
Hari terus berlalu segala persiapan pernikahan hampir selesai. Beberapa hari lagi pernikahan itu akan tiba, tidak tanggung-tanggung kedua orang tua Alan dan Vriska menyelenggarakan acara pernikahan mereka secara mewah, mungkin karena mereka merupakan sesama anak tunggal. Kini Alan dan Vriska sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat. Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di tempat tujuan.
"Vriska ini kan..."ucapan Alan terhenti, saat ada seorang anak kecil berlari memanggil Vriska.
"Kak Vriska.."Panggil seorang anak kecil yang bernama Bayu, ia berlari kemudian memeluk Vriska. Semua anak-anak yang lain terlihat keluar menghampiri Vriska dan Alan.
Vriska pun tersenyum "Apa kabar sayang, kau baik-baik saja."tanya Vriska.
Cih apa-apaan itu dia manggil sayang ke pria lain, sedangkan denganku saja belum pernah, dumel Alan dengan cemberut.
"Tentu saja kami baik-baik saja, meski beberapa bulan yang lalu Kak Vriska tidak pernah kesini tapi kebutuhan kami tetap terpenuhi.."seru Bayu sambil melepas pelukannya dari Vriska , membuat Alan menghela nafasnya lega.
Kini Vriska dan Alan tengah duduk bergabung bersama anak-anak, Alan dan Vriska melihat anak-anak yang tengah makan dari makanan yang tadi Vriska dan Alan bawa untuk mereka.
"Lho Om kan yang waktu itu ya...?"ceplos Bayu, setelah selesai menyantap makanannya, ternuata ia baru menyadari kehadiran Alan.
"Bayu memangnya kau mengenalnya.."tanya Vriska dengan kening mengkerut, ia bingung bagaimana bisa mereka saling mengenal.
Sedangkan Alan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat Vriska menatap ke dalam dirinya. Alan melihat ke arah Bayu untuk tidak jujur pada Vriska. Tapi sepertinya bocah itu tidak mengerti kode.
"Tentu saja kenal, hanya pernah bertemu sekali. Om itu pernah kesini, dan menanyakan kakak."ucap Bayu dengan jujurnya, membuat Alan nyengir, sedang Vriska menatap Alan meminta penjelasan.
"Dasar anak kecil tidak mengerti aku kasih kode dia malah jujur, udah gitu kenapa masih manggil om, dengan Vriska saja dia manggil kakak, memangnya tampangku seperti om-om"seru Alan dengan kesal.
"Anak-anak laki-laki ini merupakan calon suami kakak, lusa kakak akan menikah. Kakak minta kalian datang ya"kata Vriska dengan senyum bahagia. Alan tersenyum senang saat Vriska memperkenalkan dirinya sebagai calon suaminya ia langsung bergaya cool.
"iya kak..."Jawab semuanya serentak.
"Jadi dia calon suami kakak, nah benar kan dugaanku jika dia menyukai kakak, makanya dia mengikuti kakak terus"ceplos Bayu membuat mata Alan membulat sempurna.
"Kau...."ucap Alan tertahan
"Alan sudah dia hanya anak kecil,"seru Vriska "Ya sudah kakak pamit dulu ya..."
Vriska dan Alan berjalan ke arah mobil, setelah masuk ke dalam mobil Vriska langsung berbicara panjang lebar.
"Alan kau tidak boleh begitu, dia hanya anak kecil kau tidak boleh menganggap omongannya itu serius"ucap Vriska sambil menghela nafasnya. "Dan apa-apaan tadi, jadi selama ini kau mengikuti ku."Alan tetap masih diam.
"Alan kau tidak boleh juga cemburu padanya, dia hanya anak kecil.."ucap Vriska Alan masih diam ia justru mendekatkan dirinya pada Vriska.
"Alan.. kau.. kau mau apa.."tanya Vriska dengan gugup karena kini jarak keduanya hanya beberapa centi saja.
Alan hanya tersenyum tipis, ia bisa mendengar detak jantung Vriska yang begitu kencang, dengan nafas yang saling beradu.
