Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Love Story Alan_Menikah saja besok


__ADS_3

*Hai-hai aku kembali, sorry kemarin-kemarin saya sibuk ngurus acara 100 hari ayah saya. 😊😊... jadi gak sempat up..


Jangan lupa like, komen, dan votenya..


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹*


Alan terduduk lemah di kasur, ia bingung harus melakukan apalagi terhadap Vriska semakin hari Vriska semakin menghindarinya.


"Kenapa nasib cintaku selalu seperti ini, dulu Disty, lalu Dinda, dan sekarang Vriska.. Apa aku memang tidak pantas bahagia memiliki pasangan, kenapa aku selalu di tinggalkan"Ucapnya, Alan mendesah frustasi.


"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Vriska begitu kekeh tidak mau denganku.."Alan menggeleng "Tidak, aku tidak akan menyerah aku harus mencari tau, aku merasa Vriska menyembunyikan sesuatu dariku"


Alan berdiri menatap pantulan dirinya di cermin, betapa berantakannya penampilan ia sekarang. Tangannya mengepal kuat berjalan mendekat menghadap cermin tiba-tiba tangannya ia hantamkan pada cermin dan..


pyarr.... bunyi pecahan kaca..


Tangan Alan tampak berdarah, nafasnya memburu, tidak lama pintu kamar terbuka menampilkan Merlyn Mama Alan tampak berdiri di ambang pintu dengan nafas yang ngos-ngosan, tidak lama pula di susul oleh Papa Brawijaya juga sudah berdiri di sampingnya.


"Alan...."teriak keduanya.


Mata mereka membulat sempurna melihatnya banyaknya pecahan kaca serta tangan Alan yang berlumuran darah, juga penampilan Alan yang berantakan dan terlihat begitu frustasi.


Alan menoleh ke arah kedua orang tuanya "Mama, Papa aku..."kata Alan terpotong begitu Papa Brawijaya menarik dirinya untuk keluar dari kamar lalu Papa Brawijaya mendudukan Alan di sofa, di susul oleh Mama Merlyn yang datang membawakan kotak P3K, Mama Merlyn duduk di sebelah Alan lalu mulai mengobati lukanya.


"Apa yang terjadi? kenapa kau melukai diri sendiri nak.."tanya Mama Merlin sembari mengobati putranya.


Alan masih terdiam , "Ada apa Alan..?"kali ini Papa Brawijaya yang angkat bicara.


"Papa, Mama. Apa aku memang tidak pantas untuk di cintai, kenapa wanita yang ku cintai selalu pergi meninggalkanku"seru Alan


Mama Merlyn dan Papa Brawijaya tampak menghela nafasnya "Memangnya siapa yang kau cintai saat ini"


"Vriska.."seru Alan


Papa Brawijaya tampak tersenyum, ia senang pada akhirnya putranya mencintai pilihannya "Kau harus berjuang jika kau mencintainya, untuk menuju kebahagiaan cinta sejati itu perjalananan banyak rintangan. Tunjukkanlah kau lelaki sejati, jangan seperti ini. Kau seperti bukan anak Papa, yang Papa kenal.."tutur Papa Brawijaya sambil mengelus pundak Alan.


"Iya sayang, apa yang di bilang Papamu itu benar,"sambung Mama Merlyn yang sudah selesai mengobati luka Alan "Oh ya hari sudah malam, kau tidurlah di kamar tamu, biar kamarmu besok Bibi bereskan dulu"ucap Mama Meryln setelahnya ia berdiri meninggalkan Alan yang terdiam diri.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Vriska masih menikmati udara malam di depan rumahnya, ia juga mengingat bagaimana sikap Alan akhir-akhir ini.


Aku harus apa Alan, semakin aku berusaha membuat kau membenciku, kau justru semakin sering datang padaku. Dan itu membuat rasa cintaku semakin besar padamu. Alan hatiku sebenarnya sangat sakit menjauhimu, tapi apa yang harus ku lakukan. Hidup denganmu juga nanti akan menyakitimu,..


