Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Membeli Gaun


__ADS_3

Saat ini Rava dan Dinda telah berada di ruang tamu. Dinda sedang duduk memangku Varen, bocah itu tampak senang duduk di pangkuan Dinda. Sedang Rava tampak cemberut. Tadinya ada mama Dewi juga, namun ternyata papa Dicky menelpon menyuruhnya untuk ke kantornya, hingga akhirnya ia pun tidak jadi berkumpul di rumah anaknya.


"Kau kenapa, apa kedatangan kami menganggumu"tanya Vinda sambil cengengesan. Sungguh rasanya ia ingin tertawa melihat muka adiknya yang tengah menatap tajam padanya.


"Memang kalian pengganggu"sahut Rava dengan enteng.


"Dasar anak nakal, orang tua berkunjung di bilang menggangu. Harusnya kalian yang datang ke rumah kami, apalagi ini weekend. Kalian selalu sibuk tidak pernah menyempatkan waktu buat berkunjung ke rumah kami"ucap Imel


"Maaf ma.."sahut Rava


"Aunty Varen ingin buang air kecil, bisakah aunty mengantarku"pinta Varen


"Tentu sayang, ayo... ma kak bentar ya"pamit Dinda..


15 menit berlalu setelah selesai mengantar Varen ke kamar mandi Dinda pun beranjak kembali ke ruang tamu.


"Jika kamu terus-terusan sibuk kapan mama akan mendapatkan cucu"ucap mama Imel


"Ma, aku belum ingin punya anak ma"ucap Rava


Deg... Dinda yang mendengar merasa nyeri di hatinya. Ia merasa kecewa, sebagai seorang perempuan tentu saja ia menginginkan seorang anak. Ternyata Rava tidak menginginkan anak darinya, bagaimana jika tiba-tiba ia hamil. Apakah Rava akan menyuruhnya untuk menggugurkannya, atau justru meninggalkannya.


"Aunty ayo.."ucapan Varen seketika membuyarkan lamunan Dinda.


****


Saat ini semuanya telah berkumpul di meja makan. Semua di sibukkan dengan aktivitas makannya, berbeda dari yang lain Dinda tampak tidak berselera dalam makannya, ia lebih memilih mengacak-acak makanannya.


"Nak kenapa tidak di makan? apa makanannya tidak enak, kau bisa menyuruh bibi untuk memasak yang kau sukai jika menu di sini tidak ada yang kau sukai"ucap mama Imel .


"Tidak ma, aku hanya belum lapar saja"sahut Dinda


"Apa kau sakit?"tanya Rava kali ini


Dinda hanya menjawab dengan gelengan kepala saja.


*****


Setelah pamitnya mama Imel, Vinda beserta Varen Dinda pun duduk menyendiri di kursi samping yang berada di rumahnya.


Memikirkan kata-kata Rava tadi, ah rasanya ia teramat kecewa rasanya ucapan Rava telah mematahkan segalanya.


"Kau di sini ternyata.?"ucap Rava yang baru tiba dengan nafas yang belum teratur,


"Ada apa?"tanya balik Dinda. Rava mengernyit bingung melihat muka Dinda yang tengah menahan kekesalan.


Dengan mendudukan dirinya di samping Dinda "Tidak ada, besok malam acara pernikahan Aldo dan Livia. Kita di undang, kau tidak ingin pergi ke butik untuk membeli gaun baru"ucap Rava

__ADS_1


"Bisakah aku tidak usah ikut"ucap Dinda membuat Rava bingung.


"Tidak bisa, kau harus datang bersamaku ini merupakan pesan dari Aldo dan Livia, ayo gantilah pakaianmu kita pergi ke butik"sahut Rava dengan tegas.


Merasa Rava tidak bisa di bantah Dinda pun hanya menurut saja. Setelah mengganti pakainnya keduanya berlalu pergi menyusuri jalanan menuju butik.


Setelah sampai Rava segera memarkirkan mobilnya, di parkiran yang telah tersedia.


