
Suara gemericik air dari dalam kamar mandi membuat Dinda terbangun lalu meraba kasur sebelahnya, tidak ada Rava. Jadi ia pastikan yang sedang di kamar mandi Rava. Melirik jam di atas nakas, pukul 06.15, pagi sekali pikirnya.
Ah tiba-tiba wajahnya memanas mengingat kejadian semalam, meski ia menolak tentu saja akhirnya ia menikmatinya juga.
Pintu kamar mandi terbuka segera Dinda berpura-pura tidur lagi.
"Aku tau kau sudah bangun, kenapa harus berpura-pura tidur lagi.."ucap Rava sambil mengganti bajunya.
Dinda membuka matanya oh ya ampun apa dia tidak malu mengganti pakaiannya di depanku, pikir Dinda
Setelah memastikan bahwa Rava sudah berganti pakaian, Dinda segera duduk sambil memegang selimut yang menutupi tubuh polosnya .
"Kau mau ke mana? kenapa pagi-pagi sekali.."tanya Dinda sambil terus mengamati pergerakan Rava.
"Tentu saja ke kantor, memangnya kemana lagi. Aku ada pertemuan klien jam 7 nanti"ucap Rava sambil memakai jasnya setelah selesai memakai sepatu.
"Memangnya tidak bisa si tunda, kenapa harus pagi-pagi sekali."tutur Dinda dengan sebal.
Segera Rava melihat ke arah Dinda, lalu berjalan sambil tersenyum "Kenapa begitu, biasanya kau tidak pernah protes aku berangkat jam berapapun. Sekalipun aku ke luar kota kau juga biasa saja bukan biasanya,. Ada apakah ? oh aku tau kau melanjutkan kegiatan semalam. Sabar akan aku usahakan untuk pulang lebih awal dari biasanya."ucap Rava sambil tersenyum menggoda. Sebelum akhirnya mendapatkan lemparan bantal dari Dinda.
"Hei, tutup mulutmu. Dasar menyebalkan"sahuta Dinda sambil mengerucutkan bibirnya.
Sedang Rava tetap tersenyum merasa gemas dengan tingkah Dinda serta bahagia bisa menggoda Dinda.
"Klienku kali ini memang meminta di jadwalkan lebih pagi, karena siangnya ia harus terbang ke luar negeri, jadi aku tidak bisa menunda pertemua ini. Oh ya aku sudah bilang bibi untuk menyiapkan sarapan, kau mandilah setelah itu jangan lupa sarapan. Aku berangkat dulu."ucap Rava sambil mendaratkan kecupan singkat di dahi Dinda.
"Kau tidak sarapan..?"teriak Dinda
"Tidak sempat, aku akan sarapan di kantor saja."sahut Rava sebelum akhirnya membuka pintu dan melangkahkan kakinya ke kantor.
Setelah Rava pergi Dinda meraba keningnya mengingat kecupan singkat yang di berikan Rava tadi, ia merasa amat senang sakaligus bahagia. Tumben tidak biasanya pikirnya..
Benarkah Rava sudah mencintainya, ah tidak tentu saja ia masih ragu. Mengingat belum ada kata cinta dari Rava untuk Dinda.
******_******
__ADS_1
Saat sedang sarapan tiba-tiba ada yang memencet bel,
"Biar aku saja yang buka bi"ucap Dinda berjalan melangkah ke pintu, lalu membukanya.
"lho mama kalian ngapain pagi-pagi kesini.."tanya Dinda, yang langsung mendapatkan jeweran di telinga oleh mama Dewi.
"Dasar anak kurang ajar, orang tua dan mertuamu berkunjung bukannya di suruh masuk malah bertanya ngegas"ucap Mama Dewi.
"Ampun.. oh ayo ma masuk.."ucap Dinda sambil membuka pintunya dengan lebar.
