
Ini sudah seminggu setelah kejadian itu, Brawijaya telah di bawa pulang ke rumah karena kondisinya sudah membaik, itu adalah kabar terbaiknya. Namun tidak dengan perusahaannya yang sedang mengalami penurunan, ternyata Vriska tidak main-main dengan ucapannya, ia benar-benar menjatuhkan perusahan orang tua Alan.
"Kau sendirian Alan.."tanya Dinda membawa baby Davis di dalam stroler.
"Oh ya, kau sendiri.."tanya balik Alan.
Saat ini memang Alan sedang berada di cafe.
"Aku bersama Kak Rava, tapi dia lagi.."
"Mommy maaf lama..."ucapan Rava memotong kata-kata Dinda.
"Tidak masalah.."sahut Dinda.
"Hei Alan, sudah lama tidak bertemu"ucap Rava menyapa Alan.
"iya, kau dan Dinda terlihat bahagia saat ini syukurlah.."ucap Alan
"Daddy aku ingin jalan-jalan sebentar ya, kau temani saja Alan, aku akan menelponmu nanti.."ucap Dinda
"Tapi..."
"Jangan khawatir aku tidak akan jauh-jauh, temanilah Alan barangkali ia ingin bertukar pikiran denganmu"ucap Dinda
"Baiklah hubungi aku jika kau memerlukan aku"ucap Rava dengen lembut,
__ADS_1
Dinda menganggukan kepalanya, setelahnya berlalu meninggalkan Alan dan Rava berdua.
"Aku senang melihat kalian bahagia .."ucap Alan
"Tentu saja setelah banyak hal yang kami lewati . Dan tentunya semua juga tidak luput dari bantuanmu juga Alan.."ucap Rava
"Aku.. aku bahkan tidak membantumu apapun."seru Alan
"Aku lihat kau sedang ada masalah. Ada apa? barangkali aku bisa membantumu"ucap Rava
"Memangnya terlihat jelas ya di wajahku jika aku sedang mempunyai masalah,.."
Rava menganggukan kepalanya. "Ada yang bisa ku bantu,"
Alan pun menceritakan permasalahannya.
"Jika kau memang tidak mencintai Vriska kenapa tidak kau katakan sejak dulu padanya, kenapa harus menunggu selama ini itu sama saja kau memberi harapan padanya bukan"ucap Alan
"Awalnya aku juga sempat menolak Va, tapi saat itu keadaan perusahaan orang tuaku juga sedang kacau, papaku bahkan sampai memohon padaku, bagaimana dulu aku akan meminta bantuanmu apa Dinda sedangkan kalian berdua sedang dalam masalah. Aku fikir seiring berjalannya waktu aku akan bisa mencintainya, tapi ternyata aku tidak bisa Rava."tutur Alan
"Jika begitu bicaralah yang baik-baik dengannya, berilah ia pengertian. Lalu bagaimana kabarnya Disty. Kau telah melibatkan dia dalam hal ini, kasihan sekali... Alan jangan sampai kau melakukan kesalahan yang sama seperti diriku,"ucap Rava
"Aku tidak tau kabarnya seminggu ini aku sibuk mengurusi papa dan perusahaan yang kacau, nomornya tidak aktif, aku tidak tau dia di mana. Papaku tetap bersikekeh untuk aku menikah dengan Vriska, kepalaku rasanya mau pecah,"ucap Alan
ππππ
__ADS_1
"Apa yang ingin kau bicarakan padaku Alan"tanya Vriska setelah ia mendudukan dirinya di kursi depan Alan.
Setelah pembicaraannya tadi dengan Rava, Alan pun memutuskan untuk berbicara pada Vriska.
"Kau tidak ingin memesan makanan"tanya Alan.
"Aku sudah makan. Bagaimana kondisi perusahaan papamu,"tanya Vriska dengan sinis.
"Kacau, kau memang hebat.."celetuk Alan.
Vriska mengerutkan keningnya kenapa Alan tampak tenang "Bagaimana keputusanmu,.."tanya Vriska.
"Sebenarnya aku mengajakmu bertemu untuk meminta maaf, atas apa yang telah terjadi. Aku tidak bisa menikah denganmu aku tidak mencintaimu Vriska,"
"Kenapa? karena kau mencintai gadis itu sampai kau memutuskan pertunangan kita."ucap Vriska.
"Aku tau aku salah harusnya aku membicarakan ini sejak dulu, tapi.."
"Kau jahat Alan.. sangat jahat padaku.. Aku fikir setelah aku menyuruh papa menarik investasinya kau akan kembali padaku, tapi kenapa kau tidak mau kembali padaku"ucap Vriska.
"Ya aku aku memang jahat, untuk itu aku memang tidak pantas mendapatkan wanita baik seperti dirimu, masih banyak pria yang jauh lebih baik untukmu di luar sana."
"Tapi aku mau dirimu.."tegas Vriska setelahnya berlalu pergi meninggalkan Alan.
.
__ADS_1
.
bersambung..