
Pukul tujuh pagi Rava sudah terbangun, ia melihat ke arah putranya, ternyata Davis juga sudah bangun, ia melihat ke arah istrinya yang masih tengah tertidur dengan lelap, semalam putranya itu sempat beberapa kali bangun membuat keduanya harus bergadang. Ia pun dengan sigap menggendong putranya itu membawanya ke kamar mandi lalu memandikannya. Setelahnya ia kembali ke dalam kamar dan memakaikan baju putranya itu. Ia terlihat lebih handal dan biasa.
"Begini anak Daddy kan sudah tampan ya.."serunya, Bayi itu tampak membalas ucapan Daddynya dengan senyum gemas.
"Jangan brisik okey, kasihan Mommy masih ngantuk. Ayo kita keluar Daddy akan membawamu ke taman..."Kata Rava sambil menggendong putranya itu membawa keluar dengan hati-hati.
"Kau begitu mirip denganku sayang,"ucapnya gemas dengan putranya, bayi itu tengah anteng dengan Asi yang berada dalam tangannya.
Rava mengedarkan pandangannya, rumah ini terlalu sepi untuk di huni bertiga, ia belum membicarakan dengan Dinda, perihal masalah asisten rumah tangga.
πππ
Dinda menggeliat dalam tidurnya ia membuka matanya lalu melihat jam yang di atas nakas ternyata sudah jam delapan pagi. Ia pun mengedarkan pandangannya, ia tidak melihat adanya Rava dan Davis.
Dinda berdiri lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian ia kembali untuk mengganti bajunya, ia membuka lemarinya dan terkejut ternyata Rava sudah mempersiapkan baju-baju untuknya, tadinya ia fikir akan menggunakan baju Rava saja berhubung ia belum membawa baju apapun kesini. Dinda mengambil dress selutut berwarna biru dan memakainya.
Dinda kemudian turun ke bawah menuju dapur berniat untuk memasak, namun saat melihat isi kulkasnya ternyata masih kosong. Jadi ia mengurungkan niatnya kemudian ia menyusul Rava dan Davis.
"Kenapa tidak membangunkanku..?"tanya Dinda setelah berada di dekat Rava.
Rava menengok dan tersenyum "kau sudah bangun, kemarilah.."
Dinda berjalan mendekat dan duduk di samping Rava, Rava pun merangkulnya pandangan mereka tak lepas dari Davis yang tengah berceloteh tidak jelas. "Maaf aku telat bangun.."serunya
"Tidak masalah aku tau kau lelah.."sahut Rava sambil mencium pipi Dinda, "Harum sekali, kau sudah mandi aku bahkan belom, tapi aku tetap tampan"sambungnya sambil terkekeh melihat Dinda mengerucutkan bibirnya.
"Kau tidak pernah berubah ternyata tingkah ke PD anmu masih melekat saja tidak juga hilang, oh ya aku tadi mengambil baju yang di lemari, aku tidak membawa baju kan kesini.."ucap Dinda
Rava tersenyum "kenapa harus bilang, semua itu memang untukmu jadi pakailah. Aldo dan Livia yang mempersiapkannya.."
"terimakasih. Bukankah Kak Livia sedang hamil kenapa tetap menyuruhnya bekerja kenapa tidak di suruh cuti saja"seru Dinda
"Dia sendiri yang mau. Toh juga ia sudah tidak mengalami mual-mual kata Aldo sih begitu. Aku besok akan mulai kembali ke kantor.."tutur Rava
"Aku dulu juga tidak mual dan muntah aku biasa saja, hanya selalu merasa emosi."Dinda menghela nafasnya,"memangnya kau sudah benar-benar sehat.."sambungnya.
"Kau tidak mengalami mual dan muntah saat mengandung Davis, tapi aku yang mengalaminya. "ucap Rava "Aku sudah sehat Mommy.."sambungnya sambil terkekeh pelan.
"Benarkah..? kau muntah-muntah dan mual. Davis pintar sekali.."seru Dinda
"Tanyakanlah pada Aldo, aku bahkan mengerjainya habis-habisan."serunya.
"Aku tadi ingin masak tapi tidak ada bahan masakan apapun di kulkas.."kata Dinda
Rava mengambil handphonenya "Nanti kita pergi ke supermarket untuk belanja, aku lupa kemarin tidak menyuruh Aldo sekalian, sekarang kita delivery saja, kau mau makan apa.."
