Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Tamparan pertama


__ADS_3

Hari makin terasa malam namun Rava masih belum berhenti untuk mencari Dinda. Ia sudah berkeliling kemana-mana nyatanya tidak juga menemukan Dinda.


Mobil ia berhentikan di pinggir jalan ia mendesah frustasi , tadi ia juga sempat mencatinya ke rumah Alisa. Ah nyatanya bukan hanya informasi yang ia dapat ia justru mendapat kecaman dari sahabat istrinya itu.


"Dasar laki-laki brengsek, Dinda pergi darimu itu semua pasti karena ulahmu yang sudah sangat menyakitinya. Tidak cukupkah kau membuatnya terus tersakiti. Ingat jika sampai aku tau Dinda kenapa-napa sampai mati pun aku tidak akan pernah memaafkanmu. Jika memang kau sudah tidak mengingingkannya kenapa tak kau kembalikan saja pada orang tuanya, ceraikan ia cukup bukan"ucap Alisa dengan amarah yang menggebu-gebu.


Deg..


Memikirkan hal itu membuat Rava miris, itu adalah ucapan dari sahabat bagaimana jika orang tua Dinda tau jika ia pergi karena ulahnya. Mereka pasti akan lebih marah dari Alisa. Menceraikan Dinda tentu saja itu tidak akan pernah ia lakukan.


Kembali melajukan mobilnya ke arah rumah mertua serta orang tuanya sendiri. Ketika tiba di depan rumah mertuanya ia hanya mengamati dari depan, tidak terlihat mobil Dinda. Ia ingin masuk namun hari sudah malam ia berfikir tidak ingin menganggu mertuanya. Lalu ia melajukan mobilnya ke rumah orang tuanya.


Ketika sudah masuk ke dalam rumah, terlihat semua orang masih pada berkumpul di ruang tamu. Di situ ada mama imel, papa Adi, Vinda dan suami, namun tidak terlihat Varen mungkin ia sudah tertidue mengingat hari sudah malam. Ketika melihat Rava datang malam-malam dengan keadaan kacau semua tampak kaget.


"Tumben ada apa Va.."tanya Vinda . Rava justru malah mendudukan dirinya di samping mamanya.


"Ada apa nak,? tidak biasanya kau datang malam-malam. Kau juga sepertinya baru pulang dari kantor, kenapa tidak ganti baju dulu. Kau juga sendiri, di mana Dinda?"cecar Mama Imel


"Iya Va di mana Dinda, kau meninggalkannya di rumah sendiri, ada apa ? apa kau bertengkar dengannya. Ayolah kau ini seorang pria jangan selalu lari dalam masalah"sambung papa Adi


Sedang Hendrik dan Vinda hanya melihat raut muka Rava yang sedang tampak gelisah.


"Ma, pa aku justru kesini ingin bertanya pada kalian. Apakah Dinda di sini?"tanya Rava dengan lirih. Sontak pertanyaan Rava mengundang tanya serta kebingungan pada semua orang.


"Apa maksudmu? Dinda tidak ada di sini"sahut Mama Imel

__ADS_1


"Dinda pergi ma.."ucap Rava dengan cemas


Plak... satu tamparan mendarat di pipi Rava dari Papa Adi yang tampak emosi mendengar ucapan Rava.


"Pa jangan, jangan seperti ini semua bisa di selesaikan dengan baik-baik"ucap mama Imel tampak memegang suaminya serta anaknya. Sedang Rava tampak mengelus pipi yang memar bekas tamparan papanya, ini untuk pertama kalinya Papa Adi menampar Rava.


"Dinda pergi katamu, katakan apa yang terjadi di antara kalian. Oh aku tau semua pasti karena ulahmu. Apa yang telah kau lakukan pada menantuku. Apa semua karena sampai detik ini kau juga belum bisa menerima pernikahanmu dengannya, apa kau masih mempertahankan hatimu untuk orang yang sudah mati"ucap papa Adi dengan emosi lantang dengan tangan mengepal erat. Sebagai seorang orang tua tentu saja ia kecewa dengan Rava telah membuat menantunya pergi.


Rava yang tadi tampak menunduk menjadi melihat ke arah papanya, tampak sorot mata papa nya memandang tajam dirinya.


Rava menggeleng "Tidak pa, Dinda hanya salah mendengar ucapanku dengan Sintia tadi"sahutnya.


"Sintia, untuk apa wanita itu datang padamu. Dia sahabat Luna bukan"tanya Vinda kali ini.


"Jika aku menjadi Dinda tentu saja aku akan pergi darimu dari dulu Va"ucap Vinda setelah mendengar cerita Rava "Kami seorang wanita tentu saja mempunyai batas kesabaran, aku justru salutnya dengannya, meski ia tersakiti tetap saja dia tidak pernah menunjukkan kerapuhannya, anggap saja ini karma untukmu. Bukankah dengan dia pergi kau bisa bebas, bebas mencintai orang yang sudah mati"lanjut Vinda


"Benar kata kakakmu untuk apa kau repot-repot mencarinya"sambung Papa Adi yang memang masih marah pada Rava.


"Pah.. jangan seperti ini"ucap mama Imel yang tampak tidak tega pada anaknya.


"Pa, ma, kak bukankah sudah ku katakan, aku sudah membuka hatiku untuk Dinda, untuk kejadian di kantor hanya salah paham, Dinda hanya mendengar sebagian saja. Kalian salah jika bilang aku masih mencintai Luna,. Aku sadar dia sudah tiada. Akupun sadar aku saat ini punya istri, dan aku mencintainya"bantah Rava.


"sayangnya kau sudah terlambat bukan menyadarinya"ucap Papa Adi mengundang emosi untuk Rava.


"Tenanglah Va, apa kau sudah mencari ke rumah orang tua Dinda"tanya Hendrik kali ini dengan tenang.

__ADS_1


"Belum.. aku belum siap kesana. Mungkin besok"ucap Rava


"Istirahatlah nak, kami akan membantumu mencarinya"ucap mama Imel


"Tidak akan, biar dia cari sendiri. Agar dia mengerti akan artinya tanggung jawab. Aku tidak akan memaafkannya jika Dinda belum pulang"ucap papa Adi dengan tegas.


"Pa dia anak kita kenapa kau menghakiminya dengan cara seperti itu. Kau lebih membela Dinda, bukankah kita bisa mencarinya bersama-sama"ucap Mama Imel


"Aku tau dia anakku, tapi kau harus tau ma. Saat ini ia juga seorang suami, seorang suami yang seharusnya melindungi, dan menjaga istrinya. Untuk itu aku ingin dia menemukan Dinda dengan caranya sendiri"tegas papa Adi setelahnya berlalu pergi, tanpa memperdulikan mama Imel yang memanggil-manggil.


Sedang yang lainnya tampak kaget dengan ucapan papa Adi. Karena setaunya papa Adi adalah orang yang sayang sekali dengan Rava.


"Nak tenanglah mama akan bantu bicara dengan papamu"ucap mama Imel sambil mengelus punggung Rava.


Rava berdiri "Tidak usah ma, benar kata papa. Aku akan membawa Dinda kembali dengan tanganku sendiri. Aku pulang saja ya ma"ucap Rava pamit pulang dengan lesu.


.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2