Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Love Story Alan_Membuatku pusing


__ADS_3

Pukul sembilan malam Disty baru tiba di rumahnya. Setelah ia tidak bekerja dengan Vriska, ia memang kembali tinggal bersama ibu dan adiknya.


Ia mendudukan dirinya di kursi namun suara teriakan dari kamar mandi membuat ia terkejut.


"Ibu.."seru Disty ketika ia mendengar teriakan itu ia segera berlari ke kamar mandi.


Ia membuka pintu kamar mandi yang berada di dekat dapur, matanya langsung terbelalak kaget melihat ibunya jatuh tak sadarkan diri dengan bersimbah darah di kepalanya.


Disty segera teriak memanggil Dio, tidak lama Dio datang.


"Kak kita harus membawa Ibu ke rumah sakit"ucap Dio dengan cemas


Disty hanya mengangguk, rasa takut menghantui dirinya.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Vriska tengah tertidur dengan lelap, kemudian ponselnya terus berdering. Awalnya tidak menghiraukannya, namun lama-kelamaan ia merasa ternggangu akhirnya pun mengucek matanya mengambil handphone dan mengangkatnya.


Begitu mendengar apa yang di sampaikan oleh penelepon ia terlonjak kaget, lalu menutup telponnya, ia segera beranjak pergi tidak lupa ia mengambil kunci mobilnya serta tas nya.


"Apa yang terjadi,? apapun itu Ibu harus selamat, bagaimana dengan Disty dan Dio, ya Tuhan kasihan sekali mereka, ku mohon selamatkan dia"seru Vriska sambil terus mengendarai mobilnya.


Tidak lama Vriska telah tiba di rumah sakit tempat di mana Ibu nya Disty berada, ia terus berjalan. Vriska tidak sadar jika ia tengah di ikuti oleh seseorang.


Ia mendengar ketika Disty sedang berbicara dengan seorang dokter.


"Nona kondisi Ibu anda kritis, saya sarankan untuk segera di oprasi, jika anda setuju mohon untuk membayar administrasinya dahulu."Ucap Dokter .


"Dokter saya...." ucap Disty terpotong,


"Dokter lakukan yang terbaik untuk pasien, saya yang akan bertanggung jawab"seru Vriska dengan nafas tersengal-sengal,


Disty tampak kaget akan keberadaan Vriska.


"Baiklah Nona.."jawab Dokter


"Vriska kau..."


"Diamlah Disty ini bukan saatnya kau bicara, sekarang berdoalah agar ibumu selamat"kata Vriska setelahnya ia berlalu pergi ke ruang administrasi.


Siapa yang memberi tahu Vriska jika ibuku berada di sini, aku bahkan tidak memberi tahunya, tidak mungkin jika ini hanya sebuah kebetulan, batin Disty


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


Satu jam berlalu namun dokter juga belum selesai melakukan tindakan operasi,


"Vriska terimakasih kau sudah membantu kami, aku minta maaf .."ucap Disty dengan gugup.


Vriska menoleh ke Disty lalu menghela nafasnya, "kenapa harus minta maaf, kau tidak salah apapun padaku. Jangan berterima kasih, aku ikhlas membantumu, kalian semua sudah ku anggap keluargaku bagaimana mungkin aku membiarkan kalian kesusahan"seru Vriska dengan senyum.


"Tapi.. soal Alan.."sahut Disty


Vriska tersenyum kecut "sudahlah lupakan soal itu, biarlah waktu yang menjawab semuanya, jika memang ia mencintaimu aku bisa apa, mungkin kemarin aku terlalu egois"


"Vriska aku yakin jika Alan itu sebenarnya mencintaimu bukan aku"kata Disty


"Hei sudahlah jangan bicarakan soal dia, aku ingin memelukmu saja, rasanya aku sangat merindukanmu,"ucap Vriska lalu menghambur memeluk Disty, air matanya menetes.


Dio yang melihatnya terharu, ia pun merasa bahagia.


"Vriska bagaimana kau tau jika ibuku sedang berada di sini"tanya Disty setelah melepas pelukannya.


Vriska tamlak bingung menjawabnya "Em aku.. itu.. hanya kebetulan.."


Oh ya ampun. Aku harus jawab apa, tidak mungkin bukan jika aku menjawab kalau sebenarnya selama ini aku menyuruh orang untuk terus mengawasi keluarga mereka,batin Vriska


Disty memicingkan matanya "Kebetulan .. ku rasa itu tidak mungkin."