"Apa saja aku kan bukan orang yang pemilih soal makanan.."sahutnya.
Rava pun langsung memesankan makanan.
πππ
Sore harinya Dinda dan Rava tengah bersiap untuk ke supermarket, namun saat sampai di depan pintu ia di kejutkan oleh kedatangan Mama Imel dan Vinda serta Varen.
"Kalian mau kemana.."tanya Mama Imel
"Kami ingin pergi ke supermarket ma, untuk belanja bahan makanan.."sahut Dinda
"Oh gitu, kalau gitu kalian saja yang berangkat biar Davis sama Mama di sini.."seru Mama Imel
"Tapi ma nanti akan merepotkan.."sahut Dinda.
"Tidak sama sekali ia cucu mama mana mungkin merepotkan, di sini juga ada Varen kan ia pasti akan senang bermain dengan adiknya.."ucap Mama Imel
__ADS_1
"Iya Aunty, aku kesini karena memang ingun bermain dengan adek Davis.."ucap Varen
"Benar kata Mama sayang, biarkan Davis sama Mama, ayo kita berangkat.."ucap Rava
"Baiklah, titip sebentar ya ma.."ucap Dinda sambil memberikan Davis pada Mama Imel.
"Lama juga tidak apa-apa, kalian sudah lama bukan tidak menghabiskan waktu berdua, tenang saja Davis pasti akan anteng bersama Mama.."seru Mama Imel
Dinda hanya menanggapinya dengan senyum,
"Kok mama tau saja, ayo sayang.."ucap Rava menggandeng tangan Dinda.
ππππ
Setelah memilih beberapa bahan makanan Rava mendorong troly belanjaannya menuju kasir untuk membayarnya.
"Habis ini kita sekalian makan ya, sudah lama kan aku tidak mengajakmu makan di luar.."ucap Rava sembari memberi kartu atm nya pada kasir.
"Aku khawatir Davis rewel kita pulang saja ya"seru Dinda
"Hanya sebentar"Jawab Rava sambil menerima kartunya kembali, setelahnya mereka pun keluar dari supermarket dengan membawa beberapa kantong belanjaan.
"Kau habis sakit biar aku saja yang bawa"seru Dinda sambil mencoba mengambil belanjaanya di tangan Rava.
"Jangan khawatir, sudah ku katakan jika aku sudah sehat.."
Dinda pun terpaksa mengiyakan saja apa yang Rava bilang, setelahnye mereka menaro belanjaannya ke dalam mobil.
Lalu mereka melajukan mobilnya, sepanjang jalan mereka terdiam. Rava membelokkan mobilnya ke sebuah restoran.
"Yakin mau makan di sini.."tanya Dinda
"iya, kenapa ? kau tidak suka jika kau tidak suka ayo kita cari tempat lain."jawab Rava yang hendak turun tapi mengurungkam niatnya.
Setelahnya mereka masuk lalu dan duduk di kursi lalu seorang pramusaju menghampiri mereka untuk memesan makanan.
"Kapan pernikahan Kak Vano dan Alisa.."tanya Rava
"Minggu depan.."sahut Dinda "Wah makanannya sudah datang aku mau makan.."sambungnya dengan berbinar.
"Makanlah semua memang untukmu.."tutur Rava dengan lembut..
"Untukku..? Kau.."
"untukku juga lah.."seru Rava
Dinda pun langsung melahap makanan di depannya,.
"Kau ini alergi udang kenapa kau memesan makanan ini.."ucap Dinda di sela-sela makannya.
Rava menghentikann kunyahannya "Aku bisa makan yang lain, itu untukmu karena aku tau kau sangat menyukainya.." sahut Rava sambil melihat cara Dinda makan yang lahap.
Dia masih sama seperti dulu ternyata tidak pernah berubah jika sudah menyangkut makanan yang ia sukai, sudah lama sekali aku tidak melihatnya makan dengan sebahagia ini, lirih Rava dalam hati sambil tersenyum.
Rava terus memerhatikan Dinda hingga tanpa sadar ia mengulurkan tangannya ke bibir Dinda "Makannya pelan-pelan saja, sampai belepotan begini."tutur Rava sambil terkekeh.
