
Hari ini Dinda dan Alan pergi jalan-jalan, ya sesuai janji Alan akan menemani Dinda.
"Kau sudah siap baby.." tanya Alan yang saat ini sedang duduk di apartemen Dinda.
"Sudah..em Kak Vino Dinda pergi dulu ya.." ucap Dinda sekalian pamit pada kakaknya yang saat ini sedang duduk menikmati secangkir teh.
"Iya..kalian hati-hatilah.. dan kau Alan jaga adikku ya.."sahut Vino
"siap..."ucap Alan sambil terkekeh.
******
Setelah mengunjungi berbagai wisata di Jakarta akhirnya mereka memutuskan untuk mampir di sebuah mall, Dinda ingin membeli beberapa pakaian untuk mulai bekerja besok.
"Pilihlah apa yang mau kau beli baby.." ucap Alan yang saat ini mereka telah sampai di sebuah butik.
"baiklah.. tapi biarkan aku bayar sendiri.."sahut Dinda..
"No, kali ini aku yang mau traktir. Kau bisa traktir aku makan siang nanti jika kau sudah dapat gaji dari hasii kerjamu bagaimana.. Pokoknya aku tidak suka penolakan." tegas Alan
"tapi.. em baiklah..." sahut Dinda akhirnya
Setelah mendapatkan apa yang Dinda cari mereka memutuskan membayar lalu ingin melanjutkan makan siang.
"Kita makan di mana ni Alan.." tanya Dinda yang saat ini sedang menenteng 3 kantong paper bag.
"Di restoran sebelah sana, makanannya di sana enak.. kau bisa duluan ke sana aku ingin ke toilet sebentar oke.. ingat jangan ke mana-mana tunggu aku .."ucap Alan dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Dinda.
__ADS_1
Perlakuanmu sangat manis Alan padaku, tapi kenapa hatiku tak tergugah sekalipun. Kenapa rasanya begini. Aku hanya merasa sedikit nyaman namun hatiku tak bergetar sama sekali saat bersamanya. Kenapa kau masih mau bertahan padaku, padahal aku sudah mencoba memutuskanmu aku sudah menyuruhmu mencari wanita lain aku merasa menjadi wanita paling egois..lirih Dinda dalam hati
Sesuai dengan perintah Alan Dinda berjalan menuju restoran yang di tunjuk Alan. Namun karena Dinda berjalan sambil melamun tiba-tiba ia menabrak seseorang pria yang menelpon.
Bruk.. yah jatuh semua belanjaan Dinda..ππ
"Aduh... "ucap Dinda mengaduh merasa kaget
"Sorry.. sorry aku tidak sengaja.."sahut sang pria memasukan hp nya ke dalam saku jas nya, dan membantu memunguti belanjaan Dinda.
Sementara Dinda masih diam dan bengong, sampai sang pria kembali berdiri hendak memberikan belanjaan Dinda. Namun ketika sudah berhadapan betapa kaget mereka.
"kau...Dinda.."
deg... seketika jantung Dinda rasanya mau berhenti, suara itu, mata itu.. setelah sekian tahun ia menghindari namun ternyata takdir kembali mempertemukan mereka..
ya pria tersebut Rava...
"Ini punyamu.. sekali lagi maaf aku pergi dulu.." ucap Rava dan berlalu pergi.
Dinda masih memperhatikan Rava yang berlalu pergi , sampai tepukan bahu dari Alan menganggetkan nya..
"Kenapa masih di sini. Memangnya kau belom lapar.." tanya Alan
"Ah iya ayo.." sahut Dinda kemudia berjalan ke arah restoran.
*******
__ADS_1
Sementara Alan dan Dinda makan siang, berbeda dengan Rava yang saat ini sedang duduk di dalam mobilnya. Ia mengambil ponselnya mengubungi seseorang.
"Mah ada di mana. Rava tunggu di parkiran ya.." ucap Rava setelah itu memutuskan panggilannya. Iya tadi setelah pertemuan dengan rekan bisnisnya mama Rava tiba-tiba minta di jemput. Kebetulan Rava meeting di cafe sebelah mall tersebut.
Ia menyuruh Asistennya Aldo untuk kembali ke kantor terlebih dahulu, ya baru beberapa bulan ini Rava sudah mulai berani menyetir mobil sendiri.
Dan tadi ia bermaksud menghampiri mamanya, namun karena tak kunjung di angkat telponnya, ia mengurungkan niatnya untuk menunggu di parkiran saja.
Namun siapa sangka, justru ia mendapat kejuta yang tak terduga, bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya. Berbeda dari dulu ketika bertemu tentu ia akan berbicara hangat padanya, namun saat ini tidak.
*Kau sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat dewasa, aku tak menyangka kita kan bertemu lagi. Ku fikir kau memutuskan persahabatan kita, kau sudah tak butuh sahabat sepertiku. Aku terlalu kecewa kau pergi jauh tanpa bicara padaku. Lebih baik memang kita tak usah saling mengenal. Lirih Rava..
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
nb: aku masih dalam tahap belajar menulis maaf kalau banyak typo, aku pengen bkin novel yang tanpa adanya pelakor gitu, tapi kayaknya koq lempeng2 aj jadinya ya..