
Hari ini Dinda memutuskan untuk pulang, ah rasanya tidak adil pergi tanpa mendengarkan penjelasan dari Rava pikirnya.
Ketika sampai rumah ia mendapati mobil Rava masih terparkir di garasi, itu berarti Rava belum berangkat ke kantor.
Ketika ia berjalan hendak ke kamarnya, ia mendapati Rava tertidur di sofa. Awalnya ia berniat untuk membangunkannya, tapi mengingat ia masih marah padanya, ia mengurungkan niatnya.
Memasuki kamarnya lalu membersihkan diri, setelahnya ia pergi ke dapur untuk membuat sarapan, ia memang tadi melewatkan sarapan di rumah Alisa. Kembali melewati sofa di mana Rava tertidur dan berlalu ke dapur untuk memasak.
Tiga puluh menit kemudian, Rava menggeliat meregangkan ototnya rasanya badannya pad sakit ia bisa tertidur di sofa semaleman menunggu Dinda pulang hingga dini hari sampai ia ketiduran.
Indra penciumannya mencium aroma masakan yang menggugah selera dari dapur, itu berarti Dinda sudah pulang. Lalu ia berjalan ke arah dapur, melihat sosok wanita cantik yang semalaman menghilang karena ulah dirinya. Tampak ia sedang mengaduk-aduk masakannya tanpa menyadari kehadiran Rava.
Berjalan mendekat lalu memeluk dan melingakarkan kedua tangannya di perut Dinda.
"Maafkan aku..."ucapnya sambil membenamkan kepalanya di pundak istrinya.
Dinda merasa terkejut lalu berusaha melepaskan tangan Rava "Lepaskanlah aku sedang memasak, tunggulah di meja makan"
"Aku tidak mau, jika aku melepasmu kau akan pergi lagi.."sahut Rava
Dengan segera Dinda mematikan kompornya lalu berbalik sambil melepas pelukan Rava "Memangnya kenapa jika aku pergi bukankah kau senang, kau bisa bermain dengan wanita lain sepuasmu"sungut Dinda sambil emosi
"Kau cemburu..."tanya Rava
__ADS_1
"Aku hanya marah pada seseorang yang tidak bisa menepati janji."ucap Dinda sambil berlalu ke meja makan sambil membawa sarapannya.
"Aku tau aku salah, aku minta maaf. Kemarin aku harus bertemu klien dadakan. Yang kau lihat kemarin itu klienku. Oh ya ampun kau harus percaya padaku"jelas Rava namun Dinda tetap tak bergeming justru melanjutkan makannya tanpa memperdulikan Rava.
"Aku tau aku salah telah ingkar janji aku tidak jadi menjemputmu juga ke tempat mama Dewi. Ayolah Dinda bicara, jangan diam saja begini"ucap Rava lagi sambil mendudukan dirinya di sebelah Dinda .
"Bagaimana kalau ke tempat mamanya di ganti hari ini saja"ucapnya lagi
Dinda menaro sendok juga garpunya "Aku sudah tidak minat,"sahut Dinda sambil berlalu pergi.
Seharian ini Dinda tetap mendiamkan Rava. Tadinya Rava berniat untuk bekerja di rumah saja, namun saat siang hari tiba-tiba Livia menelpon ada klien yang mau bertemu dengannya. Akhirnya Rava pun memaksakan ke kantor.
Dinda hari ini pun memilih untuk mengistirahatkan dirinya tidak berangkat ke kantor.
******____******
Rava segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah Rava masuk ke kamar mandi Dinda yang tadi berpura-pura tertidur pun membuka matanya. Namun tidak berseleng lama pintu kamar mandi di buka Dinda kembali memejamkan matanya.
Rava yang tengah mengigil tidak henti-hentinya bersin. Setelah berganti pakaian ia segera masuk ke dalam selimut untuk beristirahat.
Satu jam berlalu tidak menyangka ternyata keduanya tengah tertidur lelap, Dinda yang merasa ada yang memeluknya pun membuka matanya. Matanya menangkap suaminya yang saat ini tengah tertidur, namun ia mengernyit melihat muka Rava yang terlihat pucat serta badannya panas. Segera ia menempelkan tangannya di kening Rava, ternyata Rava demam.
Segera ia mengambil peralatan medisnya, untuk memeriksa Rava. Setelah memeriksa Rava ia berniat untuk memberi obat namun ia harus memastikan dulu Rava sudah makan apa belom. Akhirnya ia turun ke bawah ia, saat di meja makan ia mendapati makanan yang tadi pagi ia buat masih utuh itu berarti Rava memang tidak makan dari pagi seperti dugaannya.
__ADS_1
Entahlah tiba-tiba terbesit rasa bersalah karena dirinya mendiamkan Rava akhirnya Raba pun melupakan makannya padahal Rava sudah menjelaskan perihal kesalahpahaman kemarin. Tidak mau membuang waktu lama Dinda memasakkan bubur untuk Rava. Akhrinya tidak berselang lama buburnya pun jadi.
Dinda membawanya ke kamar masih mendapati keadaan yang sama Rava masih tertidur.
"Kak bangunlah kau harus makan setelah itu minum obatnya.."ucap Dinda sambil mengguncang tubuh Rava. Rava yang merasa terusik pun membuka matanya, ia mendapati Dinda tengah berdiri di sampingnya sambil membawa semangkuk bubur. Rava pun segera menyandarkan tubuhnya di ranjang.
"Buka mulutmu aku akan menyuapimu,?"ucap Dinda sambil terus menyuapi Rava.
"Kenapa tidak makan juga kenapa harus pulang hujan-hujanan, kau sengaja ya biar sakit"sungut Dinda.
"Aku lupa makan dari pagi. Makasih"sahut Rava setelah Dinda menyelesaikan suapan terkahirnya.
"Memangnya kau tidak bisa menyempatkan makan siang, minumlah lalu tidurlah lagi"ucap Dinda sambil memberi obat ke Rava..
"Aku tidak kepikiran,.."sahut Rava sambil kembali merebahkan dirinya.
Ah meski harus sakit ia merasa senang Dinda mulai mau berbicara dengannya.
.
.
.
__ADS_1
bersambung..
mampir di ceritaku yang berjudul "Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran" ikuti kisah perjalanan cinta aira.