Wajah Dinda bersemu malu, "kenapa wajahmu merona, tidak usah malu aku ini suamimu bukan orang lain. Aku justru senang kau masih seperti dulu yang apa adanya kalau makan"kata Rava.
"Aku tidak malu, biasa saja.."bantah Dinda.
ππππ
Pukul delapan malam Rava dan Dinda sudah sampai di depan rumah,.
__ADS_1
"Kalian sudah pulang, mama pulang dulu ya.. Oh ya Davis sudah tidur, kalian langsung menyusul istirahat saja.."ucap Mama Imel
"Terimakasih ma.."ucap Dinda, yang di balas anggukan kepala serta senyum oleh Mama Imel.
Setelah selesai membereskan belanjaannya Dinda pun kembali ke kamarnya untuk istirahat, Ia melihat Rava tengah memangku laptopnya di kasur, laki-laki itu sudah berganti pakaian dengan piyama tidur. Dinda pun mengambil bajunya lalu ke kamar mandi, untuk mencuci wajahnya serta berganti pakaian. Ia pun tidak lupa melihat Davis yang ternyata memang tengah tertidur lelap.
"Istirahatlah, kau bisa mulai bekerja besok.."ucap Dinda setelah berada di sampingnya.
"Sebentar saja."sahut Rava datar.
"Ya sudah terserah kau saja.."Dinda langsung membalikkan badannya memunggungi Rava.
Rava yang menyadari jika istrinya tengah merajuk pun menutup laptopnya lalu menyimpannya.
"Kenapa harus merajuk.."ucap Rava sambil melingkarkan tangannya di perut istrinya.
"Aku tidak merajuk hanya kesal.."cetus Dinda
"Memang apa bedanya.."tanya Rava
"Mana ku tahu,. sudahlah aku mau tidur.."seru Dinda
"Enak saja tidur, aku dari tadi sudah menunggumu.."ucap Rava sambil membalikan tubuh Dinda, dan kini keduanya saling bertatapan. Degup jantung keduanya terdengar jelas, wajah Dinda bersemu merah saat melihat tatapan Rava padanya.
"Kau...."
Ucapan Dinda terhenti saat bibir Rava telah membungkamnya dengan ciuman lembut di bibirnya.
"Aku menginginkanya? bolehkah.."tanya Rava, meski saat ini kondisi rumah tangganya sudah baik-baik saja ia tetap tidak mau memaksa Dinda begitu saja.
"Em aku.. aku.."ucap Dinda dengan gugup.
"Aku mengerti, ya sudah tidurlah kau pasti lelah.. Aku juga akan tidur, jangan di fikirkan.."ucap Rava setelahnya ia membalikan dirinya membelakangi Dinda, ia menahan hasratnya mati-matian untuk tidak memaksa Dinda melayaninya. Bagaimana pun ia sudah berjanji tidak akan membuat istrinya itu kembali menangis atau terluka.
Selama lima belas menit Rava berusaha untuk memejamkan matanya, namun tidak juga bisa ia merasa frustasi. Dinda pun tahu, karena ia belum tidur. Dinda langsung mendekatkan dirinya dan memeluk Rava dari belakang.
"Kau tidak bisa tidur.."tanya Dinda
Rava kaget ia fikir Dinda sudah tertidur, "aku hanya terbangun saja.."elaknya
Rava membalikkan badannya "kenapa kau tidak tidur juga.."
Dinda menghela nafasnya "Aku tidak bisa tidur, aku fikir kau marah padaku.."ucap Dinda
"tidak, aku tidak mungkin marah padamu, tidurlah.."kata Rava
Entah bagaimana awalnya Dinda langsung mencium bibir Rava, Rava melotot kaget.
"em .Kau.."ucap Rava
"Ayo aku sudah siap,.."ucap Dinda setelah melepas pangutan bibirnya lalu menatap Rava malu-malu.
"Benarkah.."sahut Rava dengan berbinar lalu mulai menjalankan aksinya. Mereka saling memadu kasih melepas rindu, yang sudah beberapa bulan terpendam.
ππππ
ππAku gak jago sih bikin adegan yang hotππ takut di bullyπ apalagi jika sampai ada pembaca yang di bawah umurππ
ππ1500 kata panjang kan readers..πππ
ππ Selamat membaca readers, jangan lupa komen, like, dan votenya ya..ππ
bersambung..
__ADS_1