Vriska menjabak rambutnya namun ia merasakan jika kini rambutnya rontok, "Apa ini efek terapi atau memang karena penyakitku"ucap Vriska melihat rontokan rambut yang ia pegang.


"Vriska..."Panggil sebuah suara yang Vriska kenal, Vriska pun menoleh.


"Alan..."Ucap Vriska tercengang kaget, sekilas ia melihat ke arah Alan juga tangan Alan yang tampak masih di perban baru. Ingin sekali ia bertanya ada apa ? dan kenapa ? apalagi melihat tatapan Alan yang tampak sendu, tapi ia mengurungkan segala niatnya, lalu ia bangkit berdiri dan bersiap untuk meninggalkan Alan.


"Vriska , kenapa kau menutup matamu. Tidakkah kau melihat bagaimana perjuanganku, katakan Vriska apa yang harus ku lakukan lagi, agar kau mempercayai besar rasa cintaku, jangan menjauh dariku ku mohon, hatiku sangat sakit di perlakukanmu dengan cara seperti ini,"ucap Alan dengan nada pesimis, laki-laki itu terlihat lelah, atau sedang menahan perihnya luka di tangannya.


Begitupun aku Alan aku sungguh tidak tega sebenarnya padamu, tapi aku bingung harus apa.


"Alan bukankah aku sudah mengatakan hal yang jelas padamu, jika aku tidak mencintaimu"seru Vriska.


"Kau bohong dan aku tidak percaya..."Alan masih menyangkal ucapan Vriska, ia terus menatap tajam Vriska, hingga membuat wanita itu merasa salah tingkah dan gugup.


"Untuk apa aku berbohong padamu, pergilah Alan.. Aku yakin kau akan mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.."tutur Vriska.


Alan tersenyum miris dan menggeleng kuat "Jika aku maunya dirimu kau mau apa,?"


"Tidak Alan, kau harus pergi.. Kau harus bahagia tapi tidak denganku"sahut Vriska


"Kau menyuruhku untuk bahagia, sementara aku merasa jika aku akan bahagia bersamamu, tapi kau justru menolak dan menghindariku,.. Sudah cukup kau menghindariku selama ini, katakan apa alasannya Vriska. Kau menyembunyikan sesuatu dariku pasti, katakan..."Alan mendekat dan mengguncang Vriska.

__ADS_1


Vriska tercekat kaget tetapi ia masih terdiam diri, "Katakan sesuatu apa yang membuatmu berubah, aku tau kau sedang berbohong, tolong katakan..."teriak Alan dengan air mata menetes, Vriska tercengang kaget saat bulir air mata Alan jatuh mengenai tangannya,


"Alan... kau menangis.."tanya Vriska, Alan terdiam ia tidak tau bagaimana bisa air mata itu jatuh,


"Kenapa kau harus menangis, Alan aku..."ucapan Vriska terpotong kala tiba-tiba Vriska merasakan nyeri pada perutnya, Vriska menahan diri untuk tidak meringis di depan Alan.


"Alan pergilah, aku ingin masuk dan istirahat" Vriska melepas kedua tangan Alan lalu ia melangkahkan kakinya.


"Aku akan tetap berdiri di sini sampai kau mau mengatakan apa yang membuatmu berubah dan kau mau kembali ke sisiku"serunya menghentikan langkah Vriska.


Vriska tidak peduli ia masuk ke dalam ia memegangi perutnya yang terasa nyeri, setelah masuk Vriska tampak menahan perutnya ia meringis kemudian ia masuk ke kamar melewati Mama Lita, Vriska mengambil sebutir obat yang berada dalam tasnya kemudian ia menelannya.


Vriska membuka sedikit gorden kacanya di situ masih tampak Alan yang berdiri tak berubah, bersamaan dengan suara petir menggelegar, sepertinya mau turun hujan, benar tidak lama memang hujan deras turun.


"Dia bodoh atau bagaimana, kenapa ia tidak pergi sudah tau hujan deras begini"seru Vriska.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Suara derap langkah kaki terdengar di telinga Alan, langkah kaki itu semakin dekat membuat Alan menolehkan kepalanya yang tadinya menunduk. Sekali lagi ia harus menelan rasa kecewa ia pikir tadi Vriska ternyata Papa Danu yang datang.