"Pilihlah yang kau inginkan dan cocok untukmu, aku akan menunggumu di sini."ucap Rava


Dinda pun menganggukan kepalanya dan menuruti perintah Rava. Saat Dinda sedang memilih-milih pakaian, telephone Rava berbunyi ia pun segera keluar dan mengangkatnya.


Melihat Rava yang tak kunjung kembali, sedang Dinda telah selesai memilih pakainnya, Dinda pun akhirnya menyimpan bajunya di kasir lalu berpamitan pada penjaga butik itu untuk menyusul suaminya sebentar.


Dari depan pintu butik Dinda bisa melihat Rava tengah serius berbicara lewat telephone sepertinya ia tidak bisa di ganggu. Jadilah ia mengitari sebelah-sebelah butik, kebetulan ia melihat toko penjualan khusus pakaian pria. Di fikir-fikir masa hanya dia yang membeli pakaian, akhirnya ia memasuki toko itu untuk memilih salah satu baju yang cocok untuk Rava.


Sedang Rava yang telah selesai menerima telephon kembali masuk ke dalam butik lalu mengedarkan pandangannya mencari istrinya.


"Di mana istri saya?"tanya Rava pada karyawan butik yang berada di situ.


"Lho tadi, nona keluar dia bilang ingin menghampiri tuan, pakaianya yang ia pilih juga belum di bayar katanya ia ingin menunggu tuan"ucap karyawan butik itu.


Ucapan karyawan itu seketika membuat bola mata Rava membulat, lalu mengeluarkan hp nya untuk menghubungi Dinda, sambil membayar pakaiannya yang Dinda pilih tadi.


Berkali-kali namun telephonnya aktif namun tidak kunjung di angkat. Dengan buru-buru ia berjalan ke luar mengitari sekitar butik tersebut mencari Dinda, dengan nafas memburu juga pikiran berkelana mmebuat emosi Dinda memuncak. Apalagi mengingat mood Dinda tadi sedang tidak baik, entah kesalahan apa yang Rava buat.


Lalu munculah ingatan-ingatan bagaimana ketika kecelakaan beberapa tahun lalu yang menimpa Luna, ingatan saat di bali ketika ia meninggalkan Dinda sendiri. Seketika pikiran buruk mengahampirinya.


Berjalan mondar mandir tidak juga kunjung menemukan Dinda membuat ia frustasi, ia menjabak rambutnya sendiri. Ia menyesali kenapa harus meninggalkan Dinda sendiri tadi. Berkali-kali Rava menghubungi ponsel Dinda namun tidak juga kunjung di angkat. Sampai akhirnya ponselnya pun tidak aktif.


Mengusap wajahnya dengan kasar, saat pikirannya tengah buntu. Lalu ia terduduk dengan lesu di depan butik tadi.


"Kak Rava, kau sudah selesai telephonnya? ayo masuk aku belum membayar pakainnku tadi"ucap Dinda dengan santainya sambil membawa tentengan paper bag.


Rava mendongak seketika menatap tajam Dinda,


"Dari mana kau, sudah ku bilang tetaplah di sana kenapa kau tidak mendengar kata-kataku"ucap Rava dengan keras setengah emosi.


"Aku habis membelikanmu baju ini"ucap Dinda dengan polosnya sambil memperlihatkan paperbag yang ia bawa tadi.


Matanya menangkap sesuatu yang Dinda tunjuk tadi, seketika rahangnya mengeras setengah mati ia khawatir sampai ia hampir menangis seperti orang gila, nyatanya yang di khawatirin seperti orang yang merasa tak bersalah. Kedua tangannya mencegkram bahu Dinda dengan erat hingga membuat Dinda meringis.


"Dengar.. aku tidak butuh itu. Aku khawatir setengah mati nyatanya kau malah kluyuran tidak jelas, di mana hanphonemu jika memang tidak bisa di gunakan, buang saja tidak guna."bentak Rava dengan keras.


