Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Love Story Alan_Kau bunuh saja aku


__ADS_3

Vriska berhenti sejenak di danau kecil yang berada di taman tidak jauh dari rumahnya, ia duduk termenung sendiri memikirkan takdir yang harus jalani dan ia terima.


Vriska mengedarkan pandangannya, melihat banyaknya anak-anak kecil berlarian, tertawa bahagia bersama kedua orang tuanya.


Hatinya terasa perih tercubit, kata-kata dokter terngiang-ngiang di telinganya.


"Nona Vriska, dari hasil pemeriksaan saya. Jika kemungkinan anda untuk hamil itu susah, hanya memiliki beberapa persen saja, di karenakan sebelumnya anda pernah mengidap penyakit berbahaya"jelas Dokter tadi.


Vriska menghela nafasnya, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga membasahi pipinya.


"Apalagi yang bisa wanita seperti diriku ini banggakan, aku tidak mampu memberikan keturunan untuk suamiku. Sungguh hatiku sangat terluka di bandingkan saat dokter memvonis diriku memiliki penyakit mematikan saat itu. Tuhan masih adakah harapan untukku"ucap Vriska.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Alan memarkirkan mobilnya ke dalam garasi, kemudian ia turun dan masuk dalam rumahnya.


"Sayang, aku pulang..."teriak Alan, namun keadaan rumah sunyi ia tidak mendapati istrinya di sana, mungkinkah Vriska masih tertidur, Alan melihat arloji miliknya waktu sudah menunjukan pukul 09.30.


Saat Alan akan kembali melangkah kakinya menuju kamarnya terlihat Bi Ningsih menghampirinya dari arah dapur "Tuan sudah pulang.."tanyanya.


"Oh iya Bi. Istri saya kemana ya.?"tanya Alan pada asisten rumah tangganya.


"Saya tidak tau Nona pergi ke mana Tuan, pagi-pagi sekali Nona sudah pamit keluar, ia bilang ada urusan penting"jelas Bi Ningsih.


"oh baiklah, saya ke atas dulu.."pamitnya.


Setelah sampai di atas, Alan meletakkan tasnya di sofa, kemudian ia merogoh ponselnya mulai mencari kontak istrinya lalu menghubunginya.


"Tersambung, tapi kenapa di angkat..?"ucap Alan dengan kecewa saat Vriska tidak menangkat ponselnya.


Alan kembali melakukan panggilan lagi, lagi dan lagi hingga berkali-kali namun hasilnya tetap sama tidak Vriska tidak mengangkatnya, ataupun membalas pesan Alan.


"Dia kemana sebenarnya, tidak biasa seperti ini, aku merasa khawatir"desah Alan dengan rasa cemas,.


Alan memutuskan untuk membersihkan lebih dulu, setelah itu ia akan mencari Vriska.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Sementara itu Vriska yang masih menikmati pemandangan yang berada di taman itu, enggan untuk pulang. Vriska melihat ponselnya, terlihat di sana begitu banyaknya panggilan tak terjawab dari suaminya.


Vriska memang sengaja tidak menjawab panggilan suaminya itu, ia tidak ingin suaminya akan merasa khawatir saat mendengar suaranya nanti, Alan pasti akan mengetahui jika ia habis menangis.


Vriska mengetik sebuah pesan untuk ia kirim ke suaminya *Aku sedang dalam perjalanan pulang.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹*


Alan sedang mengganti pakainnya sehabis ia membersihkan diri, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya membuat ia terlonjak kaget.


"Sayang, kau sudah pulang..."tanya Alan.


Vriska melepas kedua tangannya membiarkan suaminya itu memakai kaosnya, "Heem..."sahut Vriska.


Setelah Alan selesai mamaki pakainnya, Vriska kembali memeluknya dari belakang, membuat Alan mengernyit bingung, "Ada apa? kau merindukanku ya..?"tanya Alan

__ADS_1


Vriska menganggukan kepalanya, "iya, sangat.."Vriska menahan air matanya agar tidak tumpah saat itu juga.


Alan mengerti jika istrinya tengah menahan sesuatu, Alan kemudian melepaskan kedua tangan Vriska lalu ia berbalik menatap wajah sang istri dan memberi kecupan lembut dia bibri manisnya,


chupp..


"Kau dari mana?"tanya Alan


"Aku habis jalan-jalan di taman situ"Vriska menunjuk taman yang tadi ia datangi.


Alan mengangguk dan tersenyum "kau merasa jenuh ya, apa perlu kita pergi berlibur"Alan mencoba menawari Vriska.


Vriska menggeleng, " tidak perlu, pekerjaanmu sedang begitu banyak bukan, apalagi sedikit-sedikit kau harus membantu Papaku"ucap Vriska.


"Tapi aku bisa mengaturnya jika kau menginginkannya"


"Tidak perlu, ayo kita turun. Aku merasa lapar"ajak Vriska


"Baiklah ayo istriku"seru Alan.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Setelah sarapan Alan dan Vriska kembali masuk ke kamar.


"Sayang ayo sini, aku sangat ngantuk dan lelah"ajak Alan menepuk sisi tempat tidurnya.


Vriska menggeleng, "Kalau begitu istirahatlah, aku harus melihat taman belakang, tadi pagi aku lupa belum menyiram bunga-bunganya"ucap Vriska.


"Tapi Hubby..."


"Ayo cepat kamari, aku sangat merindukanmu, memangnya kau tidak merindukanku?. Hanya tidur aku janji tidak akan berbuat apa-apa oke"ucap Alan.


Vriska menurut, "memangnya kau bisa berbuat apa, aku juga sedang datang bulan"serunya sambil membaringkan dirinya di sebelah suaminya itu.


