
Kediaman Diansyah
"Bagaimana bisa kau mabuk semalam" tanya Dicky pada Dinda, setelah putrinya itu mendudukan dirinya di sofa dengan gemetar, merasa resah seperti seseorang sedang melakukan kesalahan. Sama halnya dengan Adi, Dicky juga menyiratkan rasa kecewa dengan putrinya.
"Aku semalam hanya mencoba minuman anggur pa dengan temanku, aku fikir aku tidak akan mabuk. Aku juga tidak tau bagaimana ceritanya aku bisa sampai berada di kamar hotel bersama Kak Rava. Tapi, percayalah ma pa Kak Rava orang baik, dia tidak melakukan apapun pada Dinda"tutur Dinda dengan pelan namun tetap merasa takut.
"Bagaimana mungkin papa bisa percaya begitu saja. Dinda, tentu saja semua orang hanya akan percaya dengan apa yang mereka lihat. Kau saja tidak sadar sudah di bawa Rava ke kamar hotel. Kau bisa lihat ini."ucap Dicky sambil menunjukkan sebuah foto juga berisikan berita-berita tentang Rava dan Dicky "Papa sungguh tidak habis fikir denganmu, papa kecewa sama kamu Dinda. Harusnya setelah Vano bertunangan akan menjadi hari yang bahagia buat papa dan mama. Namun semua kebahagiaan rasanya langsung lenyap melihat kelakuanmu. Dewi didiklah anakmu aku sangat pusing" lanjut papa Dicky dan berlalu pergi.
"Mama, mama percaya kan dengan Dinda." ucap Dinda seraya menatap mamanya memohon kepercayaannya.
"Iya mama percaya sayang. Lebih baik sekarang kau istrihatlah, bukankah hari ini kau ada jadwal praktik di sianh hari."ucap Dewi sambil membelai rambut putrinya itu.
"Iya ma" jawab Dinda
*******
Siang hari di kantor Alan.
Saat ini ia sedang sibuk membaca-baca dokumen. Rasa bosan tiba-tiba melanda. Lalu ia mengambil hp nya berniat menghubungi, ya sejak semalam memang ia belom memberi kabar pada Dinda.
Ketika selesai membuka password di hp nya, ia di kagetkan dengan bunyi notifikasi dari berita yang viral. Lalu ia mencoba mengklik berita tersebut.
Betapa kagetnya ia, mengapa ada foto sang kekasih dengan Rava. Apa yang terjadi semalam.
Seorang Ceo dari perusahaan terlihat memboking kamar hotel bersama putri dari seorang pengusaha perusahaan Diansyah, setelah resminya pertungan Alvano dan Alisa.
"Apa-apaan ini, tidak Dinda ku tidak mungkin berbuat hal senonoh bukan. Dia gadis baik-baik. Aku harus menemuinya sekarang. "ucap Alan lalu mengambil kunci mobilnya dan bergegas menemui Dinda. Yang ia yakini saat ini pasti Dinda sedang di tempat kerjanya.
__ADS_1
******
Dinda keluar dari ruang UGD setelah melakukan operasi pada salah satu pasien yang tadi mengalami kecelakaan. Mengingat darah yang keluar begitu banyak rasa mual tiba-tiba menghampiri. Lalu ia beranjak pergi ke toilet.
Setelah dari toilet ia berjalan hendak pergi ke ruangannya. Rasanya aktivitas hari ini begitu melelahkan dan menguras banyak fikiran, belom lagi memikirkan papanya yang sampai saat ini juga masih mendiamkannya.
Fikirannya melayang kemana-mana. Sampai tiba-tiba lengannya di tarik oleh seseorang.
"Kak Rava apa yang kau lakukan, lepaskan.." ucap Dinda seraya mencoba melepaskan dari cengkraman tangan Rava.
"Diamlah. Aku perlu bicara denganmu." jawab Rava seraya melepaskan cengkramannya. Sambil menatap Dinda dengan tajam.
Dinda merasa sangat takut di tatap seperti itu oleh Rava, rasanya tatapannya itu seperti mau menguliti Dinda hidup-hidup.
Ketika Rava hendak berbicara, tiba-tiba
"Brengsek apa yang tlah kau lakukan pada Dindaku, belom cukupkah kau menyakitinya selama ini." ucap Alan seraya menatap Rava dengan tajam setelah berhasil membuat wajah juga hidung Rava mengeluarkan darah.
"Apa yang kau bicarakan, memangnya apa yang selama ini telah aku lakukan padanya. Kau berbicara seolah-olah aku memberikan banyak masalah padanya." jawab Rava tak kalah tegas.
Tidak.. ini tidak bisa di biarkan jangan sampai Alan berbicara yang tidak-tidak pada Kak Rava. gumam Dinda dalam hati
"Hentikan.. apa yang kalian perdebatkan. Pergilah aku harus kembali bekerja."teriak Dinda
Seketika kedua pria itu menoleh ke arah Dinda.
"Dinda, aku perlu bicara denganmu." ucap Rava kali ini dengan nada lembut
__ADS_1
"Pergilah Kak Rava, tidak ada yang perlu di bicarakan di antar kita." sahut Dinda
"Sayang aku..." ucap Alan terhenti karena Dinda segera memotong ucapannya.
"Dan kau... juga pergilah Alan. Aku sungguh masih butuh waktu sendiri. Aku permisi dulu." ucap Dinda dan berlalu pergi meninggalkan kedua pria itu.
"Apa yang kau lakukan pada Dinda, sehingga berita tentang kalian hari ini begitu trending topik. Apa kau sadar kau bahkan benar-benar brengsek,"ucap Alan dengan emosi.
"Tanyakan saja padanya apa yang telah kami lakukan semalam. Jika aku yang memberi penjelasan tentu kau pasti tidak akan percaya bukan."sahut Rava sebelum meninggalkan Alan...
.
.
.
.
.
.
.
.
bersambung...
__ADS_1