Tanpa sadar interaksi keduanya terus di perhatikan oleh seseorang "Bukankah hubungan mereka terlihat begitu dekat, tanpa sadar jika akulah penyebab kehancuran hubungan mereka"seru Alan sambil menetap keduanya.


Tadi di pertengahan jalan, Alan melihat mobil Vriska melaju dengan cepat untuk itu ia mengikutinya, untuk itu ia melihat semua yang terjadi.


"Mungkin selama ini aku tidak mengenal baik Vriska, atau mugkin aku tidak sepenuhnya membuka mata dan hatiku untuknya, aku bahkan tidak bisa melihat kebaikan yang Vriska buat secuil pun. Ya Tuhan ada apa dengan perasaanku sebenarnya."sambung Alan terus menatap ke arah Disty dan Vriska yang tengah berbicara dengan dokter, sepertinya operasinya telah selesai.


"Syukurlah Ibumu selamat dan baik-baik saja.."ucap Vriska setelah mendengar pernyataan dari dokter.


"Iya Vriska ini semua juga berkat dirimu"sahut Disty


"Aku tidak melakukan apapun, jadi lupakanlah.."sahut Vriska "Disty, Dio aku pulang dulu, kabari aku jika Ibu sudah sadar, aku akan menjenguk kembali besok"sambungnya.


"Terimakasih Vriska.."jawab Disty.


Vriska terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit, namun gerakannya terhenti tiba-tiba ia merasa kram pada kakinya.


Ya Tuhan apalagi ini, kenapa akhir-akhir ini selalu begini, seru Vriska sambil berjongkok memijat kakinya.


"Kau mau pulang.."ucap Alan tiba-tiba di belakang Vriska.

__ADS_1


"Alan.. kau di sini.."ucap Vriska menengok ke arah Alan setelah merasa kakinya baikan.


"Em aku habis menengok teman.. ah iya teman bisnis maksudku"ucap Alan dengan gelagapan.


Meski Vriska terkejut ia tidak berani bertanya lebih "ayo bareng aku juga mau pulang,.."ajak Alan


"tidak Alan aku membawa mobil sendiri"Vriska menolak ajakan Alan.


"Tidak baik seorang wanita mengendarai mobil sendiri di malam hari,"ucap Alan.


Vriska mengerutkan keningnya ada apa dengannya jika dulu aku mengalami hal seperti ini, bukankah ia akan dengan sepenuh hati meninggalkanku, kenapa sekarang ia jadi pemaksa.


"Aku sudah terbiasa sendiri Alan.."seru Vriska


"Tapi kali ini aku memaksa ayo pulang, mobilmu bisa di ambilkan sopirku besok"ucap Alan.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


"Alan.."panggil Vriska


"Ya.."jawab Alan dengan datar.


"Aku fikir tadi kau di rumah sakit itu, untuk menemui Disty.."ucap Vriska


Alan mengerutkan keningnya "Memangnya Disty berada di situ" Alan berpura-pura tidak tau.


Vriska mengangguk "Ibunya habis jatuh dari kamar mandi, tadi juga sudah di operasi, kenapa kau tidak menjenguknya Alan"


"untuk apa.."sahut Alan, Vriska mengerutkan keningnya


"Aku sudah berjanji padanya untuk tidak menemuinya lagi, setidaknya sampai kesempatan yang ku berikan padamu habis"sambungnya..


Vriska mengerti akan penjelasan Alan jika seolah-olah kata-katanya memang di tujukan jika dirinya merupakan penghalang hubungan mereka. "Alan, bagaimana pendapatmu mengenai Disty"


"Ya dia baik, mandiri.."jawab asal Alan.


"Alan temanilah Disty besok, jenguklah ibunya, jangan pikirkan soal waktu yang ku minta darimu, aku sudah tidak masalah dengan semuanya.."jawab Vriska setelah turun dari mobil Alan ia tersenyum lalu berlalu masuk ke rumah.


Kenapa hatiku sakit melihat ia memaksakan senyumannya itu.. ini membuatku pusing.seru Alan


πŸŽ‹πŸŽ‹ Maaf ya baru up, seharian anak rewel, ini saya nulis juga nunggu ia tidurπŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Sorry ya kalau ceritanya ngeboseninπŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


πŸŽ‹Jangan lupa komen, like, vote... terimakasihπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸŽ‹πŸŽ‹


__ADS_2