"Shit kenapa menjadi kenyataan, padahal niatnya tadi untuk menipu dirimu"seru Alan, sambil melingkarkan tangannya memeluk Vriska.


"jangan terlalu erat aku sesak nafas"ucap Vriska.


Alan terkekeh dan melonggarkan pelukannya itu, "Maaf sayang, habisnya kau begitu menggemaskan. Dan aku sangat merindukanmu."ucap Alan sambil mendaratkan kecupan di bibir dan pipi Vriska.


"Hubby sudah ku katakan jika aku sedang datang bulan, aku tidak mau kau keterusan"seru Vriska.


"Tapi melakukan hal lain boleh bukan"tanya Alan.


"Alan..."Ucap Vriska dengan kesal.


"oke.. oke.. aku akan tidur"seru Alan berusaha memejamkan matanya, sementara Vriska tetap terjaga.


Vriska memandangi wajah sang suami yang sedang tertidur lelap, tanpa di sangka air matanya jatuh saat kembali mengingat penjelasan Dokter. Vriska mengulurkan tangannya untuk membelai wajah sang suami.


Alan membuka matanya , "Kau menganggumi ketampananku ya, tapi sebentar ya aku sangat ngantuk dan lelah."seru Alan sambil kembali memejamkan matanya.


Vriska mengecup mesra pipi suaminya itu, "Istirahatlah"

__ADS_1


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Vriska tengah memandangi senja dari atas balkon kamarnya, lalu ia tersentak kaget saat ada kedua tangan yang melingkar di pinganggnya.


"Sedang apa?"tanya Alan


"lihatlah itu, bukankah terlihat indah.."tunjuk Vriska.


"Iya, sama seperti dirimu tetap indah di mataku"seru Alan.


Vriska melepaskan kedua tangan Alan yang melingkar di pinganggnya, "Hubby, apa kau menginginkan seorang anak..?"tanya Vriska sambil menatap mata Alan.


Alan tersentak kaget saat Vriska menanyakan hal itu, selama pernikahannya baru kali ini Vriska menanyakan hal itu, entah mengapa ia mempunyai firasat yang buruk. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Jawablah pertanyaanku itu Hubby.."ucap Vriska dengan sendu.


"Tentu saja sayang, setiap orang yang menikah pasti menginginkan kehadiran seorang anak bukan, termasuk diriku"serunya, Alan menjawab benar apa isi hatinya.


Hati Vriska mencelos merasa sakit, ia melihat mata Alan lalu ia memejamkan matanya, "Sudah dua tahun lebih kita menikah dan aku sama sekali belum ada tanda-tanda hamil. Hubby aku akan berusaha ikhlas jika kau ingin menikah lagi, dengan wanita yang mampu memberimu anak"ucap Vriska, entah bagaimana kata-kata itu bisa keluar.


Alan langsung menatap tajam Vriska rahangnya mengeras "omong kosong apa yang kau katakan, hanya karena seorang anak kau menginginkanku menikah lagi"teriak Alan dengan lantang, ia menggelengkan kepalanya "Lebih baik kau bunuh saja aku Vriska, dari pada kau menyuruhku untuk menikahi perempuan lain"sambungnya dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Tapi ini untuk kebaikanmu Alan, dan juga untuk kebahagiaanmu, keluargamu juga pasti sangat menginginkan hadirnya cucu darimu Alan, dan aku tidak bisa memberikannya"ucap Vriska dengan air mata yang menetes.


"Kebaikanku, kebahagiaanku itu ada pada dirimu Vriska. Kenapa kau tidak mengerti juga" seru Alan matanya sudah tampak memerah menahan segala amarah, "Aku memang berkata ingin anak, tapi itu dari dirimu. Jika memang harus dari wanita lain, lebih aku tidak mempunyai anak"


"Alan.. aku..."


"Diam...."bentak Alan pada Vriska, membuat Vriska terlonjak kaget, selama bertahun-tahun baru kali Alan membentaknya.


"Kau pernah berjanji sebelumnya Vriska tidak akan pernah menyuruhku untuk menikah lagi apapun yang terjadi, dan kali ini aku menagih janjimu untuk menepatinya.. ingat itu.."ucap Alan setelah itu ia pergi begitu saja meninggalkan Vriska yang masih berdiri dengan air mata yang menetes..


Vriska melihat ke bawah, ia melihat mobil Alan tampak keluar dari rumahnya.


"Pergi ke mana dia?"ucap Vriska.


Vriska mendudukan dirinya di kursi ia menangis tersedu-sedu, hatinya juga sakit saat ia harus mengatakan hal itu pada Alan, apalagi saat untuk pertama kalinya Alan membentaknya begitu lantang. Tapi ia menyadari semua berasal dari dirinya.


Vriska kembali mengingat ucapan terakhir Alan kala sebelum ia meninggalkan dirinya, kemudia ia mengingat saat di mana hari pernikahan itu Ia memang berjanji tidak akan pernah menyuruh Alan menikah lagi.


Vriska mengusap wajahnya dengan kasar, nafasnya tampak tersengal-sengal , "Jangan-jangan.. Alan menyuruhku berjanji seperti itu. Karena ia sudah mengetahui semuanya. Kenapa dia melakukan ini, dia mengorbankan semuanya bersama diriku."ucap Vriska


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Banyak bukan pasangan yang menikah bertahun-tahun masih belum di karuniai seorang anak, aku sedikit memgambil cerita ini dari kisah kehidupan nyata yang terjadi di sekitarku, tapi percayalah ada hikmah dari setiap hal yang terjadi, Tuhan mempunyai rencana yang tidak bisa dugaπŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹Jangan lupa like, komen, voteπŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Selamat membaca, terimakasihπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Adakah yang tengah malam bangun membaca ceritaku iniπŸŽ‹πŸŽ‹


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2