__ADS_1
dan... Ceklek Alan berhasil memasangkan seatbeltnya.
"Aku hanya akan memasangkan seatbelt padamu, kau sibuk mengomeliku tidak jelas. Sampai tidak memikirkan kesalamatanmu, jangan seperti itu lagi. Aku tidak mau kau membahayakan dirimu sendiri"Ucap Alan denhan lembut sambil mengelus puncak kepala Vriska, kemudian Alan menjauhkan dirinya dari Vriska dan kembali duduk dengan benar di kemudi.
Vriska menghela nafasnya dengan lega, "Aku tau, kau pasti berfikir jika tadi aku akan menciummu ya.."ucap Alan membuat Vriska berfikir kenapa laki-laki itu pintar sekali menebak apa isi hatinya "Tapi tenang saja beberapa hari aku akan puasa, aku tidak akan menciummu. Aku menunggu kita sudah sah saja jadi suami istri, agar semua terasa istimewa. Dan aku akan melakukan hal yang lebih tentunya"ucap Alan yang memang berniat menggoda Vriska, ia mengerlingkan matanya pada Vriska, Alan sudah mengendarai mobilnya membelah jalanan yang cukup ramai.
"Alan... kau dasar mesum.. pikiranmu bahkan sudah kesana-kesana"teriak Vriska dengan kesal bercampur malu.
"Memangnya apa yang akan ku lakukan nanti. Kenapa kau marah-marah. Kau pasti berfikir macam-macam kan"seru Alan.
"Alan diamlah aku tidak mau bicara lagi padamu..."dengus Vriska dengan kesal, entah mengapa sejak saat mereka kembali memutuskan bersama Alan suka sekali menggodanya, padahal dulu Vriska mengenal Alan adalah tipe laki-laki yang dingin tidak banyak bicara.
Alan kembali melirik Vriska sambil tersenyum tipis, ia melihat Vriska sedang memanyunkan bibirnya. Membuat Alan bertambah gemas saja.
ππππ
ππMau kasih selingan sedikitππ
Kediaman Rava
Pukul lima sore Rava baru tiba di rumah, ia membuka pintu rumahnya begitu terlihat Davis sedang bermain. Begitu melihat Daddy nya pulang, ia langsung berusaha berdiri dan berjalan sedikit tertatih-tatih. Ya bayi mungil yang hampir menginjak satu tahun itu sudah mulai berjalan meski masih lambat dan akan sering terjatuh.
"D.. da... dy.."ucapnya saat Rava sudah menghampiri putranya.
David terlihat begitu senang menerimanya, ia langsung berusaha membukanya, tapi belum bisa. "Biar Daddy bantu oke.."Rava mengambil alih mainan itu dan memberikannya pada David "Kau tau di mana Mommy, kenapa kau sendiri"tanya Rava pada putranya.
"M.. m...omy.."ucap Davis mengucap sambil menunjuk ke arah dapur.
"Ya sudah Daddy mau ke tempat Mommy, apa Davis mau ikut..."tanya Rava .
Davis menggeleng "No.."ucapnya.
Rava pun tersenyum kemudian ia berlalu menghampiri Dinda yang saat ini tengah di dapur. Ia melihat istrinya tengah memasak dengan di bantu oleh asisten rumah tangganya. Rava memberikan kode pada asisten rumah tangganya untuk mendekat lalu keluar dari dapur. Setelah memastikan asisten rumah tangganya keluar, Rava mendekati Dinda lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Dinda, membuat Dinda terlonjak kaget, hampir saja ia menjatuhkan spatulanya.
"Mommy sayang lagi masak apa..?"tanya Rava sambil mengecup leher istrinya.
"Daddy kau menganggetkanku saja,"seru Dinda, "Lepaskan tanganmu Daddy, aku sedang masak jangan banyak bertingkah, nanti ada yang melihat.."sambung Dinda.
