerit Rava ketika dasi yang Dinda pakaikan justru mencekiknya.


"Ops sorry aku tidak sengaja, itu karena salah dirimu sendiri"sahut Dinda sambil membenarkan kembali dasinya.


"Kenapa wajahmu memerah..."tanya Rava sambil terus memperhatikan Dinda yang slaah tingkah, juga memegang pipi Dinda


"Menjauhlah, sana berangkat..." ucap Dinda sambil mendorong Rava, agar segera pergi. Juga untuk menutupi rasa gugupnya.


Setelah itu keduanya segera turun untuk sarapan. Tidak ada obrolan di meja makan kali ini.


Setelahnya Dinda segera mengantar kepergian Rava.


"Em kau tidak memberiku bekal gitu.."tanya Rava setelah sampai di depan mobilnya.


"Memangnya sarapanmu tadi kurang..?"tanya balik Dinda


Rava menepuk jidatnya, mengapa istrinya sama sekali tidak peka. Seketika Rava mendeket dan mendaratkan kecupan singkat di bibir , pipi, juga dahi Dinda.

__ADS_1


"kau...."ucap Dinda sambil membulatkan matanya.


"ini yang ku maksud bekal untukku, ternyata istriku memang tidak peka.."ucap Rava sambil berlalu masuk ke dalam mobil.


***


***


Waktu terus berlalu hari menjelang sore, saat ini Dinda sedang dalam perjalanan menuju mall. Ia telah janjian dengan Vinda sang kakak ipar, mumpung tidak ada Rava setidaknya ia bisa pulang lebih telat sedikit.


Setelah sampai di mall, terlihat di loby Vinda juga Varen telah menunggunya.


"Maaf kak, apa sudah lama menunggu kak?"tanya Dinda setelah dirinya berada di depan Vinda.


Dengan senyum Vinda menjawab "Tidak sayang, maaf ya kau pasti kelelahan habis pulang kerja harus menemani kami ke mall, Varen merengek-rengek ingin bermain di timezone bersamamu"


"Tidak apa kok kak aku senang, ayo sayang kita bermain"sahut Dinda sambil menggandeng tangan Varen


"Ayo aunty, lest go.."ucap gadis kecil itu .


"Sejujurnya ia ingin sekali bermain di sini bersama papanya, tapi papanya selalu saja sibuk ."sungut Vinda


Lalu setelahnya ketiganya tampak asyik bermain terlihat tawa bahagia dengan lepas. Rasanya lelah yang Dinda dapat habis kerja, langsung hilang begitu saja.


Setelah puas bermain-main dan mencoba semua permainan, akhirnya mereka menyudahi permainan.


"Kau mau ke mana setelah ini langsung pulangkah"tanya Vinda sambil memangku Varen yang tampak menguap berkali-kali.


"Aku akan mampir ke supermarket dulu, ada sesuatu yang akan aku beli kak"ucap Dinda


"Baiklah kita pisah di sini saja ya, Varen tampaknya sudah ngantuk aku harus membawanya pulang."tutur Dinda sambil menggendong Varen juga melambaikan tangannya.


Setelahnya Dinda pun berlalu ke supermarket, membeli bahan-bahan untuk membuat kue, besok Rava pulang ia ingin membuatkan kue. Ya tadi siang Rava memberi kabar tidak bisa untuk langsung pulang harus menginap.


Setelah bahan-bahannya terpenuhi kemudian Dinda membawanya ke kasir untuk membayarnya.

__ADS_1


Setelah selesai dengan menenteng kedua kantong belanjaan Dinda berjalan ke luar untuk pulang dengan ceria, senyum mengembang. Rasanya ia tidak sabar membuat kue lalu menyuruh Rava untuk memakannya besok.


Karena asyik dengan lamunannya ia sampai menabrak seseorang,


Bruk... suara belanjaan Dinda terjatuh.


Lalu orang itu mencoba membantu Dinda memunguti barangnya.


"Dinda.."


"Alan.."


ucap keduanya setelahnya berdiri, Dinda melihat Alan yang saat ini sedang bersama Vriska tampak Vriska terlihat lagi bad mood. Sedang Alan sedang menahan gugupnya, mengapa rasanya masih sama pikir Alan.


"Kau dengan siapa Din..?"tanya Alan sedang Vriska tampak mencebik tak suka.


"Tadi bersama kak Vinda tapi sudah pulang, kau sendiri mau apa...?"tanya Dinda balik


Belom sempat Alan membuka suaranya Vriska terlebih dahulu menyela "Ayolah Alan sayang, kenapa harus berhenti. Kau bilang mau mengajakku nonton, nanti keburu memulai filmnya"ucap Vriska sambil bergalayut manja di lengan Alan.


"iya sabar.."jawab Alan dengan datar


"Hanya karna bertemu mantanmu saja kau jadi cuek terhadapku, tampaknya kau memang belum bisa move on darinya. Pantas saja kau tidak mau menikah denganku dalam waktu dekat, sudahlah aku mau nonton sendiri saja"ucap Vriska sambil menghentakkan kakinya dan berlalu pergi, sedang Alan tetap berdiri di depan Dinda.


"Alan, kenapa masih di sini kejarlah Vriska tampaknya ia sedang cemburu. Aku tidak mau di salahkan atas hubungan kalian"ucap Dinda setelah itu meninggalkan Alan yang mematung diri.


*Aku tau nasibku memang begini, andai kau tau tidak semudah membalikkan telapak dangan untuk melupakanmu Dinda.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung*


hai2 jangan lupa vote, dan like, komen ya guys. Terimakasih😊


__ADS_2