"Alan, ayo masuklah nak, hujannya semakin deras, nanti kau bisa sakit"ajak Papa Danu yang tampak memakai payung.


Alan menggeleng "Tidak om, aku akan tetap di sini sampai Vriska yang keluar "seru Alan


"Tapi nak..."ucapan Papa Danu terpotong


"Masuklah Om, biarkan Alan tetap di sini"perintah Alan.


Papa Danu tidak dapat memaksa Alan, akhirnya ia pun masuk ke dalam.


"Bagaiamana pa...?"tanya Lita setelah suaminya masuk ke dalam.


Papa Danu menggeleng "Dia tidak mau masuk ma sampai Vriska sendiri yang keluar"ucapnya ia menghembuskan nafasnya kasar "Aku bingung kisah cinta mereka begitu rumit,"sambungnya


"Kalau begitu biar Mama yang bicara pada Vriska"ucap Mama Lita.


"Jika kau peduli kenapa kau tak keluar menjemputnya, dan bawalah masuk. Apa kau tidak kasihan hujannya begitu deras, jika ia tetap berada di sana nanti ia sakit."tutur Mama Lita


"Tidak ma..."seru Vriska.


"Sampai kapan kau mau menyiksa diri sendiri Vriska, sudah cukup semuanya, lihatlah Alan dia begitu mencintaimu. Bicaralah baik-baik padanya, jika ia memang mencintaimu ia pasti akan menerima semuanya"sambung Mama Lita.


Vriska menggeleng "Itu juga akan melukainya ma, aku tidak mau menyakitinya. Mama tau bukan apa yang di bilang Dokter, jika aku akan sulit mempunyai anak, aku tidak mau ma Alan menderita"


"Kau fikir dengan sikapmu yang seperti ini Alan tidak menderita, keluarlah dan lihatlah dia bukankah ia jauh lebih menderita saat ini. Sudah Mama katakan jika sulit bukan berarti tidak bisa, jika Tuhan sudah berkehendak kita bisa apa Vriska"tutur Lita lalu ia meninggalkan putrinya keluar.


"*Kenapa putriku begitu keras kepala, siafatnya sama persis dengan papanya"gerutunya.


"tentu saja karena dia anakku"sahut Papa Danu menganggetkan Mama Lita*.


Sementara itu di luar Alan masih berdiri, ia sudah merasa kedinginan badannya menggigil namun Vriska tidak kunjung keluar.


"Apa aku harus mati berdiri, baru ia akan keluar"ucapnya.


20 menit


40 menit


60 menit


Alan masih menatap pintu rumah Vriska yang masih tertutup, kemudia waktu terus berlanjut, puncaknya pada saat Alan sudah merasa tidak kuat menahan rasa dinginnya serta tanganya yang terasa perih akibat luka tadi darahnya sudah merembes keluar. Pandangan Alan kabur bersamaan dengan Vriska yang keluar membawa payung.


"Alan, kau ini..."ucapan Vriska terpotong karena tiba-tiba Alan ambruk tak sadarkan diri.


"Alan, jangan begini ku mohon, kenapa kau melakukan hal bodoh demi wanita seperti diriku, "Vriska menangis tersedu-sedu "Papa .. Mama tolong.."teriak Vriska.

__ADS_1


Tidak lama Mama Lita dan Papa Danu tampak keluar, lalu mereka membantu Vriska membawa Alan masuk.


Alan di baringkan di kamar tamu, setelahnya Papa Danu mengganti baju Alan dengan bajunya. Vriska mengambil kotak P3K ia mulai mengobati tangan Alan .


"Kenapa bisa terluka seperti ini,"Vriska mengobatinya sambil meringis ngilu melihat luka Alan, namun Alan masih beluk sadar.


Setelah selesai Vriska mengambil minyak angin, lalu membalurkannya ke tangan dan kaki Alan serta ia sedikit mengoleskanya pada hidung Alan agar cepat tersadar namun usahanya tidak juga membuahkan hasil.


