
Sinar matahari menyinari Rava yang kala itu masih terlelap. Merasa terganggu kemudian ia pun menggeliat sambil membuka matanya. Lalu pandangannya seperti tengah mencari seseorang. Suara gemericik air menyadarkan ia, bahwa orang yang ia cari tengah berada di kamar mandi.
Tidak lama setelah itu pintu kamar mandi terbuka. Dinda keluar dengan pakaian yang lengkap juga rapi. Rava mengerutkan keningnya.
"sudah rapi, kau mau kemana..."tanya Rava sambil menyandarkan badannya di ranjang tatapannya tidak lepas dari Dinda.
"pulang, kau bilang kita akan pulang ke Jakarta, aku sudah siap-siap, aku juga sudah membereskan baju-baju kita."ucap Dinda datar sambil menghela nafasnya kemudian mendudukan dirinya di sofa.
"Aku tau, tapi tidak sekarang nanti jam 3."ucap Rava sambil beranjak dari ranjang.
"Aku tidak bisa tidur semaleman.."sahut Dinda,
Rava menghentikan langkahnya untuk ke kamar mandi, lalu menengok Dinda.
"Kenapa...?"tanya Rava sambil mengangkat alisnya
"Aku... aku.. ah tidak aku hanya masih betah di sini saja. Bisakah kau pulang lebih dulu aku akan tetap di sini lebih dulu"ucap Dinda..
Ah ... bodoh.. bukan itu yang ingin ku katakan. aku hanya takut saat kembali di Jakarta kak Rava akan kembali menjadi Rava dingin. rutuk Dinda dalam hati
"Tidak bisa, kau juga harus masuk kerja bukan . Aku janji suatu saat kita pasti akan kesini lagi."ucap Rava dengan lembut
Ah, manisnya..."Benarkah..." jawab Dinda sambil mendekat ke arah Rava lalu memeluknya "Terimakasih.."
Rava pun mengusap rambut Dinda "Aku belum melakukan apapun, kau bahkan sudah bilang terimakasih. Sudahlah aku mau mandi"ucap Rava membuat Dinda menyadari untuk melepas pelukannya .
...****************...
Masih ada waktu beberapa jam sebelum kembali ke Jakarta. Akhirnya Dinda dan Rava memutuskan untuk jalan-jalan.
Menyusuri jalanan menggunakan kaki. Mereka terlihat seperti pasangan yang serasi, Dinda yang menggunakan dress berwarna putih serta sepatu kets berwarna hitam jangan lupakan tas slempang yang ia pakai, terlihat cantik.
Rava menggunakan kaos putih, serta celana jins selutut tidak lupa kacamata hitam yang ia pakai menambah ketampanannya.
Sepanjang perjalanan banyak yang menatap kagum keduanya, sampai ada segerombolan pria berjalan dengan terburu-buru akhirnya menabrak bahu Dinda. Untungnya dengan sigap Rava menangkap tubuh Dinda agar tidak terjatuh.
"Kau tidak apa-apa. Katakan apa ada yang sakit. Ah sial , seandainya orang yang menabrakmu tadi tidak kunjung lari, sudah ku habisi dengan tanganku.."ucap Rava dengan geram menahan emosi.
"aku baik-baik saja," sahut Dinda sambil menghela nafasnya.
Sungguh sejujurnya ia amat senang dengan perlakuan Rava akhir-akhir ini, ia teramat memperhatikannya. Terkadang ia ingin menanyakan perihal tentang perasaan Rava padanya, akan tetapi ia takut jawabannya tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Ia takut jika Rava melakukan semua ini murni tanggung jawab sebagai seorang suami, bukan karena ia mencintainya.
"Lihat semua pria menatapmu seperti seorang pemburu sedang mendapatkan mangsanya. Aku tidak suka, ayo kita kembali saja ke hotel..."ucap Rava dengan sinis.
__ADS_1
Dinda mengamati orang-orang yang di tunjuk Rava. "Biarkan saja, aku tidak peduli.."ucap Dinda berusaha setenang mungkin. Jujur jantungnya masih berdegup kencang .
"Tapi aku peduli, aku tidak suka kau di tatap seperti itu.."ucap Rava dengan tegas dan tatapan yang tajam .
"Memangnya kenapa? kau cemburu....?"tanya Dinda membuat Rava terlonjak kaget, mungkinkah ia cemburu.
"Mana mungkin.. Aku hanya tidak suka milikku di pandang pria lain.."ucap Rava membuat Dinda tersenyum miris. Lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Rava, sungguh hatinya sangat sakit.
"Dinda, ayo kembali..."ucap Rava masih kekeh dengan pendiriannya, tanpa menyadari ucapannya tadi telah melukai hati istrinya. Sejujurnya apa salah ia bilang cemburu, mungkinkah kata itu sangat sulit baginya ia ucapkan.
