
Ini sudah hari ke tujuh Rava pergi ke luar kota, meski sibuk Rava selalu menyempatkan untuk memberi kabar Dinda. Tidak peduli betapa cuek dan judesnya kini tanggapan istrinya itu. Terkadang pula Dinda malas mengangkat telponnya, tapi yang namanya Rava tidak mau menyerah ia akan menelpon pada mamanya atau papanya, jelas saja Dinda terpaksa menerimanya. Kali ini Rava tau rasanya di cuekin, sakit memang sakit. Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja, baginya kali ini Dinda lebih berharga dari apapun.
Beberapa kali terkadang Dinda merasa kosong akan tidak kehadiran Rava, namun ia terus menyangkal perasaanya, entah mengapa semenjak hamil Dinda menjadi egois serta keras kepala, tapi bagi Dinda bukan karena hamil melainkan semua terjadi akibat perbuatan Rava. Terkadang Dinda menyadari sifat kurang ajarnya itu pada suaminya, namun entah mengapa saat ada Rava sifat kesadarannya itu hilang begitu saja.
Seperti kali ini Dinda sedang berada dalam cafe, tadi ia ijin keluar dengan mamanya untuk mengecek kandungannya. Nada dering di handphone nya terus berbunyi namun ia mendiamkannya. Lamunan Dinda buyar ketika melihat salah satu pengunjung cafe, ia mengernyit bingung melihatnya.
"Alan.."sapanya sambil mengangkat tangannya, Alan yang hendak duduk di depannya merasa kaget akan keberadaan Dinda
Ia tidak menyangka jika akan bertemu dengan mantan kekasihnya itu, terlebih lagi saat ini dia sedang tidak bersama Vriska melainkan bersama wanita lain, ia tau pasti akan menimbulkan tanda tanya besar bagi Dinda. Alan pun mengurungkan niatnya duduk, jutru ia menghampiri Dinda lalu si wanita itu mengikuti Alan.
"Dinda, sedang apa di sini..?"tanya Alan basa basi sambil mendudukan dirinya di depan Dinda.
"memangnya kau tidak bisa melihat aku sedang apa, jelas saja aku sedang makan, masa sedang mencuci" ucap Dinda sambil mencebik kesal.
Alan menghela nafasnya "Wanita hamil sensitif, jangan terlalu galak aku tidak mau nanti ponakanku menuruni sifatmu, "sahut Alan sambil terkekeh "duduklah"sambung Alan kali ini ia tujukan pada teman wanitanya.
"Dia siapa Al..."tanya Dinda kali ini, membuat Alan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Teman, ah iya teman kok. Oh ya Disty kenalkan ini Dinda."sahut Alan
Mereka pun saling berjabat tangan berkenalan.
"Di mana Vriska kenapa kau tidak bersama Vriska"tanya Dinda sambil mengernyit heran.
Merasa jika hanya akan menjadi pengganggu akan obrolan Dinda dan Alan, Disty pun lantas berdiri.
"Alan aku ke toilet dulu ya."pamit Disty yang di angguki oleh Alan. Setelah memastikan Disty pergi Dinda lantas menyercoki berbagai pertanyaan pada Alan.
"Alan ada apa dengan hubunganmu dengan Vriska, kalian baik-baik saja bukan.."tanya Dinda mengernyit bingung.
"Well, semua baik-baik saja Dinda. Sudahlah jangan bahas masalah aku, bagaimana dengan hubunganmu dan Rava, kalian sudah baikan bukan" ucap Alan berharap dapat mengalihkan perhatiannya Dinda.
"Kenapa jadi bahas aku, menyebalkan"sahut Dinda sambil mengerucutkan bibirnya. Alan hanya terkekeh melihat reaksi Dinda, dia tetap tidak berubah dari dulu.
"Memangnya kau berharap aku baikan padanya, aku masih marah padanya , biarkan saja dia merasakan apa yang aku rasakan dulu" sahut Dinda kesal.
__ADS_1
"Memangnya aku harus berharap apa, tentu saja aku berharap untuk kebahagiaan kalian. Dinda aku sudah menganggap kalian itu sahabatku, aku yang ingin yang terbaik untuk kalian"jelas Alan.
"Aku ingin bercerai darinya"sahut Dinda enteng.
"Segampang itu kau bilang cerai padanya, apa kau merasa tidak akan menyesal. Ingatlah saat ini kau sedang mengandung buah hati kalian, jangan korbankan anakmu demi egomu Dinda. Aku tau jauh dari dalam lubuk hatimu yang paling dalam kau masih sangat mencintainya, hanya saja saat ini semua itu tertutupi ego kemarahan serta kekesalanmu Dinda. Rava pria yang tampan, mapan jika ia menduda tentu akan sangat banyak wanita yang mengantri untuk menjadi istrinya, kau mau itu"ucap Alan sambil memerhatikan mimik wajah Dinda berubah jadi sendu.
"Kenapa semua orang saat ini membelanya, jelas-jelas ia yang salah. Kenapa saat ini semua orang menyalahkanku"sahut Dinda
"Aku tidak menyalahkanmu, hanya memberi saran. Kau tidak tau bukan bagaimana ia setelah kepergianmu, dia hampir gila perusahaan ia telantarkan demi mencarimu, dia datang ke tempatku seperti pria yang tidak terurus." tutur Alan membuat Dinda tidak percaya jika Rava akan bersikap seperti itu, ia pikir Rava akan senang dengan kepeegiannya.
