Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Mau mencobanya denganku ?


__ADS_3

Di sebuah restoran


"Maaf aku telat... " ucap Dinda setelah mendaratkan pantatnya si kursi depan Alan, ya seperti janji sebelumnya mereka bertemu.


Ini bukan pertama kalinya Alan menemui Dinda selama di Paris, bahkan hampir sebulan sekali Alan pasti menemui Dinda, selalu saja punya alasan setiap di tanya, yang katanya mengantar mamanya liburan, sepupunya lah, ada pertemuan dengan rekan bisnisnya lah.


"It's okey sayang. Seberapa lama menunggumu pasti akan aku lakuin, sama seperti perasaanku padamu.." sahut Alan sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Menyebalkan.. masih saja sama suka bercanda.." cibir Dinda


"Ayolah sayang.. sudah cetakanku begini aku tidak bisa merubah apapun dari diriku." ucap Alan


"Hei.. sudah ku bilang jangan panggil aku sayang.. Panggil aku Dinda. Kau bisa saja membuat semua orang salah paham terhadap kita.." sahut Dinda sambil memijit pelipisnya.


"Aku tidak mau.. biarkan saja, memang apa urusan mereka. Sudahlah sekarang lebih baik kau pesan makanan. Aku sudah sangat lapar." ucap Alan sambil mengalihkan perdebatan mereka. Kalau tidak begitu bisa makin panjang ceramahnya Dinda.


Akhirnya mereka pun memesan makanan. Dan tidak lama setelah itu pesanan mereka datang.


"kapan kau kembali lagi ke Indonesia.." tanya Dinda setelah menyelesaikan makannya. Menaroh garpu dan sendoknya dan mengelap sudut bibirnya dengan tisu.


"Besok... kenapa kau masih mau berlama-lama denganku ya.. " ucap Alan


"Narsis.. aku heran sebenarnya apa yang wanita-wanita sukai darimu . Kau sering gonta ganti pacar.." cibir Dinda


"Hei.. kau liat aku dong. Aku begitu tampan, kaya ,pekerja keras, ramah tidak sombong, rajin menabung hehe.. tentu saja siapa wanita yang tidak tertarik denganku. Hem.. kecuali kau yang.. Aku aja heran kurang apa aku ini bagimu.. huh.." ucap Alan


"Entahlah.." jawab Dinda cuek


Ampun wanita ini benar-benar makhluk langka aku ngmong panjang lebaf dia hanya jawab entahlah.. tanpa rasa bersalah.. lirih Alan di hati


"Kau masih belom move on dari Rava? Aku punya kabar baru tentang Rava.. kau mau tau." ucap Alan


"Tidak.. aku tidak mau tau apa-apa tentang Dia, aku sudah melupakannya. Jangan bicara soal dia." sahut Dinda


katanya sudah lupa tapi terdengar begitu resah dia membicarakan Rava..

__ADS_1


"baiklah.. kalau kau sudah melupakannya kenapa sampai saat ini kau juga belom punya pasangan. Kau menunggu dudanya dia ya..haha" ucap Alan dengan santai


"sembarangan.. ya aku hanya belom menemukan yang cocok saja.." jawab Dinda


"ya karena kau tidak mau mencobanya.. Bagaimana kalau kau mencobanya denganku." ucap Alan


"maksudnya..? " tanya Dinda


"mencoba menjadi pacarku.." ucap Alan


"tidak.. aku tidak mau coba-coba. Aku tidak mau menyakiti siapa-siapa.." sahut Dinda


"Ayolah Dinda. Jika memang nanti kita merasa tidak cocok.. tidak papa kita akhiri hubungan kita. Setidaknya cobalah dulu.." ucap Alan


Dinda tampak berpikir... Apa iya aku harus mencoba membuka hatiku untuk pria lain ya. Siapa tau dengan begini aku bisa melupakannya.


"baiklah.. tapi kau jangan terlalu berharap ya. Aku tidak mau menyakitimu." sahut Dinda pada akhirnya menyetujui ide Alan


"kau yakin.." tanya Alan.. Dinda hanya mengangguk saja..


*******


Kediaman Nugraha


sudah tengah malam namun Rava juga tak bisa memenjamkan matanya, yah dia memang sering begini semenjak kematian Luna ia menjadi susah tidur jika mau tidur harus mengkonsumsi obat tidur. Mengingat obat itu tidak baik ia harus sering menguranginya namun apalah daya ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.


Dari tadi ia hanya bolak balik.. akhirnya ia menyerah ia turun dari ranjang berjalan ke arah meja mengambil foto mendiang istrinya. Matanya beralih ke sebuah laci, ia membuka nya di sana terdapat buku diary dan selembar foto. Foto itu adalah foto Luna Dinda dan Rava, foto itu di ambil ketika sedang mencoba gaun pengantin Luna di butik. Di sana terlihat senyum kebahagiaan mereka bertiga. Ia meraba-raba foto itu..


kau memang cantik sayang..


Lalu tangannya beralih ke foto Dinda..


Dinda,, apa kabar dia sekarang. Hah bahkan mungkin ia sudah tak mengingatku. Sudah lama kita tak bertemu, apa dia masih crewet seperti dulu.


Lalu tangannya beralih membuka sebuah buku diary, merasa penasaran.. di situ ada sebuah goresan tulisan tangan Luna. Hanya sebuah kata-kata ungkapan hati.

__ADS_1


*Terbesit ingatanku tentang Dinda. Tuhan aku sangat merasa bersalah padanya. Mengapa aku begitu egois. Aku melihat kesedihan di mata suamiku, setelah kepergian Dinda. Mengapa aku bisa berbuat sejahat ini, seharusnya aku tak meminta permintaan konyol ini..


Mereka bersahabat sejak kecil. Mengapa aku tidak mempercayai suamiku. ..


Suamiku maafkan aku..


aku lah yang menyuruh Dinda untuk menjauhimu..


entahlah aku begitu cemburu. Setiap kedekatan antara kau dan dia...


aku melihat adanya cinta di mata Dinda..


ternyata dia juga sama berartinya untukmu. Sama halnya dengan dia rela melakukan apa saja untukmu..


ku fikir ia tak akan pergi sejauh jangkauan kita, ternyata ia benar-benar pergi jauh dari kita.


Aku berharap semoga suatu saat kalian di pertemukan lagi*.


Setelah membaca surat itu Rava mengusap wajahnya dengan kasar..


"Jadi.. Dinda menjauhiku karena menuruti keinginan Luna.. Tuhan, mengapa ia tak percaya padaku. Pantes beberapa hari sebelum ia pergi sikapnya tak biasa padaku. ia begitu menjauhiku. Tapi... dimana dia sekarang. Ah sudahlah mungkin memang takdirku sudah begini.." ucap Rava


sampai waktu menunjukkan jam 3 pagi Rava baru bisa memejamkan matanya, itupun ia memeluk foto Luna dan tertidur bersandar di sofa..


.


.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2