"Ada yang ingin aku beli, kau kembalilah lebih dulu, jangan ikuti aku. Tenang saja aku akan kembali sebelum jam 3.."ucap Dinda sambil berlalu pergi, mempercepat langkahnya agar tidak di ikuti Rava.
^^^************^^^
Tiga jam yang kemudian Rava yang sudah sampai hotel dari tadi. Terus bergerak gelisah , mengamati Dinda yang tak kunjung kembali.
Karena tidak sabar menunggu Dinda, akhirnya Rava memutuskan untuk kembali menyusul Dinda.
Dengan perasaan gelisah dan khawatir ia mencari Dinda.
"Shit, bodoh.. kemana aku harus mencari. Aku bahkan lupa menanyakan ia mau kemana tadi.."ucap Rava dengan geram . Lalu ia meraih handphone nya mencari kontak Dinda lalu menekannya, namun nomornya tidak aktif.
Melihat pergelangan tangannya, waktu menunjukkan jam 12. Masih ada waktu, pikirnya ia harus mencari Dinda. Terus melangkah tanpa tujuan berharap menemukan istrinya.
"Permisi, ada apa ini pak, bu.."tanyanya tidak menutupi rasa khawatirnya. Membelah segerombolang orang tersebut,.
"Ini ada kecelakaan tadi orang ini tadi hampir menyerempet seorang wanita untungnya gadis itu bisa menghindar.."ucap salah satu ibu-ibu di situ.
Rava yang sedang melihat korban kecelakaan tersebut, seketinya hatinya merasa lega . Ah ternyata bukan, namun mendengar penuturan dari ibu-ibu itu. Akhirnya Rava bertanya.
"Di mana gadis itu bu.."tanya Rava
"Dia ada di warung sebelah sana den, sepertinya wanita itu tengah sok.."tunjuk sang ibu-ibu itu.
Dengan langkah cepat Rava berlari, ah pikiran khawatir segalanya jadi satu. Ia perlu memastikan sesuatu. Ketika sampai di depan warung itu.
Deg...
Dinda..
Melihat seseorang yang ia cari ia berlari menghampiri lalu memeluknya serta memberi banyak kecupan-kecupan di wajahnya.
"Kak Rava, aku takut... motor itu terbang, aku seperti mau mati..."ucap Dinda dengan nafas ngos-ngosan tidak menutupi rasa takutnya, ah sepertinya ia tengah sok.
__ADS_1
"Maaf.. maafkan aku. Harusnya aku tak membiarkan kau pergi sendiri..."ucap Rava dengan lembut.
Ada perasaan lega ia bisa menemukan Dinda dalam keadaan baik-baik saja. Namun tidak juga menutupi rasa khawatir akan kehilangannya. Seandainya tadi kecelakaan itu benar-benar terjadi tentu ia pasti akan sangat merasa bersalah.
Bayangan-bayang masa lalu kala ia melihat Luna berbaring kaku di ranjang rumah sakit kembali terlintas. Membuat ia mendekap erat Dinda, tidak peduli berapa pasang mata yang tengah memperhatikan mereka. Tiba - tiba ia merasa amat takut kehilangan istrinya itu.
Setelah Dinda agak tenang Rava pun membawa Dinda untuk kembali ke hotel.
********
Dinda dan Rava tengah bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta.
"Kau yakin baik-baik saja. Kalau kau mau kita bisa menunda kepulangam kita ke Jakarta.."ucap Rava yang masih khawatir akan kondisi Dinda.
"Aku baik-baik saja, ayo kita pulang.."sahut Dinda
"Baiklah.."jawab Rava mengikuti Dinda .
"Biar aku yang bawa.."tutur Rava mengambil alih koper yang Dinda bawa, membawanya menuju mobil .
30 menit kemudian mereka telah sampai di bandara. Setelah chek in mereka tinggal menunggu pesawat landing.
*******
"Kalau kau ngantuk tidurlah, jika sudah sampai aku akan membangunkanmu.."ucap Rava
Dinda yang mendengar ucapan Rava pun mencoba memejamkan matanya. Rava yng melihat Dinda tengah tertidur pun meraih kepala Dinda dan di sandarkan pada bahunya. Lalu memberi usapan-usapan lembut di kepala Dinda.
.
.
.
.
.
.
bersambung..
Hay guys, ada yang masih setia baca cerita aku yang receh ini gak. Maaf slow update, ayahku lagi sakit di rawat di rumah sakit, riwayat penyakit jantung, membuat pikiranku buntu. Doakan ayahku cepet sehat ya,..
__ADS_1