"Di mana Rava Din..?"tanya mama Imel kali ini sambil mendudukan pantatnya di sofa ruang tamu rumah Dinda dan Rava.
"em dia sudah berangkat ke kantor dari pagi. Ada pertemuan dengan klien pagi hari.."jelas Dinda.
"Anak itu selalu saja gila kerja."tutur Mama Imel
"Aunty leher aunty di gigit apa..?"tanya Varen dengan polosnya, sedang Mama Imel Mama Dewi serta Vinda langsung melihat ke arah Dinda.
"Ah sayang, Aunty Dinda pasti lehernya di gigit serangga. Iyakan Aunty..?"tanya Vinda sambil menahan tawanya, ia tau pasti Dinda tengah malu. Juga Mama imel dan mama Dewi yang menahan tawa, melihat kelakukan anak dan menantunya, teranyata sudah sejauh itu. Tentu saja mereka senang.
"Oh iya sayang, ini di gigit serangga. Serangganya besar, tenang saja nanti akan aunty basmi serangganya.."ucap Dinda dengan menggebu-gebu.
"Kau yakin akan membasminya Din..?"tanya Vinda dengan senyum meledeknya
"Lihat saja nanti.."ucap Dinda sambil melipat tangannya di dada.
******_****
Setelah menghadiri pertemuan beberapa klien dan tender pun di menangkan Rava, seketika Rava merasa bahagia.
Rava pun mengambil handphonenya, jam makan siang tiba ia berniat menelpon via videcall dengan Dinda. Setelah tersambung dan di angkat oleh Dinda.
...Ada apa.. ucap Dinda di seberang sana sambil menahan geramnya....
Oh ya ampun, memangnya harus apa ada jika seorang suami menelpon istrinya..ucap Rava sambil mengerutkan keningnya
__ADS_1
Tidak, hanya saja tidak biasanya saja..balas Dinda dengan jutek
Kau kenapa..?.. tanya Rava setelah melihat wajah Dinda yang tengah menahan rasa kesal
Tentu saja aku sedang kesal padamu, kau bahkan telah membuatku malu.. ucap Dinda dengam bibir mengerucut
memang apa yang ku perbuat, kenapa juga aku bisa membuat istriku malu..tanya Rava setelah di fikir-fikir ia tidak melakukan kesalahan apapun
Dasar pria selalu saja tidak peka. Kenapa kau membuat tanda di leherku, kau tau tadi pagi mamaku mamamu dan kak Vinda serta Varen datang ke rumah lalu mereka melihat apa yang kau buat dengan leherku ... ucap Dinda dengan sewot
Biarkan saja mereka juga pernah muda. Oh ya kenapa harus di tutup harusnya kau biarkan saja kelihatan.. ucap Rava setelah melihat warna yang ia ciptakan telah tersamarkan di leher Dinda
Menyebalkan..ucap Dinda setelah itu mematikan teleponnya.
Mengingat perdebatan tadi dengan Dinda membuat ia tersenyum sampai tidak menyadari Papa Adi tengah berada di depannya.
"Dasar sinting, kau kenapa senyum-senyum tidak jelas.."ucap papa Adi sambil mengerutkan keningnya.
"Pa.. papa.. kenapa bisa kesini."tanya Rava terlonjak kaget dengan kedatangam papa Adi.
"Kau tau dengan perusahaan Evko yang sedang berpesat itu, tadi pimpinannya menelpon untuk mengadakan pertemuan dengan perusahaan kita. Namun pertemuan ini di adakan di luar kota, papa harap kau bisa menghadirinya nanti bersama papa,"ucap papa Adi
"Tapi... kenapa harus keluar kota pa.."tanya Rava
"Mereka tidak bisa datang kemari. Tenang saja jika urusannya selesai lebih cepat, kita bisa pulang lebih awal tanpa menginap"ucap papa Adi
"Baiklah."sahut Rava dengan lesu
.
.
.
.
__ADS_1
.