Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Mabuk


__ADS_3

Pesta pertunangan Alisa dan Alvano berjalan lancar, setelah bertukar cincin, ucapan selamat dari para tamu undangan mereka terima. Begitu pula dengan Dinda, Alan, Rava juga ikut memberi ucapan selamat pada Alisa.


"Selamat ya calon sahabatku, ah senangnya aku bakal punya kakak ipar seperti dirimu."ucap Dinda pada Alisa


"thanks sayang, aku juga senang punya adik ipar crewet seperti dirimu Dinda,"sahut Alisa sambil memeluk Dinda pun Dinda juga membalasnya.


"Selamat buat kakak ku ganteng semoga lancar sampai hari H ya" ucap Dinda pada Alvano


"hem makasih adikku sayang" sahut Alvano


Setelah itu di lanjutkan dengan Alan juga tamu-tamu yang lain. Tidak lupa serta Rava beserta mama dan papanya.


******


Pesta berlangsung meriah namun pikiran Alan masih saja terfikir obrolan Dinda dan Rava yang sempat ia dengar, juga masa lalu yang tiba-tiba muncul kembali menjadi perasaan yang bersalah. Kepingan ingatan-ingatan tentang sumpah serapah Disty padanya teringat jelas, bagaimana ia menyampaikan kemarahan padanya kala itu.


Ia merasa begitu bodoh bagaimana mungkin ia bisa mempermainkan perasaan seorang gadis yang begitu tulus padanya, hanya karna terpengaruh omongan Andra kala itu.


Andai saat itu dia mencoba kembali minta maaf dengan tulus tentu perasaan bersalah ini tidak akan terus menghantui seperti ini. Gara-gara ia Disty sampai menghilang tanpa jejak kabar.


Tepukan pundak menyadarkan Alan dari lamunannya.


"Kau kenapa...? melamun.."tanya Dinda yang sedari tadi melihat Alan begitu gelisah.


"tidak, aku hanya kurang enak badan. Dinda bisakah aku ijin pulang terlebih dahulu. Aku agak pusing, sepertinya aku butuh istirahat."ucap Alan


"Tentu, pulanglah aku akan menunggu keluargaku" sahut Dinda


"thanks sayang, aku pulang dulu." pamit Alan akhirnya.


******


Setelah Alan pergi Dinda memutuskan bergabung dengan teman-teman semasa ia masih kuliah di Jakarta. Rasanya ia begitu rindu dengan teman-temannya itu.

__ADS_1


"Kau semakin cantik saja Din, aku kira tadi Bidadari turun dari pelangi."ucap Davin sambil terkekeh . Langsung mendapat cubitan dari kekasihnya .


"Kau ini, sama siapa aja di gombalin. Jaga bicaramu. Dinda maafkan Davin ya dia memang selalu seperti itu, yah you know lah.." sahut Tari kekasih Davin


"santai aja kali.." tutur Dinda


"Ah Bu Dokter, apa kabar..." tanya Devi salah satu teman Dinda juga.


"baik.. tidak usah pake embel-embel dokter juga kali, " ucap Dinda


Mereka terus berbincang-bincang melepas rindu, sampai tiba-tiba salah satu teman Dinda menawarkan minuman. Dinda pun langsung meminumnya.


"Minuman apa ini, rasanya begitu aneh.Kepalaku begitu pusing." ucap Dinda setelah meminum minuman tersebut.


"Ah ku fikir kau sudah terbiasa minum minuman seperti ini Din,"ucap Devi yang telah memberi minuman kepada Dinda.


"Em aku ingin lagi, bisakah kau mengambilnya lagi untukku" pinta Dinda


"Tidak, nanti kau bisa mabuk" sahut Devi


******


Rava POV


Aku menatap Dinda dari kejauhan, ia tampak akrab dengan Alan sesekali Alan akan merangkul Dinda, entah tiba-tiba ada perasaan sesak tidak terima.


Lalu aku mengerutkan keningku ketika melihat Alan meninggalkan Dinda begitu saja. Tampak Dinda pun melambaikan tangannya.


Aku terus mengamati pergerkan Dinda entahlah kenapa rasanya aku tidak mau melepas penglihatanku ini dari Dinda. Sampai akhirnya aku lihat dia bergabung dengan teman-teman semasa ia kuliah di Jakarta dulu.


Terlihat ia begitu senang bercengkrama melepas rindu pada teman-temannya. Aku memang tau teman-teman Dinda di Jakarta, dulu Dinda sering membawanya main ke rumahnya, kadang kala Dinda pun mengajakku jalam bergabung dengan teman-temannya . Hidupku dulu berwarna. Dinda memang banyak teman tidak sepertiku, maklum aku di didik begitu keras untuk urusan bisnis jadi aku kurang bergaul dengan teman-teman. Aku hanya mempunya beberapa teman saja memang.


Namun semenjak aku mengenal Luna, ku lihat Dinda slalu membatasi pergaulan denganku.

__ADS_1


Lamunanku buyar ketika aku melihat Dinda meneguk secangkir minuman beralkohol tampak ia mengerutkan keningnya, ku yakin ia tidak pernah minum minuman seperti itu. Rasanya aku begitu marah kenapa ia bisa begitu ceroboh bagaimana kalau ia mabuk.


Aku mencoba biasa saja, terus melihat ke arahnya. Masih sama ia malah semakin menjadi minum minuman itu, sampai akhirnya aku melihat ia memegangi kepalanya. Mabukkah? batinku


Temannya berusaha mencegah Dinda namun tetap tidak bisa, dasar keras kepala. Aku hanya menggelengkan kepalaku, sampai akhirnya aku melihat temannya memapah Dinda. Entah keberanian darimana aku pun berjalan mendekatinya.


"Dinda kenapa..?"tanyaku to the point pada Devi salah satu teman Dinda.


"mabuk kak Rava, bisakah kak Rava tolong membantunya, aku harus segera pulang. Sopirku sudah menjemputku."ucap Devi


Aku hanya menganggukan kepalaku tanda menyetujui permintaannya.


Aku merangkul Dinda. Tiba-tiba aku bingung harus membawa Dinda kemana. Ku lihat Om dan Tante Dewi masih sibuk berbincang-bincang dengan tamu-tamunya. Mungkinkah aku harus membawanya ke hadapan mereka, tidak itu akan sangat memalukan.


Mengantar ke rumah Dinda, tidak juga semua keluarga berada di sini. Atau ke apartemenku ? tidak aku tidak mau.


Akhirnya setelah ku pikir-pikir, kebetulan pesta ini di adakan di sebuah hotel aku memutuskan untuk memboking salah satu kamar di sana.


Setelah memesan kamar, aku menerima id card untuk membuka akses pintu hotel tersebut, dengan merangkul Dinda aku agak kesusahan membukanya.


Belum juga selesai membuka, Dinda membuka matanya.


"Kak Rava, aku ....... hoek.. hoek..." ucapnya terhenti lalu muntah di bajuku.


Aku kaget...


"Menjijikan kenapa kau harus muntah.."ucapku


.


.


.

__ADS_1


.


bersambung..


__ADS_2