
Pukul sepuluh malam Alan baru tiba di kediamannya, Alan melihat istrinya sudah tertidur lelap. Tidak mau menganggu istirahatnya Alan langsung berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lima belas menit kemudian Alan sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur lengkap, lalu ia merangkak ke tempat tidur merebahkan dirinya di sebelah istrinya.
"Dia memang cantik.."puji Alan saat melihat wajah sang istri yang tengah tertidur lelap, Alan mendekatkan bibirnya pada Vriska ia berniat akn mengecup sedikit bibir sang istri yang terlihat menggoda, setidaknya untuk obat lelahnya hari ini.
Namun saat jaraknya hanya tinggal sekitar lima centi, Vriska menggeliat dan
plakk
Tangan Vriska langsung mengenai wajah Alan,
"Aduh..."rintihnya, ia memegangi pipinya.
"Ganas banget, jangan-jangan dia hanya pura-pura tidur lagi.."serunya
"Sayang.. kau mengerjaiku ya. Sebenarnya kau belum tidur kan. Ayo bangun.."sambung Alan sambil mencolek-colek tangan Vriska.
Vriska kembali menggeliat ia menggerakan badannya mendekat pada Alan, entah mendapat kekuatan dari mana kaki Vriska menendang Alan..
dan brak...
"Aduhhh sakit..."teriak Alan saat pantatnya sudah menyentuh lantai.
Vriska langsung terbangun saat mendengar suara Alan ia mencari sumber suara itu, sayup-sayup ia mendengarnya dari bawah, ekor matanya mulai bergerak sempurna melihat ke arah suaminya yang tengah duduk di lantai sambil meringis.
Dengan polosnya Vriska bertanya, "Hubby, ngapain kau tidur di bawah..?"
Alan mendengkus kesal saat mendengar istrinya bertanya tanpa dosa, berusaha bangun dan mendudukan dirinya di ranjang, "Kau bermimpi apa sih sebenarnya? main pencak silat ya.. ganas banget sampai aku bisa terjatuh"
Vriska mengernyit bingung, "Apa hubungannya dengan mimpiku sih?"seru Vriska, lalu Vriska melihat pipi Alan yang sedikit memar, "Hubby kenapa pipimu memar, siapa yang menamparmu atau kau terjatuh,.. "sambung Vriska membuat Alan menghela nafasnya mengatur segala rasa emosinya,
"ini karena ulahmu.."serunya sambil membaringkan tubuhnya.
"Kok aku sih.."Vriska masih bingung..
" Iya tidurmu seperti orang sedang main pencak silat. Sudahlah jangan di fikirkan ayo tidurlah lagi.."ucap Alan.
Vriska mengangguk, "Apa kau sudah makan.."tanyanya sambil membaringkan dirinya di sebelah Alan lalu memeluknya.
Dengan mata yang sudah terpejam, "sudah.."
Vriska tersenyum sebelum kemudian ia pun mencoba untuk tidur kembali.
πππ
"Hari ini pulang jam berapa...?"tanya Vriska saat sedang memasangkan dasi sang suami.
"Entahlah, pekerjaanku begitu banyak aku tidak bisa janji pulang cepat.."sahut Alan, Vriska langsung cemberut.
"Kenapa? apa kau menginginkan aku pulang cepat.."sambungnya, Vriska hanya menganggukan kepalanya.
Alan tersenyum, "Akan aku usahakan.."ucapnya sambil mencium kening istrinya setelah Vriska selesai memasangkan dasinya, kemudian tangan Alan beralih membelai pipi sang istri.
"Makasih.."Vriska langsung membenamkan dirinya di pelukan sang suami.
Alan mengusap kepala sang istri, "Ada apa hem...? kau jadi manja begini tumben."tanya Alan.
"Sebentar saja, aku ingin begini.."seru Vriska. Entah kenapa berada dalam pelukan sang suami membuat ia merasa nyaman, tadi pagi ia mengalami morning sickness karena tidak ingin membuat suaminya curiga ia buru-buru memuntahkannya di kamar mandi kamar sebelah.
Alan pun demikian seminggu belakangan ini memang ia merasa jarang menghabiskan waktu berdua dengan sang istri, hari ini ia berharap kerjaan yang begitu menumpuk itu akan cepat selesai, ia akan memberi hadiah untuk sang istri tercinta.
"Sudah..?"tanya Alan saat Vriska sudah melepas pelukannya.
Vriska mengangguk, "Aku berangkat ya.."Alan mencium kening sang istri.
Setelah Alan berangkat Vriska bersiap diri untuk memberikan kejutan sang suami, ia akan membuat kue sendiri mempersiapkan makan malam berdua di taman belakang sebelah kolam renang, lalu ia pun akan membungkus hasil USG dan tespack itu membentuk sebuah kado.