Dinda gemetar ketakutan melihat aura kemarahan Rava "aku... aku tadi..._"


"Masuklah.."ucap Rava

__ADS_1


"ta.. tapi, bagaimana..."ucap Dinda terputus kala melihat sorot tajam mata Rava.


"Baiklah.."akhirnya Dinda pasrah, masuk ke dalam mobil. Tadinya ia berniat ingin bilang jika gaun yang ia pilih belum ia bayar, nyatanya saat sudah masuk ke dalam mobil. Matanya menangkap sebuah paper bag berlogo nama butik tadi.


Sepanjang perjalanan hanya terjadi keheningan, dengan jalan pikirannya masing-masing.


******


Nyatanya kebisuan mereka tetap tercipta hingga malam hari, setelah selesai makan malam Rava memilih beranjak ke ruang kerjanya.


Dinda yang saat ini tengah berada di kamarnya merasa gelisah, pikirannya masih tertuju pada kejadian siang tadi. Untuk pertama kalinya ia pergi bersama Rava namun justru ia mengacaukan semuanya.


Memilih mengalah ia melangkahkan kakinya ke dapur untuk membuatkan teh Rava, ia bertekad akan meminta maaf pada Rava juga mengaku salah.


Sedang Rava yang tengah berada di ruang kerjanya tengah berpikir akan kejadian tadi siang, bagaimana ia bisa lepas emosi membentak Dinda bahkan mencengkramnya dengan kuat. Ia merasa salah, memilih untuk mendiamkan Dinda mengingat rasa emosinya masih ada, belum lagi pikirannya terbagi akan masalah pekerjaannya. Tadi siang ia menerima laporan dari orang suruhannya, ada yang mau mencari masalah padanya.


Saat sedang mencoba memejamkan matanya, tiba-tiba ia mendengar pintu terbuka memperlihatkan Dinda yang tengah berdiri sambil membawa secangkir minuman.


"Kak Rava.. em bolehkah aku masuk..?"tanya Dinda di ambang pintu. Setelah Rava mengaggukan kepalanya barulah Dinda berjalan menghampiri Rava lalu menaro teh nya di atas meja. Ia berdiri di depan meja kerja Rava.


"Kak Rava, aku mau minta maaf soal tadi siang. Aku tidak mendengar kau menelphonku, hp ku ke silent. Tadinya aku keluar dari butik itu untuk mencarimu lalu aku melihat kau sedang menerima telephon dengan serius aku tidak ingin menganggu, mangkanya aku pergi untuk jalan-jalan, lalu aku melihat sebuah toko yang menjual pakaian pria, aku fikir masa hanya aku yang membeli baju, jadinya aku masuk berniat membelikanmu baju juga. Aku tidak menyangka ternyata aku terlalu asyik memilih hingga memakan waktu yang cukup lama. Maaf membuatmu khawatir"jelas Dinda sambil menggigit bibirnya.


Rava dapat melihat ketakutan pada diri Dinda, ia menangkap rasa gugup pada diri Dinda. Dengan senyum ia berbicara pada Dinda "kemarilah.." Rava mengajak Dinda untuk duduk di pangkuannya.


Dengan sedikit rasa canggung Dinda memutar tubuhnya berjalan ke arah Rava, dengan rasa tak sabar Rava menarik Dinda hingga akhirnya Dinda jatuh terduduk di pangkuan Rava.


"Maafkan aku tadi sudah kasar padamu."dekap Rava sambil memberikan kecupan lembut di rambut Dinda.


"Hari sudah malam, tidurlah . Aku akan menyusulmu nanti setelah teh yang kau buatkan untukku habis. Terimakasih teh nya.."lanjut Rava


"em tapi..."sahut Dinda


"Jangan membantah, ikutilah kata-kataku. Tidurlah lebih dulu, aku akan menyusulmu nanti"ucap Rava


"Baiklah.."sahut Dinda sambil berdiri dan berlalu meninggalkan Rava.


Rava menarik sudut bibirnya untuk tersenyum saat melihat Dinda membalikkan tubuhnya saat sudah sampai di ambang pintu.


.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2