
Hari ini adalah hari pertunangan Alvano dan Alisa , pesta pertunangan di gelar pada malam hari di kawasan hotel ternama.
Banyak tamu rekan bisnis dari Dicky, teman-teman Alisa dan Alvano. Ada juga Imel dan Adi, serta Rava nie yang tak punya pasangan. Awalnya ia tak mau datang namun dengan bujuk rayu Imel akhirnya ia mau menuruti kanjeng mami.
Tampak Dinda dan Alan sedang mengobrol bersama teman-temannya, ralat maksudnya Alan sedang memperkenalkan Dinda dengan teman-teman bisnisnya.
Rasanya membosankan bagi Dinda mendengar obrolan seputar bisnis bahkan ia sama sekali tidak tau.
"Kenapa..?"tanya Alan
"Tidak apa-apa. Aku ingin ke toilet sebentar ya." pamit Dinda dan Alan hanya mengangguk saja.
*******
Setelah dari toilet Dinda keluar bermaksud untuk menghampiri Alan, Ia berjalan dengan terburu-buru mengingat sebentar lagi acara akan di mulai tentu ia tak ingin ketinggalan momen berharga kakaknya.
brukk....
Ya ampun apa ini keras banget batinnya ia menabrak seseorang , seketika ia mendongak.
"sorry.."ucapnya sementara yang di tabrak hanya cuek dan terus berjalan merasa di acuhkan dia kembali bersuara.
"Kak Rava tunggu..." seketika Rava berhenti dan Dinda menghampiri Rava.
"Aku perlu bicara padamu kak.."
__ADS_1
"Apa yang kau bicarakan ." tanyanya
"Kenapa kau begitu berubah kak, kau tidak menganggapku sahabatmu lagi."tanya Dinda akhirnya. sadar tidak apa yang ku ucapkan barusan
"Memangnya kau masih menganggapku sahabatmu, setelah kepergianmu tanpa kabar untukku. Dinda ku fikir kau yang memutuskan persahabatan kita. Kau tau, saat itu aku mencarimu ke mana-mana, aku berusaha menghubungimu tapi semuanya nihil. Aku tidak tau salahku apa padamu.." ucapnya dengan tajam memancarkan kemarahan sekaligus perasaan lega, yah lega karna akhirnya ia bisa mengungkapkan.
"Kak.. aku..." sahut Dinda dengan terbata-bata.
"Aku tau Luna yang memintamu menjauhiku kan.." ucapnya seketika membuat Dinda terkejut bagaimana Rava bisa tau , apa Luna yang memberi tahu bagaimana mungkin "Maaf, aku minta maaf atas sikap Luna padamu. Waktu itu aku , setelah kau pergi aku merasa marah padamu aku kecewa, aku merasa kau memang sudah tak mau menganggapku sahabatmu lagi, bahkan kepindahanmu ke Paris aku bahkan tidak tau. Memang mungkin lebih baik kita seperti ini, tak saling mengenal aku juga tidak mau membawa sial untukmu." ucap Rava
"Maksudku kak.. aku..." ucap Dinda terbata-bata
"Kau sudah punya kekasih, aku kenal dia baik. Semoga kau bahagia.."ucapnya sambil beralau pergi.
"Kak tunggu..." Dinda berkata sambil lari mengejar Rava namun ia tidak melihat bahwa ada tumpahan minuman di lantai ketika ia menginjak lantai tersebut ia hampir terpeleset untung dengan sigap Rava menangkap Dinda. Hingga Dinda jatuh di dalam dekapan Rava,lagi-lagi pandangan mereka bertemu.
"Benar kata mama, dia memang cantik. Jantungku kenapa bisa berdetak begitu kencang begini. Tidak ini tidak benar pasti ada masalah dengan jantungku.."ucap Rava dalam hati
"maaf .. makasih kak Rava"ucap Dinda berusaha melepas pelukan Rava. Hingga akhirnya Rava sdar segera melepas pelukannya dan melanjutkan berjalan pergi ke tempat pertunangan Alisa dan Alvano.
******
Alan POV
"kenapa Dinda lama di toilet padahal acara mau di mulai." ucapku yang saat ini sedang menunggu Dinda, aku tengah bersama Tante Imel Om Dicky juga papa mamaku.
__ADS_1
"tante om aku nyusul Dinda dulu ya tan.."pamitku berlalu pergi menyusul Dinda ke toilet. Namun seketika langkahku terhenti melihat Dinda sedang berbicara dengan seseorang, ya seseorang itu Rava. Aku memilih untuk menjadi pendengar dari balik tembok, jelas ya sangat jelas aku bisa mendengar semua pembicaraan mereka karena tembok itu berada sangat dekat dari posisi mereka.
Sampai akhirnya pembicaraan mereka terhenti aku melihat Dinda mengejar Rava, tiba-tiba Dinda hampir terpleset. Seketika jiwa penolongku meronta-ronta ingin seger mendekat, namun aku kalah cepat dengan Rava.
Aku bisa melihat tatapan mereka yang begitu dalam. Seolah mewakili kerinduan masing-masing.
Jleb..
sakit ya sangat sakit.. Aku baru melihat Dinda begitu menatap Rava dengan perasaan rindu yang begitu dalam. Dia tidak pernah menatapku seperti itu. Inikah jawabannya perasaan Dinda selama ini padaku,. Mungkin hanya aku yang berharap lebih dari hubungan ini.
Ataukah ini karma, aku dulu sering mempermainkan wanita. Mengingat diriku dulu seorang playboy.
Teringat jelas waktu itu .
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Next aku bakal nulis dulu part masa lalu Alan okey. Aku bikin cerita memang yang konfliknya gak berat. Ya nyesek-nyesek sedikit lah.π komenan kalian selalu jadi motivasi aku lho. Aku sengaja gak promosi di lapak manapun. Tapi aku tetap bersyukur tetap ada yang mau baca karya aku...π