__ADS_1
"Sayang bantu mami hari ini ya, jangan rewel jangan buat mami muntah, mami ingin memberi kejutan untuk papimu.."ucap Vriska membelai lembut perut ratanya seolah ia sedang mengajak bicara pada sang anak.
πππ
Waktu berlalu begitu cepat tanpa terasa kini sudah pukul tujuh delapan malam tapi Alan belum juga pulang membuat Vriska mendesah kecewa, sebenarnya bukan salah Alan juga karena Vriska juga tidak memintanya untuk pulang jam berapa, Vriska hanya menyuruhnya untuk pulang cepat.
Vriska sudah sangat cantik dengan gaun berwarna gold yang membingkai tubuhnya, di tambah riasan wajah yang natural, serta hiasan rambut yang senada dengan bajunya.
Sementara Alan yang baru menyelesaikan kerjaannya kemudian ia menutup laptopnya dan membereskannya, lalu Alan melirik alrojinya waktu sudah menunjukan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Alan buru-buru bangkit untuk pulang.
πππ
Kini Alan sudah tiba di rumahnya, begitu masuk keadaan rumah sudah sepi.
'Jika aku dan Vriska mempunyai anak pasti rumah ini akan ramai'batinnya, namun ia buru-buru mengenyahkan pikiran itu.
Alan kembali melangkahkan kakinya menunu kamarnya, namun saat ia sudah berhasil membuka pintu kamarnya ia tidak melihat adanya Vriska di sana.
"Dia tidak ada di kamar, lalu di mana..?" Alan kembali menutup pintu kamarnya dan turun ke bawah. Namun ia mendapati Bi Ningsih masih di rumahnya.
"Lho Bi, kok belum pulang tumben..?"tanya Alan
"Iya Tuan, hari ini Nona Vriska meminta saya untuk pulang sedikit telat Tuan.."
Alan hanya ber oh ria tanpa curiga apapun , "Oh ya Bi apa Bibi lihat istriku.."
"Nona ada di taman belakang sebelah kolam renang Tuan, sejak tadi dia menunggu anda Tuan.."tutur Bi Ningsih .
"Makasih bi..."Alan segera berlalu meninggalkan Bi Ningsih.
ππ
Suara derap langkah kaki yang berbenturan dengan lantai yang terdengar di telinga Vriska wajah semula terlihat sendu kini berubah menjadi berbinar bahagia saat menyadari suaminya sudah pulang, Vriska kemudian mengambil kue ulang tahun yang tadinya ia letakkan di meja setelah ia menyalakan lilinnya yang bertuliskan tiga puluh tahun , Vriska berjalan menuju ke arah pintu.
Happy birthday to you..
Happy birthday to you..
"Sayang memangnya aku ulang tahun ya..?"tanya Alan tanpa dosa.
Vriska menjadi cemberut akan ucapan sang suami bukannya terkejut Alan justru meledeknya, Alan yang menyadari wajah sang istri langsung terkekeh lalu menghela nafasnya, "Maaf sayang, aku bahkan lupa hari ulang tahunku sendiri, terimakasih untuk kejutannya aku sangat terkejut,"
"Ayo hubby tiup lilinnya, aku sudah pegal memegangnya.."seru Vriska.
"Sebentar aku akan berdoa dulu,"Alan langsung menutup matanya dan berdoa setelah selesai ia membuka matanya dan meniupkan lilinnya.
Tidak lupa ia tersenyum dan mencium sang istri.
"Terimakasih istriku yang cantik yang paling ku cintai.."
"Ayo hubby..."Vriska mengajak Alan menuju taman belakang.
Alan melihat takjub akan dekorasi yang Vridka berikan, "Maaf aku tidak bisa memberikan kejutan semewah dirimu saat ulang tahunku,"ucap Vriska dengan sendu.
Vriska meletakkan kuenya di atas meja, "Kata siapa tidak mewah, ini bahkan sangat mewah dan indah, aku begitu takjub melihatnya, terimkasih ya.."Alan kembali memeluk sang istri.
"Aku bahagia.. sangat bahagia.."sambung Alan sambil mencium pucuk kepala sang istri.
"Syukurlah kalau kau senang hubby..."sahut Vriska.
Alan melepas pelukan sang istri, "Oh ya sayang mana kadonya.."
Vriska mengernyitkan dahinya, "Kau tidak ingin makan lebih dulu.."tanya Vriska
Alan menggelengkan kepalanya, "Nanti setelah aku menerima dan membuka kado darimu, entahlah aku begitu penasaran dengan kado yang kau berikan."
"Baiklah..."
__ADS_1
"Hubby lihatlah itu, itu kado untukmu ayo bukalah.."ucap Vriska .