Bukannya melepaskan justru Rava bertambah mempererat pelukannya "Tidak ada yang melihat, aku sudah menyuruh bibi pergi menemani Davis. Sebentar saja aku sangat merindukanmu"seru Rava
"Bagaimana bisa bicar begitu, setiap hari kita juga bertemu dan bersama"sahut Dinda.
"Tetap saja, aku rindu.."seru Rava
__ADS_1
"Sayang.."panggil Rava
"Hemm..."jawab Dinda
"Davis sudah besar bukan, bagaimana kalau kita menambah momongan lagi"ucap Rava, Dinda langsung mematikan kompornya, dan melepas tangan Rava lalu beralih menatap tajam Rava. Membuat Rava meneguk salivanya dengan kasar.
"Davis bahkan baru berusia satu tahun, dan kau mau meminta anak lagi. Aku tidak mau, kau saja yang hamil kalau begitu"sungut Dinda dengan kesal.
"Masuklah ke kamar dan bersihkan dirimu, setelah itu turunlah makan. Aku sudah menyiapkan baju gantinya"sambung Dinda.
Rava pun hanya menuruti perintah Dinda. Setelah selesai memasak dan menghidangkannya di meja, Dinda pun menyusul Rava ke kamar, ia melihat jika Rava sudah selesai mandi dan sudah mengganti pakaiannya.
Lalu Dinda melihat sebuah undangan yang terletak di meja riasnya, Dinda pun mengambilnya. Rava melihatnya kemudian ia menghampiri Dinda.
"Oh ya itu undangan pernikahan Alan dan Vriska lusa, tadi sore Alan datang ke kantor memberikan undangan itu, ia bilang kau dan aku harus datang"ucap Rava
"Syukurlah akhirnya menikah.."ucap Dinda
"Ya aku juga bersyukur banget, jadi aku tidak akan cemburu lagi kalau kau dekat-dekat dengan Alan.."seru Rava
"Apa-apaan jadi kau masih saja cemburu jika aku dekat dengannya, Daddy aku hanya berteman dengannya tidak lebih, aku tetap saja istrimu"sahit Dinda
"Aku tau, tapi entahlah aku tetap cemburu bagaimanapun dia itu mantanmu."ucap Rava "Apalagi mengingat dulu sikap dia yanh begitu manis padamu, sedangkan aku memerlakukanmu dengan buruk saat itu, aku takut saja kau akan terlena lagi padanya, dan kau akan meninggalkanku kembali"ucap Rava
Dinda melihat ke arah Rava "Percayalah apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu"ucap Dinda
"Benarkah.."tanya Rava, Dinda menganggukann kepalanya.
"Terimakasih.."sahut Rava dengan senyum bahagia, ia merengkuh Dinda membawanya ke dalam pelukannya lalu mengecup kepala Dinda.
Setelahnya Rava melepas pelukan Dinda lalu ia menatap Dinda, kemudian mendekatkan wajahnya, dan cup Rava mencium bibir Dinda, Dinda pun membalasnya, tangan Rava bahkan sudah tidak tinggal Diam ia sudah membuka kancing baju istrinya, Rava membawa Dinda ke ranjang lalu membaringkannya, saat akan kembali memulainya, pintu kemar di ketuk dari luar.
"Tuan, Nona.. Maaf Den Davis menangis.."ucap Bibi dari luar.
Dinda langsung tersadar dan ia mendorong Rava dan membenarkan pakaiannya.
"Daddy kau ini apa-apaan ini masih sore, dan kau dengar apa kata bibi jika Davis menangis, aku bahkan sampai melupakannya karena ulah dirimu"ucap Dinda dengan kesal lalu bangkit ie keluar.
Rava masig meringis kesakitan karena ia terjatuh ke lantai "Dia menyalahkanku, padahal dia sendiri menikmatinya"serunya..
πππJangan bosan dulu ya readers,πππ
πππSelamat membaca, jangan lupa like, komen, vote.. ayo beri aku hadiahππ terimakasih para readers tercinta, πππππ
__ADS_1
bersambung..