Vriska mengambil kursi meja riasnya kemudian ia duduk di sebelah ranjang Alan, ia mengamati wajah Alan tanpa sadar ia tersenyum "Tetap saja kau memang tampan, aku akui sangat sulit bagiku membenci ataupun melupakanmu"serunya, lama-lama Vriska ngantuk dan ia tertidur di samping Alan dengan posisi duduk.


Pukul tiga dini hari Alan membuka matanya ia mengedarkan pandangnnya ke langit-langit kamarnya, ia merasa asing di kamarku.


Saat mengangkat tangannya ia meras tangannnya tengah di genggam oleh seseorang, kemudian ia melihat jika Vriska yang menggenggam tangannya sambil tertidur.


Alan tersenyum melihat ke arah Vriska, kini ia sadar bahwa saat ini ia tengah berada di rumah Vriska "Hari ini membuktikan jika sebenarnya kau pun mencintaiku, kau bahkan peduli padaku. Sekalipun seribu kali kau menolak dan menjauhiku, aku tetap akan kembali padamu. Entah apa yang terjadi sebenarnya, bagaimana bisa kau membohongi diri sendiri, aku harus mencari tau .."ucap Alan, kemudian ia melihat Vriska menggeliat dari tidurnya. Alan kembali memejamkan matanya.


Vriska terbangun "Aduh badanku pada sakit ternyata aku tertidur sambil duduk"Ucapnya ia melihat ke arah Alan "Apakah ia belum sadar, kenapa ia betah sekali tidur,"sambungnya .


Vriska bangkit dari duduknya ia berniat untuk keluar dan pergi ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat ada yang menarik tangannya kemudian ia terjatuh.


"Alan..."Vriska menjerit kala ia jatuh ke dalam pelukan Alan, matanya mendelik tajam.


"Alan kau sudah.."ucapan Vriska terhenti saat Alan tiba-tiba .


Cup.. Alan mengecup bibir Vriska, membuat Vriska tecengang dan kaget, kemudian Alan memeluk Vriska dengan erat.


"Alan kau ini main nyosor aja, lepaskan Alan ..."seru Vriska dengan kesal, namun tidal menutupi kemungkina jika sebenarnya ia puna menyukai dan menikmatinya.


"Sebentar saja, tolong diamlah.. aku sangat merindukanmu.. dan aku juga tau kaupun sama.."serunya,


"Kenapa kau PD sekali, lepaskanlah aku bisa kehabisan nafas Alan.."Kata Vriska.


"kenapa jantungmu berdebar begitu keras.."tanya Alan, membuat Vriska merona.


"Tentu saja karena aku kaget.."seru Vriska.


"Oh ya, tapi aku bukan lelaki yang bisa kau bohongi, "ucapnya.


"Alan lepaskanlah..."Vriska masih berusaha melepas pelukan Alan.


"Tidak, memangnya kau mau ke mana.."tanya Alan


"Tentu saja kembali ke kamar,"serunya dengan kesal.


"Tidak boleh tidurlah di sini, di sampingku"ucap Alan membuat mata Vriska membulat sempurna.


"Sembarangan, tidak mau mau itu akan menimbulkan fitnah"Vriska melepas pelukan Alan, akhirnya terlepas juga. Vriksa bangkit dari tubuh Alan.


"Ya sudah jika begitu kita menikah saja besok.."ucapnya tanpa berpikir panjang.


"Tidak mau.."sahut Vriska


"kenapa..?"Alan memicingkan matanya.


"karena aku tidak mencintaimu.."ucap Vriska


Alan menghela nafasnya "terus saja kau bohongi dirimu sendiri terus, tapi aku tidak akan percaya"


Vriska diam dan melanjutkan langkahnya "Vriksa.."panggil Alan, kemudian Vriska menghentikan langkahnya .


"Terimakasih masih peduli, aku tau jika kau pun sama masih mencintaiku, apapun yang terjadi aku tidak akan menyerah.."


"Vriska aku mencintaimu"ucap Alan dengan lembut, membuat jantung Vriska kembali berdebar-debar tanpa sadar pipinya pun merona.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹1900 kata panjang kanπŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


bersambung..


__ADS_2