Sementara Alan kaget saat mendapati kado yang Vriska berikan begitu besar, "Sayang apa isinya kenapa begitu besar.."tanya Alan
"ayo bukalah, kau bilang kau penasaran.."
"Oke.."Alan langsung berjalan mengambil kado itu, dan bersiap membukanya, namun anehnya saat Alan membuka bukannya mendapatkan barangnya tapi justru kembali menemukan kotak kado seperti semula begitupun seterusnya hingga pembungkus kado itu sudah berserakan ke mana-mana.
Vriska terkikik geli saat melihat wajah sang suami yang berubah kesal, "Sayang kau mengerjaiku, sebenarnya apa sih isinya, jika memang kadonya kecil untuk apa kau membungkusnya begitu besar, lalu saat ku buka ada lagi ada lagi bungkusnya,"decaknya kesal.
"Tahu begini aku tadi makan lebih dulu.."Alan terus mendumel, sementara Vriska tidak peduli ia tetap menikmati apa yang Alan lakukan baginya menyenangkan.
Alan menghela nafasnya lelah setelah mendapatkan sebuah bungkusan kado yang berbentuk segi empat kecil itu, "Aku harap ini bungkusan yang terakhir.."
"Iya hubby, itu yang terakhir ayo bukalah.."pinta Vriska.
Alan berdiri, "Sebentar, kenapa jantungku berdetak kencang ya..."
Vriska menggelengkan kepalanya tersenyum senang melihat kelakuan sang suami, "Ayo bukalah hubby, setelah itu kita makan aku sudah sangat lapar.."
"Baiklah.."
Alan pun membuka kotak itu, begitu berhasil ia terkejut tangannya terulur untuk mengambil gambar hasil USG dan alat test kehamilan.
Dengan tangan gemetar dan mata berkaca-kaca ia bertanya, "sayang ini maksudnya..?"
"Iya hubby, kau akan menjadi seorang papi."ucap Vriska ia meraba perutnya, "Di dalam sini sedang tumbuh anak kita.."sambungnya.
"Benarkah...?"
"Iya hubby..."ucap Vriska.
Alan langsung bersujud syukur sambil tangannya menggengam erat kedua benda itu ia mengahmpiri sang istri kemudian ia memeluk sang istri tidak lupa ia mencium kening pipi dan bibir sang istri, tangis Alan tumpah sungguh ia merasa sangat bahagia, "Terimakasih, ini hadiah yang sangat istimewa sayang. Aku sungguh sangat bahagia melebihi apapun.."ucapnya sambil terus menciumi wajah sang istri.
Vriska pun ikut menangis terharu, ia tidak menyangka reaksi suaminya akan sesenang dan sebahagia ini.
"Hubby sudahlah berhenti menangis"ucap Vriska melepas pelukan sang suami dan menghapus air matanya.
Alan menganggukan kepalanya, kemudian ia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan perut sang istri lalu ia mencium perut sang istri di balik gaun yang Vriska kenakan, "Terimakasih sudah hadir di tengah-tengah kami. Kami sangat menantikan kehadiranmu,"
"Ayo hubby aku sangat lapar aku bahkan belum makan apapun dari tadi.."ucap Vriska, Alan pun bangkit dari tempatnya..
"Kau tidak boleh seperti itu, mulai sekarang kau harus makan yang teratur dan bergizi, dan kau tidak boleh melakukan kerjaan apapun, aku akan menyuruh Bi Ningsih untuk tinggal di sini saja"ucap Alan
"Tapi hubby aku_.."
"Aku tidak ingin di bantah.."seru Alan
Vriska dan Alan berjalan menuju meja makan yang telah Vriska siapkan, Alan masih tersenyum senang ia masih setia mengamati hasil usg itu rasanya rasa lapar yang sedari tadi ia rasa langsung hilang begitu saja, sementara Vriska menikamati makannya.
"Sayang..."
"Hemm.."sahut Vriska
"Kenapa di sini gambarnya ada dua.."tunjuk Alan pada hasil USG itu.
Vriska menghentikan aktivitas makannya lalu memandang sang suami, "Oh aku lupa, dokter bilang aku mengandung bayi kembar..."seru Vriska.
Alan kembali terkejut, "Benarkah.."
Vriska kembali menganggukan kepalanya, "Ya Tuhan terimakasih sekali, setelah sekian lama kami menanti momongan, hari ini aku engkau mengabulkannya, aku harap kali ini engkau mengijinkan dia untuk lahir ke dunia dan bertemu kami. Aku akan berusaha menjaganya dengan baik"seru Alan , Vriska terharu mendengarnya,
πππ
ππJangan lupa tekan like, komen dan beri hadiahnyaππ readers tercintakuππππ
bersambung..
__ADS_1