"Memangnya aku peduli, itulah resiko yang harus ia tanggung. Memangnya ia pernah peduli sakit hatinya aku kala ia tetap hidup dalam bayang-bayang mendiang istrinya, kau tau bukan bagaiman ia membanding-bandingkan aku dengan Luna almrahum istrinya itu" sergah Dinda tetap menyangkal segala ucapan Alan, baginya Rava tetap salah.
"Aku tau Dinda bagaimana rasanya tidak di anggap, kau ingat aku pernah merasakannya saat aku menjalin hubungan denganmu, aku sangat tau isi hatimu dari dulu kau sangat mencintainya hingga aku sampai tidak menjangkau hatimu itu."
Deg..
Ada perasaan bersalah saat Alan mengucapkan kata-kata itu.
"Alan aku.."kalimat Dinda terpotong.
"Tidak.. jangan merasa bersalah padaku. Karena saat itu aku yang memaksamu untuk menjalin hubungan denganku. Dinda pernahkah kau berfikir menjadi Rava juga tidak mudah, ia di tinggalkan Luna saat itu dengan tiba-tiba, tanpa ada kata perpisahan tiba-tiba Luna yang ingin menyamperi suaminya ke kantornya nyatanya maut menghadangnya di tengah jalan. Aku yakin jika kau yang berada di posisi Rava, kau pun akan sama sifatnya. Saat ini percayalah bukan cinta yang Rava punya untuk Luna, melainkan rasa bersalah.." tutur Alan
"Dan kak Rava tau semuanya.."sahut Dinda
"Iya, ia sempat membaca surat yang Luna tulis, mengakui segala kesalahannya karena membuat kau menjauh darinya, di situ Luna juga mengatakan jika kau mencintai suaminya itu. Namun Rava bersikap biasa saja saat bertemu denganmu bukan, karena ia beranggapan kau sudah mempunyai aku saat itu. Luna juga berharap suatu hari kalian akan di pertemukan lagi, ia merasa amat bersalah akan kepergianmu, ia menyesal melakukan itu, bukankah itu sebuah pertanda jika Luna sudah merestui hubunganmu dengan Rava"tutur Alan
"Aku.. aku tidak tau harus bagaimana.."ucapnya.
"Pikirkanlah apa yang ku ucapkan dengan baik-baik. Aku yakin Rava sangat mencintaimu, Rava akan membuatmu bahagia. Dinda bukankah sebuah hubungan tidak ada yang selalu berjalan dengan mulus, tentu di setiap jalan yang kita lalui akan ada kerikil-kerikil tajam yang harus kita lewati, aku tau perjuanganmu untuk mendapatkan hati Rava, saat ini kau telah berhasil apa kau akan menyerah" nasehat Alan dengan bijak.
"sorry aku lama toiletnya ngantri,"ucap Disty membuyarkan semuanya.
"Tidak apa Disty.."sahut Dinda "Alan, Disty aku pulang dulu ya" pamit Dinda, yang di angguki oleh kedunya.
"Dia mantan kekasihmu itu,"tanya Disty setelah memastikan jika Dinda benar-benar telah pergi dari cafe itu.
__ADS_1
"Iya, kenapa.."sahut Alan.
"Cantik pantas saja kau susah move on"ucap Disty
"cantiklah masa tampan dia kan wanita"
"Aku juga tau itu."seru Disty, Alan hanya terkekeh.
"Alan, ayo mulai sekarang kita harus jaga jarak, aku tidak mau membuat Vriska sakit hati, aku tidak enak jika sering bertemu denganmu berdua denganmu begini"ucap Disty
"Aku tidak mau.."tolak Alan.
"jika kau tidak mau, aku yang akan melakukan semua itu, aku permisi Alan"ucap Disty berlalu pergi.
"Kau harus pulang bersamaku"cegah Alan sambil memegang lengan Disty.
"Lepaskan.. aku tidak mau.."tolak Disty sambil mencoba melepas tangan Alan.
Sementara itu di sisi lain ada seorang wanita yang terkejut melihat interaksi keduanya.
πππ
Sementara itu Rava yang saat ini berada di rumahnya sedang membakar habis foto-foto Luna, beserta barang yang masih bersangkutan dengan Luna. Ia tiba di rumahnya tadi jam enam petang, saat ini waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam.
"Maaf Luna, aku harus melakukan semua ini, semua ku simpan dalam hati yang dalam. Maaf untuk segala kesalahanku yang tidak bisa menjagamu dengan baik.. Saat ini ada hati yang harus aku jaga, aku sangat mencintai istriku Dinda. Aku tidak mau kehilangannya, suatu hari aku berharap dia mau kembali padaku."Ucap Rava sambil menatap kobaran api, tanpa terasa air matanya menetes kala mengingat keegoisannya saat masih bersama Dinda.
Rava ingin sekali ke rumah mertuanya, ia snagat merindukan Dinda, mengingat tadi ia berkali-kali nelpon tidak juga di angkat Dinda. Jika ia pergi kesana saat ini ia takut akan menganggu istirahat nya, ia mengurungkan niatnya lalu merebahkan dirinya berusaha memejamkan matanya namun itu sangat susah. Semenjak kepergian Dinda, Rava keraoa mengalami insomnia.
Mendesah frustasi ia lantas mengambil kunci mobilnya, dan berlalu pergi menjalankan mobilnya ke rumah mertuanya.
ππππ
ππjangan lupa tekan like, koment,vote,,, beri aku hadiah..ππ
ππselamat membacaππ
__ADS_1
ππini lebih dari 12000 kata lho, panjang kan..hhihiππ
bersambung..